Sudah hampir penghujung tahun. Dalam perjalanan di atas kereta malam ini aku pikir tepat untuk merajut pengalaman demi pengalaman untuk sebuah hikmah yang akhirnya bisa kupetik.

Dan tahun ini… Aku memilih kata ini:
mensyukuri.
.

Allah berikan aku kesempatan mengawali tahun ini dengan berkarir pascakampus yang sesungguhnya. Aku masih ingat doaku di tahun 2017. Ku mohonkan pada Allah petunjuk… apa yang terbaik untuk kehidupan pasca kelulusanku?

Kebimbangan antara berkarir atau lanjut sekolah.
Dan mencoba meyakinkan hati untuk langsung menetapkan hati berkarir sebagai PNS tanpa mencoba hal2 lain terlebih dahulu.

Singkat cerita… takdir Allah menjawab semua dengan lantang.
.

2018 adalah tahun aku menjalani takdir itu. Menjadi CPNS.

Tidak semua berjalan sesuai ekspektasiku. Tidak semua hal membuatku nyaman. Termasuk kehidupan menjadi anak rantau di Jakarta (dan bayangan akan menua di kota Ibukota). Banyak hal yang membuatku kaget. Banyak hal yang membuatku bertanya, mengapa Allah pilihkan jalan ini?

Seperti apa misalnya?

Seperti ternyata menjadi staf itu membuatku sulit untuk mengatur jadwal keseharianku sendiri. Seringkali tugas datang mendadak. Seringkali aku menolak membuat janji dengan kawan-kawan karena aku sadar bisa saja sewaktu-waktu aku harus menjalankan tugas.

Ternyata pekerjaanku tidak hanya teknis dalam hal pengawasan industri. Ternyata aku juga harus membuat surat dinas, nota dinas, mengurus konsumsi rapat, mengurus pengadaan barang/jasa, dll terkait administrasi… Bisa ku bilang aku sangat tidak ingin mengerjakan hal-hal ini.. Tapi ini amanah. Dan atasan menuntutku untuk bisa belajar. Lulusan sarjana… Mereka berharap kami bisa belajar cepat.
.

Alhamdulillah ada kawan-kawan yang secara rutin menjadi tempat bercerita dan bertukar pandangan. Baik kawan di kantor maupun kawan yang menjalani hari dengan kegiatan yang berbeda.

Seringkali kami saling berkeluh kesah (astaghfirullah, mohon ampun kami jika ini bentuk kufur nikmat padaMu Ya Allah…). Dan kami sering pada akhirnya menarik kesimpulan… Kami harus mensyukuri jalan yang dipilihkan Allah.

Mensyukuri. Kata kerja aktif. Tidak hanya sekedar menjalani takdir itu secara lahiriah. Namun juga menerima secara batiniah. Lantas mensyukurinya baik dalam dzikir (mengucapkan kalimat Tahmid) maupun dalam amal sholeh lainnya.

Mensyukuri itu ternyata sulit jika kita tidak bisa melihat kebaikan yang terkandung dalam sebuah takdir. We can’t see the good things so we be unhappy. Less excited. Less motivated.

Dan ternyata… Bisa melihat kebaikan itu juga nikmat dari Allah. Tidak semua orang bisa. Dan… nikmatnya baru terasa ketika akhirnya kita bisa menemukan hikmah dari setiap momen-momen di keseharian kita, bukan?

Nikmat yang kita sebut bahagia.

Ada kalanya kebaikan itu tersembunyi… Di balik kemalangan yang tidak jadi datang. Di balik rasa sedih yang menemukan pelipurnya. Di balik hidup kita yang semuanya tampak berjalan seperti biasa. Dan di balik hawa nafsu yang membutakan mata kita.

Kadangkala kita acuh tak acuh. Tak berusaha mencari hikmah. Yaudah jalanin aja. Ruh kita tak menemukan makna.

Dan di saat itulah kita kehilangan kesempatan untuk mensyukuri.
.

Di zaman yang sangat mudah mengetahui kehidupan orang lain lewat sosial media ini ternyata membawa dampak penting dalam kesiapan mental generasi muda (generasiku hehehe) dalam menjalani hari kini maupun merencanakan masa depan.

Seperti misalnya aku… Melihat kawan-kawan yang melanjutkan studi ke luar negeri… Duh rasanya itu…

Tapi kembali ku diingatkan oleh kawan-kawan dikantor. “Bersyukur, Meg.”

Saat itulah terasa bahwa mensyukuri itu sebuah kata kerja aktif. Butuh usaha… Butuh niat yang lurus juga… Bahwa… Hidupku matiku hanya untuk Allah benar-benar terbukti. Bahwa motivasi terbesar kita adalah keridhoan Allah. Bukan hanya terpenuhnya hawa nafsu pribadi… ingin hidup begini, ingin hidup begitu.
.

Lantas apa pentingnya menjadi pribadi yang pandai mensyukuri?

Ada dua video di YouTube yang ingin kurekomendasikan untuk ditonton:

1. Ceramah oleh Ustadz Abdul Somad: Di Manakah Letak Bahagia Itu?

2. Tedx Talk: The Secret of Being Mentally Strong

Kedua video di atas menjadi tontonan yang menyegarkan dan teramat berkesan bagiku.
.

Mensyukuri. Butuh kesadaran… Butuh usaha…

Allah telah berfirman… Mensyukuri itu gunanya kembali untuk diri kita…

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Q.S. Luqman:12)

I’timad ala nafsi. Mencukupkan urusan dengan diri sendiri dan hanya bergantung kepada Allah. Berdamai dengan diri sendiri. Memampukan diri untuk menjalani hari.

Seperti Ustadz Abdul Somad utarakan dalam video di atas… Semoga lapang dada kita ini menerima apa yang digariskan Allah. Bisa menerima baru kemudian bisa kita jalani dengan penuh rasa syukur.

Dan selama menjalani takdir Allah, perlu untuk hanya kepada Allah kita menggantungkan harap. Karena ternyata… jika kepada makhlukNya, akan sangat mudah menjadi kecewa.

Bahagia… Damai… Bukankah itu yang kita butuhkan dalam hidup ini?
Termasuk dengan diri sendiri.

Semoga Allah selalu membimbing kita di jalan yang lurus. Semoga Allah tempatkan kita di lingkungan yang selalu mengingatkan kita dalam kebaikan dan kesabaran..
.

P.S. Terima kasih kawan-kawan yang selalu mengingatkanku!

KA Tegal Bahari, 8 Desember 2018

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *