Aku tidak menyangka percakapan dengan kawan-kawan tentang getting job, getting married, settling down… semuanya perlahan mengonsumsi sebagian besar sel di otakku. Aku tidak sepenuhnya sadar sejak kapan aku mulai mengkhawatirkan hari esok yang akan kulalui. Entah sejak kapan mengkhawatirkan langkah yang telah aku ambil dan jalan yang akan aku tempuh di masa depan.

Aku punya cita-cita. Masih punya cita-cita. Aku masih belum sampai di sana.

Waktu kecil pun begitu. Saat dulu masih usia anak-anak, aku pun masih hanya bisa bercita-cita. Bahkan masih sangat jauh dari sana.

Namun, apakah karena dulu masih jauh sehingga aku tidak begitu menakutkannya? Dulu cita-cita itu tampak kecil dari kejauhan seperti bintang. Indah dipandang. Kemudian setelah semakin dewasa, semakin dekat, cita-cita itu pun semakin jelas dan tampak besar… Aku mulai melihat dari padanya yang tak terlihat sebelumnya…

Apakah hanya aku yang begitu? Aku kini melihat konsekuensi dan risiko yang akan kudapatkan setelah mencapai cita-cita yang kuinginkan… Cita-cita itu tidaklah pemberhentianku melainkan gerbang untuk perjalanan panjang. Cita-cita itu bukanlah satu titik tapi ternyata sebuah garis yang terus meliuk. Dan mendapati cita-cita adalah berarti mendapati kemungkinan-kemungkinan lain yang tak terencanakan sebelumnya.


 

Ah, lihatlah sel-sel otakku sudah digerogoti ketakutan.

Maka dari itu aku menulis. Aku ingin bebas dari ketakutan itu. Aku ingin kembali mengingat ketika aku dengan tidak ragu bercerita tentang cita-citaku sambil berharap dunia mengamininya. Aku ingin merasakan kembali semangat yang menggebu untuk menjemput masa depan yang Allah siapkan untukku.

“Kita punya rencana. Allah punya rencana. Dan rencana Allah-lah yang terbaik.”

Seorang ustadz memberikan nasihat itu di suatu pengajian di Masjid Salman ITB Sabtu lalu. Setelah melewati hari-hari yang bak meurai benang kusut, nasihat itu terasa begitu teduh.

Ya, aku lupa… Aku terlalu fokus pada apa yang aku inginkan, cita-cita yang telah aku tanamkan sejak lama di dalam benakku. Namun, aku lupa satu hal penting. Hidup dan matiku adalah untuk Allah.

Yang aku khawatirkan adalah hanya untuk diriku sendiri. Aku takut sedih, aku takut kecewa, aku takut menelan pahit…

Namun, bukan begitu jika aku percaya bahwa rencana Allah yang terbaik bagiku! Dan masalah masa depan bukanlah hanya tentang menjadi apa, namun bisakah aku melakukan apa yang diridhoi-Nya sebagai hamba Allah! Jika memang itu jalan yang ditakdirkan oleh Allah, bukankah berarti di sana terletak ridho-Nya? Dan jika memang bukan di sana jalannya, berarti memang bukan di sanalah ridho Allah berada?

Aku seharusnya mengejar cita-cita yang diridhoi Allah… Terlepas itu ada di dalam hasrat manusiawiku atau tidak.


 

Kewajibanku adalah berusaha. Meniti satu per satu langkah. Membuka satu per satu pintu. Mendayung perahu ini.

Ke mana aku bermuara, Allah yang Kuasa.

Tawakal. Tawakal pun tidak hanya sesederhana menyerahkan hasil kepada Allah ternyata, namun juga siap menghadapi apapun yang dibawa bersama takdir itu. Tidak hanya pasif menerima takdir, namun aktif untuk menyambutnya. Dan ternyata, tawakal itu pun seharusnya tidak sendiri… Namun bersama-sama dengan sabar, ikhlas, dan syukur…


 

Tidak perlu takut bercita-cita. Janganlah ragu saat sedang mengejarnya. Aku seharusnya begitu.

Aku seharusnya telah membulatkan tekad dengan menyelubunginya dengan tawakal, sabar, ikhlas, dan syukur. Aku seharusnya siap dan kuat untuk menghadapi esok hari!

“Growing up is not a problem. Forgetting is.”

-Le Petit Prince (Movie)

Jangan pernah lupakan saat menjadi anak-anak yang dengan percaya diri bercita-cita. Tak memikirkan ketakutan namun hanya menikmati indahnya mempunyai cita-cita. Indahnya mempunyai hal yang dituju. Indahnya berdoa kepada Allah agar sampai di sana.

Ternyata… menjadi dewasa adalah tentang meniti jalan. Tidak hanya tentang seberapa kuat berlari, namun seberapa kuat keyakinan akan sampai pada cita-cita. Tentang memperjuangkan dan menanti waktu mengungkap takdir Allah. Seberapa sabar melewati detik demi detik yang penuh misteri dan percaya bahwa Allah mendengar doa-doa kita.

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

3 thoughts on “Menjadi Dewasa

  1. Terimakasih atas tulisan yang sangat menyadarkan ini.
    Tidak sedikit dari kita mengalami hal ini. Ini benar adanya.

    Semoga tulisan ini dapat memberikan inspirasi banyak orang, dan menjadi catatan pahala. Aamiin.
    Jazakillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *