Menurutku, menyampaikan kebenaran kepada yang belum mengetahui bisa kita lakukan seperti menyampaikan kepada anak kecil.

Tidak langsung menyampaikan kebenaran secara utuh, terperinci. Atau menyampaikan setiap detail yang membentuk kebenaran itu sempurna.

Kita bisa coba perlahan. Dimulai dengan penjelasan yang sederhana. Yang menjadi dasarnya. Yang tak sulit untuk dicerna.

.

Seperti: Bagaimana caranya menjelaskan angka genap dan ganjil kepada anak-anak kelas 1 SD? Di sekolah dia belum diajarkan tentang itu.

.

Aku akan mencoba untuk sesederhana mengilustrasikan genap sebagai angka yang “bisa” dibagi dua sedangkan ganjil “tidak bisa”. Diilustrasikan dengan membagi potongan kue. Kalau genap jumlahnya, bisa dibagi untuk dua orang secara adil. Jika ganjil? Tidak bisa.

Namun kita yang sudah benar-bener paham, tahu bahwa yang benar sejatinya bukan begitu.

Ganjil pun bisa dibagi dua.. 3 bisa dibagi 2. Hasilnya 1,5. Tapi itu sulit dipahami di fase awal. Mungkin di fase pembelajaran selanjutnya, baru diajarkan.

.

Begitu pula sistem pendidikan kita mengadopsi cara untuk menyampaikan kebenaran sesuai dengan tingkat pemahaman. Sejatinya yang kita pelajari adalah sekelompok ilmu pengetahun yang sama dari SD hingga perguruan tinggi. Namun hanya semakin kompleks dan semakin memperinci pengetahuan kita akan “kebenaran”.

Tak usah paksakan menyampaikan kebenaran secara utuh pada satu saat. Semua butuh proses. Semua butuh waktu. Tahap demi tahap. Satu pokok ke pokok berikutnya hingga menjadi sempurna.

Waktu itu akan kau ulur lambat atau kau tarik cepat, bukanlah masalah. Kau tahu yang dibutuhkan dan yang terbaik untuknya.

.

Ada banyak kebenaran yang ingin kau ceritakan. Kau ungkapkan. Ingin kau jelaskan pada yang tak mengerti.

Baik itu idemu. Baik itu rasamu. Baik itu hal yang kau saksikan.

Kau berhak bercerita. Kau bahkan terkadang wajib menyampaikannya. Namun, seberapa banyak kebenaran itu akan kau ungkapkan? Seberapa besar yang akan kau bagi pada saat ini? Apakah mereka akan memahami?

Bagaimana mereka bisa memahami?

Begitulah jawabku.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

3 thoughts on “Menyampaikan Kebenaran

  1. Memang benar sekali ega.
    Dalam konteks yang lain, sering juga kita jumpai tradisi yang berbenturan dengan keyakinan berAgama namun ditengah-tengah masyarakat dijadikan sebagai tolak ukur kebenaran. Jika ditanyakan alasannya melakukan hal demikian, alasannya adalah “tradisi nenek moyang”, “dulunyo alah sarupo itu, apo kecek urang kalau indak dilakuan sarupo itu”. Nah seperti itulah jawaban2an yang diterima.

    Jazakillah ega. Sangat membuka wawasan. Apalagi tulisannya mudah diterima.

  2. Bicara soal menyampaikan kebenaran, menurutku sebelum bicara kita harus pastikan dulu bahwa kita diterima sebagai penyampai kebenaran atau apapun sebutannya. Makanya sering kita dengar, “coba kamu aja yang ngomong mungkin dia mau ngerti”.
    Kalau sudah berhasil membuat orang lain tertarik, suka, merasa cocok, setengah pekerjaan selesai. Urusan apa yang disampaikan jadi lebih simpel, kebenaran yang agak berat pun bisa dicerna dengan lebih mudah.
    Intinya kebenaran harus disampaikan sambil teteap memuat orang lain merasa nyaman.

    hehe that’s what I think, nice post!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *