Lepas tiga bulan setelah kelulusan, aku masih beraktivitas di kampus. Aku masih melewati jalan yang sama, menaiki angkot yang sama seperti empat tahun terakhir. Aku masih menyandang ransel yang sama saat masih menyandang status mahasiswa. Masjid Salman dan Gelap Nyawang masih menjadi tujuan untuk beristirahat siang.

Namun, ada hal yang mendasar yang berubah: niatku untuk berangkat ke kampus.

Bangun pagiku bukan lagi untuk mengejar jam masuk kelas. Berangkat ke kampus bukan lagi untuk menuju Gedung TL Lama atau Labtek IX C. Bukan lagi untuk menduduki kursi di kelas.

Saat menyaksikan teman-temanku yang melanjutkan S2 di TL sedang hectic belajar menjelang UTS, aku pun berpikir, “Ah kangen belajar!

Lalu, aku pun berpikir lebih lanjut, “Apa yang aku rindukan dari belajar?

Sebenarnya aku pun masih harus mempelajari hal-hal baru untuk proyek yang sedang kukerjakan. Aku juga masih membaca buku. Apa aku rindu mengerjakan tugas? Hahaha dulu waktu kuliah saja aku seringkali hanya menuntaskannya buru-buru tanpa bisa menikmatinya. Apa aku rindu praktikum? Tidak, tidak sama sekali. Apa aku rindu mengerjakan soal-soal? Well, aku memang suka problem-solving, tapi toh aku pun masih membahas soal-soal persiapan untuk tes kerja.

Lantas apa yang aku rindukan?


 

Siang ini aku makan siang dengan seorang teman yang telah kukenal baik sejak SMA. Dengannya aku memang seringkali bercerita tentang rencana masa depan kami masing-masing. Dia yang baru saja diwisuda minggu lalu berujar, “I kinda miss college.

Aku pun begitu, ujarku. Kami mereka ulang kegiatan selama perkuliahan. Dia bercerita tentang kehidupan di kampusnya yang sebagian besar dilewati di studio (dia mahasiswa Arsitektur). Kami mengingat-ingat banyak hal tentang kampus yang sejatinya masih aku temui sehari-hari selepas lulus. Setelah mengobrol tentang banyak hal, aku akhirnya menyadari satu hal, “Ega kangen kuliah!”

Ya, aku rindu kuliah, literally kuliah. Aku rindu duduk di kelas dan mendengarkan dosen mengajar. Aku rindu mendapatkan wawasan baru dalam 2 jam tatap muka dengan dosen-dosen yang profesional di bidangnya. Aku rindu atmosfer kuliah yang menambah isi otakku. Aku rindu bertemu orang-orang hebat dan belajar dari pengalaman yang mereka ceritakan.

Itu dia. Inilah yang aku rindukan sejatinya. Aku rindu menjadi penyimak. Aku rindu menemui seorang guru.

Barulah aku sadar, sedari dulu kuliah memang momen belajar yang paling aku sukai. Bukan di lab, bukan saat mengerjakan tugas. Aku selalu menyukai kelas.


 

Enam tahun yang lalu, saat aku menjalani karantina sebelum mengikuti pertukaran pelajar, aku mendapatkan kesempatan untuk belajar dari banyak tokoh yang menginspirasi. Salah satunya adalah Anies Baswedan. Saat itu aku mengenalinya sebagai rektor termuda di Indonesia dan inisiator gerakan Indonesia Mengajar . Sangat aku sesali saat sesi Anies Baswedan aku tidak fokus sama sekali karena malah sibuk menahan kantuk karena malamnya kami begadang untuk persiapan penampilan di farewell party. Sampai sekarang, aku menyesal tidak memanfaatkan kesempatan menyimak kisah Beliau secara langsung.

Hal itu seperti jadi cambuk bagiku untuk tidak lagi menyesali terlewatnya kesempatan belajar dari tokoh-tokoh penting dan inspiratif, termasuk dosenku sendiri yang kuyakini mereka adalah gudangnya ilmu di bidang Teknik Lingkungan. Mereka akademisi sekaligus praktisi, sudah sepantasnya aku belajar sebanyak-banyaknya dari mereka.

Namun, setelah direnungi lagi, aku sadar mungkin kesempatan yang kudapatkan selama tiga tahun di program studi Teknik Lingkungan tidaklah semaksimal itu kumanfaatkan. Rasanya masih banyak ilmu yang belum aku gali dari dosen-dosen.

Saat ini aku membantu salah seorang dosen di kelas Pengelolaan Persampahan, mata kuliah wajib yang diambil di Semester 5. Aku sudah pernah mengambil kelas ini. Aku juga sudah sering kali diajar oleh dosen tersebut di berbagai macam kelas. Namun, selama duduk di bagian belakang kelas sebagai asisten dosen, aku terus mendapatkan ilmu-ilmu baru. Ada saja hal baru yang ikut kupelajari.

Saat itu pula aku sadar bahwa seorang dosen pun terus belajar. Ilmu mereka pun terus berkembang. Maka, takkan habis ilmunya untuk terus digali oleh seorang murid.


 

Itulah suasana akademis yang kurindukan. Tidak berhentinya ilmu itu untuk terus berkembang. Takkan ada habisnya ilmu selama kita mencarinya. Akan selalu ada hal baru yang patut kita pelajari.

Itulah yang tersimpan dalam kesempatan yang hanya dimiliki oleh lebih kurang 7% anak Indonesia: untuk berkuliah.

Yang bukan mahasiswa juga bisa membaca buku, juga bisa belajar dari internet, juga bisa berdiskusi dengan sesamanya, tetapi mereka tidak mendapat kesempatan untuk duduk di kelas dan menjadi peserta kuliah.

Sadarkah bahwa kesempatan untuk menghadiri kuliah dosen itu begitu berharga?


 

Tentu setiap mahasiswa membawa motivasi dan misi masing-masing saat masuk perguruan tinggi. Namun, jika aku boleh berpesan kepada kawan-kawan pembaca yang masih atau yang akan menjadi mahasiswa, jangan sia-siakan kesempatanmu untuk duduk menjadi peserta kuliah dosen di kampusmu! Hauslah akan ilmu darinya. Manfaatkan waktu yang terbatas tersebut untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya.

Karena suatu saat, kau takkan punya lagi hak untuk duduk di kelas tersebut. Waktumu terbatas.


 

That’s it. You are the one who likes to learn new things. You like to meet inspiring people!

Ucap temanku saat makan siang tadi. Ya, itulah aku. Dan kini aku sedang rindu untuk bertemu orang-orang hebat dan belajar dari mereka.

Semoga Allah bukakan jalanku untuk menjadi murid yang bangun pagi untuk berkuliah, lagi.


 

Walau tidak lewat jalur kuliah pun, semoga kita senantiasa termasuk orang-orang yang sedang menempuh jalan untuk menuntut ilmu!

”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga.” (H.R. Turmudzi)

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *