Seiring waktu yang kita lalui, pengalaman yang telah kita jalani, seringkali pemahaman kita tentang sesuatu mengalami perubahan. Seiring makin terbukanya pemikiran kita, makin banyak tahu, cara pandang kita terhadap hal-hal menjadi berbeda dari sebelumnya.

Mungkin karena itu banyak orang menganggap orang yang lebih tua lebih bijaksana daripada yang lebih muda. Pengalaman meninggalkan jejak dalam sudut pandang yang lebih luas bagi mereka.

Bagiku, inilah makna dari pertambahan usia: Redefinisi.

Redefinisi adalah sebuah kemampuan untuk merumuskan batasan dengan melihatnya dari sudut lain, bukan dari cara yang lazim.

Bagiku bukan hanya lazim bagi banyak orang, namun juga lazim bagi diri masing-masing.

Misalnya dalam memahami hujan. Dulu pemahaman kita mungkin cukup sederhana. Hujan adalah air yang turun dari langit, berasal dari awan yang sudah kelabu. Setelah kita mempelajari ilmu pengetahuan alam di bangku sekolah, barulah kita memahami prosesnya tidak sesederhana itu, melainkan adalah sebuah siklus air yang tidak berputus dari darat, laut, hingga uap air di udara. Mungkin seiring dengan makin seringnya kita memandangi air hujan yang jatuh ke bumi, kita juga memaknai hujan sebagai hal lain. Seperti rezeki dari Allah, sebagai sumber kehidupan.

Mungkin adapula yang memahami hujan sebagai momen untuk duduk di tepi jendela, sambil menghirup bau tanah dan menikmati cuaca dingin yang dibawa bersamanya. Berbeda dengan anak-anak yang memaknai hujan sebagai momen untuk keluar dari rumah dan bermain di jalanan.

Misalnya dalam memaknai terlahir memiliki saudara. Ada kalanya saat masih kanak-kanak kita tidak begitu menyukai saudara karena dengan hadirnya kita harus berbagi banyak hal, mulai dari mainan, makanan, hingga perhatian orang tua. Saat remaja kita tidak terlalu memikirkan hal-hal itu karena masing-masing sudah punya kehidupan yang tidak saling beririsan. Mulailah si saudara menjadi tempat bertukar cerita. Ada saatnya masing-masing memiliki kegemaran yang sama namun tidak lagi saling berebut, melainkan bahagia dalam momen menikmatinya bersama. Sesederhana film, novel, atau lagu kesukaan.

Misalnya lagi dalam memandang kehilangan. Sewaktu kecil kita mungkin menghadapi kehilangan dengan tangisan dan amukan agar segera mendapat penggantinya. Ada saatnya ketika kita sudah dewasa, kita tidak lagi sedih melainkan memahami bahwa tiap ciptaan Allah memang memiliki waktu di dunia. Termasuk sebuah kepemilikan. Termasuk sebuah pertemuan. Ada saatnya kita sudah siap dengan sekedar mengucapkan selamat tinggal, tanpa menanti hal yang sama akan datang kembali.

Ini hanya pemikiran abstrakku dalam menghadapi fase kehidupan yang sudah dipahami sebagai fase “dewasa”, bukan lagi remaja, bukan lagi kanak-kanak. Menjadi dewasa seperti menuntutku untuk dapat menjadi bijaksana. Namun apa sebenarnya arti bijaksana? Apa yang membuat orang-orang menjadi lebih bijaksana dari yang lain?

Aku menyadari bahwa ada kalanya seseorang dapat menjalani upaya redefinisi tentang berbagai hal dalam hidup. Di saat itulah mereka mendewasa. Dapat memperluas cakrawalanya, melampaui batas yang dulu memagari pandangannya.

Semoga seiring dengan kita bertambah umurnya, dengan semakin banyak hal yang dialami dan semakin banyak masalah yang harus dihadapi, pemikiran tidak mengerut. Semoga ketika kita perlu memaknai sesuatu, kita bisa mencoba menarik diri jauh dari masalah itu kemudian melihatnya dalam perspektif yang utuh. Seperti memutar bola 360 derajat. Hingga ditampakkan jalan terbaik untuk menggenapkan yang ganjil, memperbaiki yang rusak, serta mengobati yang sakit.

Lapangnya hati, luasnya pikir, dan tenangnya jiwa.

Bukankah itu yang membuat kita bisa bertahan menghadapi apapun yang digariskan Allah?

Bahkan Rasulullah pun mempunyai doa khusus:

“Ya Allah, jadikanlah aku kaya dengan kebijaksanaan…”
(H.R. Ibn Abi Dunya)

Redefinisi. Semoga kita tidak takut untuk mencoba memahami hal-hal dengan cara yang berbeda. Keluar dari kelaziman… Dan dapat menemukan sudut pandang terbaik. Layaknya kita berupaya menghasilkan gambar terbaik melalui lensa kamera. Karena sudut pandang, hal yang indah menjadi makin indah… Karena sudut pandang, dari sekian banyak hal yang ditampakkan di depan mata, kita dapat menemukan satu hal untuk diabadikan.

Semoga kita tidak takut, apalagi menyerah untuk itu.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *