Hari mulai siang bukan karena ayam berkokok, akan tetapi ayam berkokok karena hari mulai siang. Demikian jugalah keadaan pergerakan rakyat. Pergerakan rakyat timbul bukan karena pemimpin bersuara tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan atau karena ada perasaan dalam hati rakyat yang tidak dapat rakyat mengeluarkannya. Kalau tidak demikian, tidak ada pengikut, tidak akan maju pergerakan.” (Memoir, 1978)

Begitulah ungkapan Bung Hatta saat menanggapi diasingkannya Bung Karno oleh Pemerintah Hindia-Belanda di zaman prakemerdekaan. Kala itu Bung Hatta menekankan bahwa diasingkannya Bung Karno bukan berarti memadamkan pergerakan yang ada. Pergerakan akan tetap hidup.

“Pergerakan rakyat” adalah frasa yang dipilih oleh Bung Hatta untuk menggambarkan persatuan rakyat Indonesia melawan penjajah saat itu. Keinginan rakyat untuk bisa menentukan nasib sendiri dan lepas dari belenggu penjajahan semakin menguat dengan adanya pencerdasan oleh para kelompok intelektual yang giat melakukan propaganda. Pada akhirnya rakyat pun tergerakkan oleh propaganda tersebut dan “memilih” dari golongan intelektual tersebut sebagai pemimpin mereka.

Bagaimana bisa bangsa Indonesia yang tersebar di Jawa, Sumatera, dan pulau-pulau lainnya begitu percaya dengan Bung Karno dan Bung Hatta? Bagaimana bisa mereka mempercayakan urusan proklamasi kemerdekaan kepada mereka?

Bukanlah sebuah skenario atau keangkuhan mereka ingin maju. Namun, terbukti dalam catatan sejarah bahwa rakyat yang memberikan kepercayaan kepada mereka. Bahkan saat perumusan teks proklamasi kemerdekaan, saat Bung Hatta mengusulkan agar tiap kepala yang hadir di rumah Laksamada Maeda malam itu turut menandatanganinya, ternyata malah tidak diinginkan oleh hadirin. Malah usul Soekarni (tokoh pemuda) yang disetujui, “Bukan kita semuanya yang hadir di sini harus menandatangani naskah itu. Cukuplah dua orang saja menandatangani atas nama rakyat Indonesia yaitu Bung Karno dan Bung Hatta.” (Memoir, 1978)


 

Kini, di zaman merdeka…

Kini di zaman merdeka, ketika pergerakan bukan lagi untuk melawan penjajah, bagaimana kini nasibnya?

Pemimpin masih bermunculan di mana-mana, terbentuk di kantong-kantong organisasi masyarakat. Di tiap kelompok kecil pergerakan pun tentu ada “ketua”. Termasuk perkumpulan para pemuda, sebut saja organisasi mahasiswa atau paguyuban kedaerahan.

Namun, ada hal yang berbeda. Aku sendiri mengamati bahwa pemimpin di era modern ini lebih dianggap sebagai koordinator di perkumpulan pemuda zaman kini. Pemimpin yang dikagumi bukan lagi orator yang keras suaranya, melainkan yang mampu mengorganisir gerakan. Pemimpin yang dipilih cenderung berfungsi sebagai koordinator pergerakan yang kerap bergesekan dengan kepentingan pihak eksternal perkumpulan mereka.

Namun, bukankah masih tetap berlaku ungkapan Bung Hatta yang kutip diatas? Bahwa sejatinya: pergerakan timbul bukan karena pemimpin bersuara tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan.


 

Jika memang begitu, bagaimana jadinya jika pemimpin dibungkam di zaman merdeka ini?

Jika memang begitu, bagaimana jadinya jika pemimpin sebuah pergerakan dibungkam di zaman merdeka ini? Saat demokrasi dikoar-koarkan… Saat Pancasila begitu semangat ditegakkan…

Saat dulu Indonesia belumlah menjadi sebuah negara merdeka, Bung Hatta bertutur begini (juga sebagai respon terhadap ditangkapnya Bung Karno seperti yang disebutkan di atas):

“Dan di sinilah bahaya yang kerap kali ditimbulkan oleh satu pemerintah yang otokrat, tidak tahu batas kalau mencegah pergerakan rakyat. Disangkanya langkah pemimpin yang diikat dan mulut pemimpin yang disumbatnya, padahal jalan perasaan rakyat keluar yang disumbatnya. Hasilnya orang mendongkol, perasaan tidak keluar akan tetapi berpenyakit ke dalam. Bahwa keadaan yang seperti itu mudah menimbulkan keadaan yang tidak dikehendaki.” (Memoir, 1978)

Ini baru saja terjadi terhadap beberapa orang pemimpin pergerakan mahasiswa pasca-aksi 3 Tahun Pemerintahakan Jokowi-JK. Lantas, bagaimana respon para kawan mahasiswa sebagai “rakyat” dari pergerakan tersebut?

Jika para mahasiswa (atau bahkan bukan-mahasiswa yang turut simpati dengan pergerakan mahasiswa) turut bergejolak karena tindakan pihak berwajib kepada pemimpin mereka tersebut, terbukti masih berlakulah perkataan Bung Hatta tersebut. Adalah benar bahwa pergerakan yang dilakukan oleh mahasiswa bukan sekedar ucapan-ucapan kosong, namun adalah sebuah sikap yang hendak dikeluarkan, diperjuangkan.

Apalagi jika masyarakat umum yang mendukung! Maka bisa dikatakan bahwa pergerakan mereka adalah pergerakan rakyat!

Namun, jika tidak ada respon apa-apa, apalagi dari kalangan mahasiswa sendiri, patut dipertanyakan, dari dan untuk siapakah pergerakan tersebut? Pemimpin organisasi mahasiswa tersebut memperjuangkan “rakyat” yang mana?


 

Setelah membaca ulang pergerakan merebut kemerdekaan lewat tulisan Bung Hatta di buku karangannya, Memoir,  aku tersadar bahwa karakter pemuda masihlah sama. Bahwa dari dulu pemuda sudah memiliki karakter “mendesak keinginan mereka” dan “melawan”. Namun, sejarah membuktikan pemuda pada akhirnya bisa tunduk pada kebijaksanaan dalam musyawarah bersama. Pada dasarnya, pemuda memang senang bisa berdialog untuk menyampaikan pandangan yang penuh dengan idealismenya.

Maka, menurutku adalah tidak lagi ideal di dalam sebuah negara, apalagi negara yang menganut paham demokrasi, membungkam jalan keluar pandangan para pemudanya. Pemerintah sebaiknya tidak menutup kesempatan untuk berdialog. Nantilah masalah pandangan tersebut diterima atau tidak, namun yang penting yang ingin dikeluarkan itu tidak tersumbat. Jika disumbat, jangan heran bila nanti muncul penyakit layaknya ucapan Bung Hatta yang aku kutip diatas.

Orang yang memilih jalan tengah akan menanggapi isu penangkapan tokoh mahasiswa tersebut dengan ucapan, “Biarlah hukum yang menetapkan mereka bersalah atau tidak.”

Mudah bagi kita untuk memilih jalan tengah tersebut apalagi tidak hadir saat kejadian penangkapan terjadi dan sulit menemukan keberimbangan berita yang beredar. Namun, sebagai bagian dari pemuda yang belum lama menanggalkan status mahasiswa, aku mendukung para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan kampus masing-masing untuk terus memastikan demokrasi di negara ini tidak mati. Bahwa jalan berpendapat harus terbuka dan tidak dibungkam! Bahwa amanat Pancasila harus ditegakkan: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan!

Bahwa untuk kawan-kawan yang arif akan kebenaran, teruslah berjuang! Karena pergerakan tersebut sejatinya harus terus hidup walau langkah pemimpin telah diikat dan mulutnya telah disumbat.


 

Selamat Hari Sumpah Pemuda! Kita sadar bahwa hari ini pun pemuda masih berupaya mengokohkan posisinya di negara yang merdeka.

Semoga negara ini senantiasa dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan demi kedaulatan rakyat.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *