Apakah kamu termasuk orang yang mendoakan orang lain berumur panjang saat mereka berulang tahun?

Atau kamu termasuk orang yang berdoa agar berumur panjang?

Saya sendiri kerapkali berharap kepada Allah agar orang-orang yang saya kasihi untuk berumur panjang.

Waktu dulu masih remaja, saya sendiri berpikir mati muda itu menyenangkan. Saya dulu mendapatkan kesan bahwa orang-orang yang mati muda adalah orang-orang baik. Orang-orang yang dengan cepat telah menyelesaikan misinya di dunia.

Seiring dengan bertambahnya usia saya, saya pun ingin terus menjalani hari. Berharap agar saya diberi kesempatan untuk bertemu esok, satu tahun lagi, dan tahun-tahun berikutnya. Karena cita pun menjadi semakin jauh memandang ke depan.

Minggu pagi, 12 Agustus 2018, saya meniatkan untuk pergi ke Gramedia di siang hari untuk membeli buku agenda. Menyambangi Gramedia tentu tidak cukup hanya mendatangi bagian alat-alat tulis. Saya pun berjalan menuju seksi buku-buku terbaru.

Sebuah buku tipis bersampul biru menarik perhatian saya.

IKIGAI – Rahasia Hidup Bahagia dan Panjang Umur Orang Jepang

Bukan informasi yang baru mengenai angka harapan hidup orang Jepang yang tinggi. Namun istilah “Ikigai” itu  baru bagi saya. Saya pun membaca sinopsis di bagian belakang sampul.

Orang Jepang percaya bahwa setiap manusia memiliki ikigai (alasan untuk hidup) yang membuat mereka bahagia dan selalu semangat menjalani hidup. Dan buku ini merupakan hasil penelitian terhadap rahasia hidup orang Jepang dengan rata-rata usia di atas 100 tahun (centenarian) yang tinggal di Zona Biru. Mereka selalu bangun di pagi hari dengan semangat dan aktif bekerja di bidang yang disukai sampai tua tenapa benar-benar “pensiun”-sebuah kosakata yang tidak akan kita temukan dalam Bahasa Jepang. Tak heran, jika ikigai telah mengantarkan bangsa Jepang masuk dalam deretan manusia dengan rata-rata harapan hidup tertinggi di dunia.

Tak pikir panjang, saya bawa buku ini pulang.

Ada beberapa bagian yang menjadi catatan penting bagi saya:

  • Ikigai adalah sesuatu yang membuat kita bersemangat untuk bangun pagi tiap harinya. Yang membuat kita “lupa waktu” karena kita begitu menikmati ketika melakukannya. Sesuatu yang mendorong kita dan menjadi semangat menjalani hari. Bisa saya artikan dalam artian sempit seperti “passion”. Ikigai ini bisa sangat sederhana, seperti merawat tanaman di kebun dan memasak untuk keluarga. Mungkin kita suatu saat lelah melakukannya, tapi tidak membuat kita kapok lantas berhenti. Seketika saya terbayang Mama yang tidak pernah bosan memasak buat keluarga. Papa saya bukan orang yang suka makan masakan di luar rumah. Walaupun kami pergi berlibur ke suatu tempat, Papa akan lebih suka jika kami membawa bekal saja. Mama pun begitu, lebih senang membawa masakan sendiri. Sepulang kerja, Mama berganti pagian dan langsung ke dapur. Apakah untuk membersihkan ikan atau daging, memotong sayur, atau menyiapkan bumbu untuk masakan nanti malam. Saya pernah bertanya ke Mama kenapa Mama betah di dapur lama-lama padahal dapur kami sempit dan panas karena tidak ada exhaust. “Memang cuma Mama yang bisa betah di dapur kita ini,” begitu ungkapnya. Di sana Mama bisa menjadi Mama dan menikmatinya.
  • Mengalir. Penulis buku ini menjelakan kondisi “mengalir” ini sebagai kondisi saat kita fokus pada tugas konkret tanpa terdistrasi oleh gangguan, saat pikitan kita tertata. Konsep ini juga dikemukakan oleh Csikszentmihalyi dalam bukunya Flow: The Psychology of Optimal Experience, yaitu keadaan saat seseorang begitu tertarik pada suatu aktivitas sehingga tidak ada hal lain yang tak penting. Pesan dari penulis adalah kita harus focus menggunakan waktu untuk kegiatan yang membawa kita pada kondisi “mengalir”, bukan aktivitas yang hanya menawarkan kesenangan sesaat. Ada beberapa strategi untuk mencapai keadaan mengalir.
  1. Lakukan hal yang menantang, tidak terlalu mudah dan tidak pula melampaui kemampuan. Jika terlalu mudah, kita akan gampang merasa bosan. Sedangkan jika terlalu sulit, kita akan mudah merasa gelisah. Saya artikan di sini adalah hal yang menantang itu bukanlah hal yang berada di zona nyaman kita namun kita layak untuk mencobanya karena sesungguhnya ada jalan untuk kita bisa menyelesaikannya.
  2. Punya tujuan yang jelas dan fokus pada proses. Tidak punya tujuan akan membuat kita bingung, buntu. Sedangkan terlalu obsesif dan mengabaikan proses akan membuat kita hanya berangan-angan tanpa melakukan hal yang konkret, lantas menjadi frustasi.
  3. Penulis menyarankan untuk fokus pada satu tugas pada satu waktu, tidak multitasking. Saya cukup merasa “tersinggung” di bagian ini karena saya orang yang cukup bangga akan diri sendiri saat bisa multitasking. Namun, ada benarnya penjabaran si penulis. Kita tidak bisa menikmati dua hal pada satu waktu. Akan ada satu hal yang hanya sembari lewat tanpa kita menikmati atau memperhatikannya. Seperti kita tidak akan bisa menikmati makan sembari membaca buku. Ini bukan keadaan “mengalir”, distraksi membuat fokus kita buyar. Namun, saya sendiri berpikir itu bukan masalah karena saya bukan orang yang “perlu” benar-benar menikmati rasa makanan hahaha
  • Untuk berumur panjang tentu tidak instan atau tanpa ada usaha. Tubuh sebagai titipan dari Allah ini tentu perlu kita jaga. Poin ini yang benar-benar menampar saya. Saya bukan orang terlalu memperhatikan asupan gizi dan kegiatan olahraga. Baru-baru ini saya baru menyadari pentingnya asupan gizi karena pekerjaan saya menuntut fisik yang kuat untuk mobilitas yang tinggi. Ada kebiasaan-kebiasaan centenarian yang perlu kita contoh:
  1. Menjaga kebiasan makan dan diet sehat. Tidak mengonsumsi daging secara berlebihan. Centenarian Jepang mempunyai kebiasaan berkebun dan memakan hasil kebun mereka yang fresh itu. Banyak memakan sayur dan buang sebagai antioksidan. Berry dan jeruk adalah contoh buah dengan antioksidan yang tinggi. Buku ini juga menjelaskan bahwa kebiasaan untuk puasa dua hari tiap minggu bagus untuk kesehatan sistem pencernaan! Masya Allah, ini adalah hikmah ajaran Puasa Senin-Kamis!
  2. Berolahraga secara rutin. Tidak perlu yang berat-berat. Cukup olahraga yang membuat semua bagian dari tubuh kita “bergerak”. Bahkan ada kebiasaan di Jepang untuk mengikuti gerakan sederhana yang dipandu oleh sebuah siaran radio tiap paginya. Gerakan-gerakan layaknya pemanasan sebelum senam ini tampak sederhana namun ini berdampak penting bagi tubuh. Apalagi bagi orang-orang yang aktivitasnya yang cenderung monoton, seperti duduk di kantor.
  3. Sederhananya, jangan remehkan aktivitas fisik sehari-hari. Contohnya menjemur kain (gerakan mengangkat tangan ke atas, karena pada umumnya tangan kita dalam posisi menggantung seperti biasa dalam keseharian). Atau berkebun, ini menjadi aktivitas favorit pagi centenarian yang hidup di Ogimi, Jepang.
  4. Hidup tidak tergesa-gesa. Nikamti hal-hal sederhana. Ada satu kutipan yang menjadi catatan penting bagi saya dari hasil wawancara penulis dengan penduduk Ogimi. “Rahasia untuk hidup panjang adalah tidur lebih awal, bangun pagi-pagi, dan berjalan-jalan. Hidup damai dan nikmati hal-hal kecil. Berkumpul bersama dengan teman. Musim semi, panas, gugur, atau musim dingin, nikmati setiap musim dengan gembira.”
  5. Banyak bergaul dan berkumpul bersama keluarga serta sahabat. Berkomunikasi dengan baik dan sering bersilaturahmi dipercayai sebagai kunci panjang umur. Sesuai dengan hadits Rasulullah bukan? Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendalah ia menyambung silaturahim.” (H.R. Bukhari)

Membaca buku ini membuat saya menyimpan satu pertanyaan di benak saya, “Lantas apa yang membuat Allah menetapkan suatu kaum berumur lebih panjang sehingga bisa hidup lebih lama dari yang lain?

Jawabannya saya dapatkan dari ceramah Khutbah Sholat Idul Adha di Masjid Nurul Ajam, Gedung Manggala Wanabakti pada hari Rabu lalu. Bahwa ibadah tidak hanya berdimensi vertikal tetapi juga harus memperhatikan sisi kemanusiaan, dengan berusaha memberikan yang terbaik untuk umat. Nilai ibadah diantaranya ditentukan oleh nilai kemanfaatan yang besar.

Manusia mempunyai misi sebagai pemakmur bumi, memelihara dan melestarikannya. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya.” (Q.S. Hud:61)

Sebuah kisah disampaikan oleh Imam Al-Fakhrurrozi terkait dalil di atas tentang raja-raja Parsi. Raja-raja Parsi di masa permerintahannya banyak menggali sungai dan menanam pohon sehingga mereka diberi kesempatan hidup yang lama oleh Allah SWT. Seorang dari nabi dari kaum mereka bertanya kepada Allah, “Kenapa Engkau berbuat demikian kepada mereka (memperpanjang usia mereka)?”

Allah menjawab, “Mereka telah menghidupkan bumi-Ku (dengan memakmurkannya) sehingga hamba-hambaKu dapat hidup di atasnya.

Demikian juga dengan sahabat Mu’awiyah, diriwayatkan bahwa mereka banyak menanam pohon di akhir hidupnya. Sebagaimana pepatah orang bisa, “Orang-orang sebelum kita telah banyak menanam untuk kita makan, maka kita juga menanam untuk dimakan oleh orang-orang setelah kita.”

Maka, kebermanfaatan yang dilakukan para centenarian, dengan hobi berkebun, hidup sehat, dan menyambung silaturahim, wajar bukan Allah memberikan umur panjang bagi mereka?

 

 

 

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *