“… Kak Hatta  merasa lega menerima surat Yoeke dan dari semulanya juga sudah yakin Yoeke akan sabar dan tahan uji. Tawakkal kepada Tuhan Yang Mahakuasa, itulah kekuatan kita. Mudah-mudahan Meutia telah tenang kembali. Keadaan lingkungan besar pengaruhnya kepada anak kecil, sebab itu usahakanlah supaya di sekitarnya tetap ada cahaya gembira, yang juga akan menyinari jiwanya…”

Kata-kata tersebut dikutip oleh Ibu Rahmi Hatta dalam tulisannya untuk mengenang suami tercinta, Bung Hatta. Bung Hatta menuliskan kata-kata tersebut dalam suratnya yang dikirim dari tanah pengasingan Bangka, 11 Januari 1949.

Tulisan Ibu Rahmi Hatta tersebut hanya satu dari puluhan tulisan yang disunting oleh Meutia Hatta, putri sulung keluarga mereka. Tulisan-tulisan itu kemudian dijadikan sebuah buku dengan judul Bung Hatta Pribadinya dalam Kenangan.

Dari kutipan singkat itu, aku bisa membayangkan sosok Bung Hatta sebagai pejuang bangsa yang:

  • Senantiasa berpikir tenang walau dalam situasi genting. Ketenangannya tersebut tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga agar orang-orang di sekitarnya dalam tenang pula.
  • Beriman dan meresapi keimanan tersebut sehingga senantiasa tawakal kepada Allah atas hal-hal yang Beliau upayakan.

Tentu tidak hanya dua hal tersebut, banyak sekali akhlak mulia Beliau yang patut kita teladani terutama pemuda Indonesia. Perjuangan Bung Hatta agar Indonesia merdeka telah Beliau mulai sejak usia remaja. Setelah menempuh pendidikan tinggi, Beliau memanfaatkan ilmu dan jejaring yang didapatkan untuk memimpin pergerakan meraih kemerdekaan Indonesia. Setelah usia tua, Beliau tetap menghidupkan pergerakan-pergerakan yang telah dirintis. Walaupun Beliau mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden Indonesia pada tahun 1956, hal tersebut tidak serta-merta menghentikan aktivitas Beliau sebagai seorang pahlawan bangsa.

Sampai akhir hayat, Beliau aktif dalam pendidikan sebagai wadah pergerakan yang Beliau sangat yakini merupakan kunci untuk meraih kemerdekan bangsa yang sejati. Hal ini dijelaskan oleh kolega-kolega Beliau yang menjadi kontributor dalam buku ber-genre biografi ini. Tidak hanya mengajar secara formal di institut-institut perguruan tinggi, Bung Hatta bahkan meluangkan waktunya di Kamis sore santai untuk berdiskusi santai dengan mahasiswa. Salah satu mahasiswa yang menjadi saksi hidup adalah Bapak Emil Salim yang turut menjadi kontributor.

“Saya termenung mengenang kembali perteman berkala Kamis sore itu. Perbuatan Bung Hatta untuk berdialog dengan dua puluh mahasiswa itu adalah suatu tindakan demokratis. Secara nyata Beliau sesungguhnya menunjukkan bagaimana menanggapi beda pendapat yang hidup dalam masyarakat. Sering Beliau kutip itu ungkapan Prancis, ‘Dalam perbenturan beda pendapat lahirlah kebenaran-kebenaran baru.'”

-Emil Salim (ahli ekonomi)

 

Keunikan Bung Hatta yang Patut Diteladani

Kesan yang aku dapatkan setelah membaca buku ini adalah bahwa Bung Hatta adalah sosok yang sangat rigid. Pribadinya tidak dapat diubah oleh zaman, berubah karena perbedaan lingkungan, atau tergoyahkan karena adanya tuntutan. Baik itu keluarga, rekan di pergerakan pemuda, kolega di pemerintahan, murid, bahkan dokter-perawat pribadinya, semuanya mendapati Bung Hatta yang “sama”. Hal ini tergambar dari deskripsi mereka tentang Bung Hatta yang tak berbeda, terutama kepribadian unik yang amat berkesan bagi setiap orang yang beruntung telah mengenalnya.

Pertama, Bung Hatta adalah manusia jam. Beliau sangat disiplin masalah waktu. Tidak ada yang berani untuk melanggar kesepakatan waktu dengan Bung Hatta. Bila sudah berjanji pukul 8, bahkan orang-orang mengestimasi 10-15 menit lebih awal agar tidak menyalahi jam Bung Hatta. Tapi, tak ada satu pun yang protes karena mereka semua sadar bahwa hal tersebut adalah karakter yang baik adanya.

Kedua, Bung Hatta tak banyak bicara. Hanya berbicara jika Beliau dimintai pendapatnya. Walaupun sedang ada diskusi dengan topik yang Beliau ahli tentang hal itu, jika tidak dimintai komentarnya, Beliau akan diam saja. Karakter tersebut yang membuat orang menilai Beliau sebagai sosok yang dingin pada awal perkenalan. Beliau adalah demokrat sejati. Jika sudah diambil mufakat dalam sebuah forum, walaupun sesungguhnya Beliau tidak menyetujui, Beliau tidak akan protes dan menjalankan mufakat tersebut.

Ketiga, Bung Hatta adalah pribadi dingin di luar namun berhati hangat. Hal ini yang membuat orang-orang terdekatnya sangat setia dan betah mendampingi keseharian Bung Hatta. Terbukti dengan kesetiaan sekretaris Beliau: Bapak I Wangsa dan Bapak Hutabarat. Terbukti pula dengan hormatnya para murid Beliau kepadanya, seperti Emil Salim (ahli ekonomi, mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup), Willien H. Makaliwe (ahli ekonomi), dan Cosmas D. Blaang (ahli koperasi).

Keempat, Bung Hatta adalah bookworm. Kecintaan Beliau kepada Buku telah diamini oleh setiap orang yang mengenalnya. Perpustakan pribadi Beliau adalah gudang ilmu. Beliau sangat cinta kepada bukunya sehingga agar bukunya tidak rusak, Beliau berusaha untuk membaca buku dengan meletakkannya di atas meja, layaknya potret anak SD yang sedang belajar di kelas, agar sampul bukunya tidak rusak. Oleh karena itu pula, potret pribadi Bung Hatta yang diabadikan oleh fotografer profesional tidak jarang adalah di dalam perpustakaan Beliau dengan buku di dekatnya.

 

Bung Hatta sebagai Penulis

Banyak tokoh yang mengenal nama Bung Hatta pertama kali dari tulisan-tulisannya yang dimuat di koran harian saat era pergerakan perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia. Hal ini diakui oleh Joesi Darik, Pak Diro, N. Abdurrachman, dan masih banyak lagi, lewat tulisan mereka di dalam buku ini.

“Sejak tahun-tahun pertama dalam masa pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, saya sangat gemar membaca tulisan-tulisan dan mendengarkan pidato-pidato Bung Hatta,, terutama mengenai tulisan-tulisannya tentang kehidupan masyarakat. Hampir selalu tulisan-tulisan Beliau memberi kesan yang mendalam, yang berguna untuk mengisi dan membentuk cita-cita bagi semua pelajar muda, terutama mahasiswa Indonesia.”

-N. Abdurrachman (dokter yang merawat Bung Hatta di akhir hayatnya)

Walau Bung Hatta jauh dari tanah air karena menempuh pendidikan tinggi di Rotterdam, Belanda, Beliau mampu menyulut semangat orang-orang di tanah air dengan tulisannya. Tulisan itu pulalah yang membuat orang-orang ingin sekali bertemu langsung dengan Bung Hatta setelah Beliau kembali ke tanah air. Dari situ pulalah kepercayaan terbangun kepada Bung Hatta untuk menjadi proklamator kemerdekaan bersama Bung Karno.

“Bung Hatta termasyur sebagai pemimpin dan tokoh pergerakan nasional, tetapi hampir tidak ada orang yang mengenalnya sebagai wartawan. Padahal, lebih dari 20 tahun lamanya Bung Hatta menjadi wartawan aktif, bahkan memimpin surat kabar dan majalah. Kalau zaman sekarang, Beliau sudah memenuhi syarat-syarat untuk menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia. Tulisan-tulisannya secara teratur tersiar dalam berbagai majalah dan harian: antara lain Jong Sumatra, Indonesia Merdeka, Daulat Ra’jat, Neratja, dan Utusan Indonesia.

Sebagai wartaan Bung Hatta telah berhasil menjalankan misinya dengan cum laude, sebagaimana yang didefinisikan oleh ahli komunikasi massa Wilbur Schramm, bukan sekedar to entertain, bahkan lebih-lebih to inform, to educate, to activate.

-Mohammad Nahar, wartawan

 

Pesan Bung Hatta untuk Para Sarjana

Sebagai seorang sarjana yang masih hijau saat membaca buku ini, kutipan pidato Bung Hatta yang dimuat oleh N. Abdurrachman ini menyentuh hatiku:

“Tamat sekolah tinggi tidak berarti sudah volleerd (terhormat-red). Diploma yang diberikan oleh sekolah tinggi hanya memuat pengakuan, bahwa pemilik diploma itu dianggap cukup syaratnya untuk melakukan studi sendiri dan mengadakan penyelidikan sendiri tentang berbagai masalah di dalam alam atau masyarakat, yang termasuk ke dalam lingkungan ilmu yang dituntutnya. Diploma itu mengandung pengakuan, bahwa si pemiliknya dapat ‘dilepaskan’ ke dalam masyarakat untuk melakukan sesuatu tugas dengan bertanggung jawab. Dan tanggung jawab seorang akademikus adalah intelektual dan moral. Ini terbawa oleh tabiat ilmu itu sendiri, yang ujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran.”

 

Tentunya karena buku ini adalah kumpulan tulisan dari 83 orang, terdapat perbedaan gaya bahasa dari masing-masing penulis. Ada yang dengan rinci menggambarkan Bung Hatta, ada yang singkat saja. Ada yang mengambil dari banyak dari sudut padang Bung Hatta, ada pula yang banyak menceritakan dirinya. Namun, perbedaan gaya penulis itu tidak mengurangi esensi untuk mengenal kepribadian Bung Hatta sebagai manusia biasa. Seperti yang telah kutuliskan sebelumnya, kesan yang ditanamkan Bung Hatta selama hidupnya sama kepada setiap orang yang turut mengabadikan sosoknya sebagai pahlawan bangsa.

Buku ini sangat aku rekomendasikan kepada rekan-rekan yang sedang mencari sosok teladan. Bung Hatta adalah sungguh sosok yang sangat tepat. Tentunya untuk mengenal Bung Hatta lebih baik, membaca langsung pemikiran Beliau dari buku-buku yang Beliau tulis sendiri dapat membantu pula. Sebagai seorang pendidik, Beliau tentu akan sangat bahagia jika ilmu yang telah ia tinggalkan di dunia bermanfaat hingga generasi-generasi berikutnya.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *