Untuk menutup cerita perkuliahan di ITB…


 

Kuliah Terakhir

Ada dua mata kuliah yang masih harus kuambil, yaitu Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) serta Perencanaan dan Pengelolaan Proyek (biasa kami sebut kelas Proyek saja). 3 SKS untuk Amdal dan 2 SKS untuk Proyek. Kedua kelas ini menuntut keterampilan presentasi sebagai tugas besar tiap kelas.

Di kelas Amdal, kami belajar menyusun dokumen-dokumen Amdal, mulai dari Kerangka Acuan (KA), Analisis Dampak Lingkungan (Andal), hingga Rencana Pengelolaan Lingkungan – Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL). Kami belajar prosedur penyusunan dokumen tersebut yang berdasarkan PermenLH No. 16 Tahun 2012 tentang Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup.

Tugas besar kelas Amdal cukup serius sejujurnya, apalagi dosen pengampu kelas sangat memperhatikan detail pengerjaan tugas kami. Lebih dari separuh pertemuan tatap muka dengan dosen digunakan untuk presentasi tugas. Momen ini adalah yang menjadi momen paling menegangkan kalau giliran kelompok kami yang presentasi dan menjadi momen paling membosankan kalau giliran kelompok yang lain.

Katanya… Ibu dosen mempraktikkan situasi real jika sedang presentasi hasil Amdal di hadapan client atau pihak berwenang. Detail. Semua yang tertulis harus punya dasar ilmiah. Penyajian data harus mudah dipahami. Apa-apa disajikan di peta biar tergambarkan. Awalnya hal itu jadi hal yang lalu saja di telingaku sejujurnya. Namun ternyata… setelah ku baca baik-baik peraturan yang ada (bodohnya adalah waktu mendekati UTS), peta memang menjadi salah satu metode penyajian data yang di-state dengan jelas.

Proyek lebih banyak pengajaran dari dosen ketimbang presentasi. Presentasi tugas besar hanya di dua pertemuan terakhir. Dosen kami sangat berpengalaman dalam proyek bidang Teknik Lingkungan, terutama masalah air minum. Beliau seringkali bercerita tentang pengalamannya, bagian ini yang paling menarik bagiku, dibanding penjelasan teori.

Manajemen proyek adalah bagian yang cukup menarik. Walau sedikit memusingkan batasan tegas antara pekerjaan konsultan dan kontraktor. Well, di proyek pemerintah seperti pengadaan air minum, ternyata konsultan pada nyatanya tidak akan sekaligus berperan sebagai kontraktor. Konsultan hanya sampai bagian perencanaan.


 

“Kalo bego, jangan bego-bego banget lah!”

Ada sebagian dari diriku yang menyesal tidak meluangkan lebih banyak waktu untuk serius menyelesaikan tugas besar kelas-kelas yang telah jelaskan sebelumnya. Memang, rasanya tiap sekali presentasi, banyak sekali kekurangan yang bukan karena kami tidak tahu namun kami hanya “memilih” untuk mengabaikannya. Kadang karena memang keterbatasan kemampuan, kadang karena keterbatasan waktu.

Namun, saat rasanya aku dan kawan-kawan sudah benar-benar ready dalam pelaksanaan tugas besar, akhirnya di situlah kesombongan dihukum. Kami pikir kami sudah mengerjakan tugas dengan baik sehingga kami pun memberanikan tampil pertama untuk presentasi. Ternyata… SALAH BESAR!

Proposal proyek yang kami rancang salah konsep. Tujuan dan konten tidak sesuai. Kami katakan kami sebagai konsultan untuk bagian perencanaan, namun malah kami membuat isi RAB berupa keperluan untuk membangun infrastruktur yang kami siapkan. Sampai-sampai dosen kami berujar, “Kalo bego, jangan bego-bego banget lah! Kamu ga merhatiin penjelasan saya di kelas?”

Jleb….. Kami hanya bisa menunduk malu di hadapan kelas.


 

Mengintip Realita Kaderisasi di Hari-Hari Akhir Ngampus

“Bantu yuk, Ga.”

Ah, kata-kata ini menjebak. Di Kantin 27 Cisitu Baru Fadil menceritakan kesempatan yang diajukan padanya untuk menjadi Menteri Sinergisasi Kaderisasi Lembaga.

Aku sudah mengenalnya baik sejak bersama-sama menjadi kader Pers Mahasiswa ITB. Dua tahun sebelumnya, aku yang mengajaknya untuk membantuku di Badan Pengurus Pers Mahasiswa ITB. Sambil berjalan kali itu, dari Sunken Court sampai Campus Center. Seingatku dia tak pernah benar-benar mengatakan iya di hadapanku, namun toh pada akhirnya dia memenuhi ajakanku.

Namun untuk kali itu, aku tidak lagi punya hasrat untuk aktif di kegiatan kemahasiswaan selama semester 8. Tidak ada semangat yang seperti dulu lagi, pikiranku aku ingin fokus mengerjakan TA saja. Apalagi saat itu aku masih kalut oleh ketidakjelasan lokasi penelitian TA.

“Ga akan 24 jam ngerjain TA kan, Ga?”

Ah, aku tentu tidak bisa mengelak dengan pertanyaan itu.

“Jangan berharap banyak ya. Tapi in sya Allah Ega bantu,” akhirnya aku mengiyakan ajakannya satu-dua hari kemudian.

Alhamdulillah ada Ajeng juga di kementerian tersebut, menjadi Wakil Menteri. Ajeng juga telah menjadi kawan akrabku setelah bersama-sama menjadi BP Pers Mahasiswa ITB. Kawan-kawan lain di kementerian itu tidak pernah ku kenali sebelumnya. Di semester akhir itu, aku pun mendapat kenalan baru dan berdiskusi bersama-sama jiwa-jiwa muda yang masih bergairah.

Tidak banyak pengalamanku di bidang kaderisasi. Hanya pengalamanku di HMTL, terutama mengurusi osjur semester tujuh lalu. Banyak hal baru yang aku ketahui selama bergabung di kementerian tersebut. Sebagai kementerian yang memiliki tugas pokok yang bisa disederhanakan untuk “konsultasi kaderisasi”, aku pun jadi turut tahu tentang isu-isu kader di berbagai lembaga di KM ITB.

Satu yang menarik perhatianku adalah situasi kader di kampus kedua ITB, yaitu di Jatinangor. Ada yang sudah settle berhimpun. Ada yang bersemangat membuat himpunan baru. Ada pula yang belum berpikir adalah penting untuk berhimpun karena masih menghadapi kendala akademik yang tidak dialami oleh mahasiswa-mahasiswa yang beraktivitas di kampus utama Ganesa.

Mahasiswa di kampus luar Ganesa tentu berhak mendapatkan fasilitas yang sama, baik untuk kegiatan akademik maupun ekstrakurikuler. Namun tentu tetap berbeda, kegiatan kemahasiswaan masih sangat terpusat di Ganesa. Di Jatinangor mereka tidak mendapatkan pilihan kegiatan sebanyak di Ganesa.

Sayangnya, masalah fasilitas mungkin saja bisa diakali dengan anggaran dana, namun berbeda hal dengan masalah lainnya. Masalah yang kini terpupuk adalah keengganan mahasiswa untuk bersemangat dalam pergerakan mahasiswa. Kalau istilah Fadil, ini karena mereka sedikit terpapar oleh pergerakan mahasiswa, terutama dalam hal diskusi kemahasiswaan.

Aku pun menyoroti masalah ini juga dari sisi Persma (aku sudah tidak bisa melepaskan kebiasaan ini selagi melihat situasi kemahasiswaan). Aku berpikir ada kesalahan Persma juga sebagai corong media pergerakan yang tidak bisa meraih mereka yang di Jatinangor, apalagi nanti akan ada kampus di Cirebon dan Bekasi. Apakah Persma akan mampu memanfaatkan media yang dipunya untuk menjaga semangat pergerakan di tiap kampus?

Hal paling sederhana yang aku pikir harus dilakukan Persma saat ini adalah mengangkat informasi terkait situasi di kampus luar Ganesa dan menyuarakan aspirasi mereka di sana. Mungkin mereka pun butuh corong untuk berbicara kepada massa kampus di Ganesa agar terjalin komunikasi yang baik dan lembaga bisa saling mendukung satu sama lain. Hal ini telah coba kusampaikan kepada Persma.


 

Reaching Stop Point, Then What?

Menuju akhir semester, aku pun terus menyiapkan diri untuk selepas kelulusan. Apa yang akan aku lakukan?

Pindah ke Jakarta.

Itulah rencanaku, untuk segera pindah dan menemukan pekerjaan di Jakarta. Namun, ada beberapa hal yang membuatku berpikir ulang.

Pertama, aku sudah mencoba mendaftar Mespom (bisa dibaca di cerita Semester 6) pada Bulan Februari. Aku coba memenuhi semua persyaratan untuk mendaftar di program kategori Financial Aid (mendapatkan beasiswa dari program tersebut). Pada Bulan Mei, statusku di portal registrasi bertuliskan waiting list. Setelah aku coba meminta penjelasan dari pihak Mespom, ternyata aku belum mendapatkan porsi beasiswa. Kalaupun aku ingin terdaftar pada periode akademik ini, maka aku harus membiayai sekolah sendiri atau mencari beasiswa sendiri dari pihak lain (seperti misalnya LPDP).

Ah, kepala ku pun berputar. Aku bisa mengajukan permohonan penundaan kuliah dulu agar aku bisa mengurus LPDP. Tapi.. LPDP deadlinenya Juli ini. Sedangkan aku belum tahu kapan sidang (saat itu masih Bulan Mei dan aku belum mendaftar sidang). Aku bingung, aku takut kesempatan ini hilang.

Kedua, seorang alumni menemuiku. Aku belum mengenalnya sebelumnya namun Beliau mengenalku dari Kak Husein, mantan Ketua Persma. Singkat cerita Beliau mengajakku untuk mengerjakan proyek rektorat, menyiapkan ITB untuk dinilai pelayanan informasi publiknya oleh Komite Informasi Pusat (KIP). ITB ingin berbenah diri dalam hal pelayanan informasi publik, baik di website maupun pelayanan langsung lewat, salah satunya Information Center. Proyek ini dimulai Bulan Juni dan diperkirakan sampai Oktober.

Aku bimbang. Tawaran ini sangat menarik. Namun, berarti aku harus menetap lebih lama di Bandung? Aku telah sangat siap untuk berganti suasana, batinku.

Kali ini, aku tidak bisa memutuskan sendiri. Pikiranku berputar-putar tanpa arah jika hanya merenungkannya sendiri. Aku telpon keluarga, aku mintai saran dari kawan-kawan. Semuanya menyampaikan hal yang serupa.

Terkait Mespom, “Kenapa Ega terlalu terburu-buru? Selesaikan yang harus diselesaikan dulu Ga. Selesaikan sidang dulu.” Mama terutama, Mama tidak ingin aku terlalu terburu-buru memutuskan Mespom adalah program S2 yang paling cocok untukku. “Ega masih punya waktu untuk berpikir ilmu apa yang perlu ega dalami ke depannya,” begitulah Mama berujar.

Sama halnya dengan Mespom, orang-orang yang kumintai nasihat berpikir serupa terkait tawaran proyek. Mereka menanggapku konyol karena meragukan tawaran tersebut karena dorongan ingin segera berganti suasana dengan pindah ke kota baru. “Di Jakarta Ega ngapain? Nganggur? Lebih stres tahu, Ga!” kata-kata Ajeng ini menikamku. Kawan-kawan dan keluargaku mendukungku untuk mengambil kesempatan tersebut sambil mengusahakan mencari pekerjaan tetap selama di Bandung.

Setelah terus berdoa dan memohon petunjuk dari Allah, dengan mengucap Bismillah aku putuskan untuk tidak mengambil kesempatan Mespom tahun ini. Aku pun bertekad untuk kembali mendaftar tahun depan jika memang belum rezeki ku bekerja di tempat yang aku cita-citakan (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). Dan kuputuskan, aku akan bertahan lebih lama di Bandung untuk mengabdi ke pada kampus terlebih dahulu.

Well, kita hanya punya dua mata dan satu akal. Memiliki lebih banyak mata untuk melihat membuat semua tampak lebih terang dan lebih banyak akal untuk memecahkan masalah membuat semua menjadi lebih mudah.

“…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imran (3): 159)


 

Ah, aku akan merindukan kehidupan di kampus sebagai mahasiswa. Tempatku berbuat salah, tempatku berpikir tentang masa depan, dan tempatku menemui orang-orang untuk saling bertukar pikiran.

Kampus telah menjadi saksi dari banyak pelajaran yang aku alami selama empat tahun. Saksi dari banyak emosi yang aku rasakan selama tumbuh mendewasa.

To study in Bandung Institute of Technology was a very beautiful journey. Starting from getting my parents’ permission to study far from home, pursuing my passions, and enlarging my circle.

I didn’t expect much unless to pursue my dreams as an environmentalist and writer. But Allah has given me much more than just that ambition…

From all the things that I got these past 4 years, I learned a great lesson: TRUST.

I thank everyone who trust me… that I can finish my study.. that I can be what I want to be.. that I can do what you need me to.. that I can be your friend.. that I can listen to your stories.. that I can watch what you want to achieve in this campus.. that I can put your name in my memoir of campus ❤

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *