7 Agustus 2017. Besok tepat Kota Padang berumur 348 tahun. Kota tempat kutumbuh dan dididik.

Hari ini aku mengunjungi sebuah tempat umum. Di perjalanan aku pun tersadar, hari ini tanggal 6 Agustus! Ditambah lagi ketika melewati Gedung DPRD Kota Padang di Jalan Sawahan, berderet karangan bunga yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada kota ini.

Padang, kota panas yang bertepikan laut lepas menuju Samudera Hindia. Kota yang sempat diporak-porandakan oleh gempa bumi tahun 2009 tapi kini telah bangkit kembali. Secara penampilan, kota ini jauh lebih tertata. Ruang publik semakin banyak, yang lama direvitalisasi. Daerah pantai di dekat pusat kota (kami sebut Taplau) telah diperindah dan kios-kios telah ditertibkan.

Tapi… sayang…


 

Ketidak-amanan Berkendara Penduduk Kota

Aku selalu gemes jika melewati jalan di kota. Pemandangan yang lumrah di jalanan kota adalah:

  1. Motor-mobil saling silang-menyilang, tidak teratur menggunakan jalur yang mana
  2. Pengendara motor yang tidak menggunakan helm
  3. Angkutan kota yang tidak mengindahkan rambu-rambu (misal maju terus walau lampu merah, seperti angkot yang aku tumpangi hari ini), yang menaik-turunkan penumpang seenaknya
  4. Pengendara di bawah umur, baik kendaraan pribadi maupun angkutan kota
  5. Membonceng anak-anak tanpa alat pengaman, dan tak jarang membonceng lebih dari satu anak kecil!

Tak jarang aku dengar kecelakaan di kota. Kakakku (seorang dokter) menjadi saksi bahwa kasus kecelakaan di jalan raya cukup sering terjadi dan tak jarang meregang nyawa. Setahun dulu, aku pernah mendengar kejadian kecelakaan di Jalan Raya Indarung: seorang anak meninggal terjatuh dari motor karena dibonceng di belakang ibunya tanpa alat pengaman. Bahkan ibunya tidak sadar anaknya terjatuh!

Mari kita saling mengingatkan satu sama lain di dalam keluarga agar berkendara dengan aman! Jangan biarkan orang tua, saudara, atau anak kita keluar rumah tanpa menggunakan alat pengaman seperti helm dan penggendong bayi/kain ikat bagi yang membonceng anak kecil. Dan… Jangan biarkan anak-anak di bawah umur, yang belum layak mendapatkan kartu SIM untuk mengendarai kendaraan dan bahkan membawanya ke jalan raya. Tidak hanya mengancam keselamatan dirinya, tentu juga mengancam keselamatan orang lain.

Dalam hal angkutan kota, aku sangat berharap pemerintah kota bisa menertibkan setiap armada yang ada. Aku tahu angkutan kota Padang sudah sangat terkenal dan keunikannya yang keren bak mobil Fast & Furious. Tapi apalah arti dari kekerenan itu tapi tidak aman untuk ditumpangi. Pertama, supir tidak jelas identitasnya. Bahkan banyak pengemudi di bawah umur. Ini jelas harus ditindak tegas (aku sadar ini adalah masalah sosial yang kompleks, namun benangnya akan lebih baik bila diurai satu persatu). Kedua, armada harus taat rambu-rambu. Di mana boleh berhenti, di mana tidak. Seringkali angkutan kota di sini melaju seperti raja jalanan. Ambil lajur lawan arah, berbelok di tempat yang dilarang, dan banyak lagi tingkahnya. Ayo lah, pengguna angkutan kota itu banyak anak sekolahan dan ibu-ibu. Seharusnya pemerintah dapat memberikan perhatian lebih besar.


 

Pelayanan Publik yang “Bakato Awak”

Duh, aku tidak ingin sok-sokan tidak mengenal watak urang awak, tapi sungguh pelayanan publik di kota ini cukup membuatku tidak nyaman. Yang perlu aku kritisi adalah sikap para “pelayan masyarakat” (pembaca tahu tentu profesi apa saja yang termasuk) yang seringkali bersikap seenaknya saja, bakato inyo nan bana si.

Aku tidak ingin menyebut institusi-institusi tertentu. Aku paham mungkin secara struktural ataupun manajemen sudah diupayakan perbaikan kinerja maupun birokrasi. Namun, alangkah baiknya Padang bercermin kepada kota-kota yang sudah jauh lebih “maju” dalam pelayanan publik.

Aku sarankan agar para pejabat kota Padang berkunjung ke kota-kota ramah penduduk. Sebagai orang yang sudah bermukim selama empat tahun, aku merekomendasikan Kota Bandung. Sungguh, pelayanan di sana ramah. Baik di ruang publik maupun di perkantoran. Ya tentu tidak ada yang sempurna, namun pemerintah kota melakukan perbaikan yang menyeluruh dan dinilai cukup berhasil terbukti dengan banyaknya penghargaan yang diraih di tingkat nasional maupun internasional.

Ada yang bilang, “Jangan samakan orang Sunda dengan urang awak. Bahasanya saja sudah beda.”

Tidak. Walau urang awak gadang suaro, bukan berarti pantas membentak. Walau urang awak logatnya lebih kasar dari Sunda, bukanlah pembenaran untuk lantas tidak beramah-tamah. Toh kita menganut Kato Nan Ampek, bukan? Andai hidup Kato Nan Ampek, sungguh tenteram rasa hati mengurus segala-sesuatu di kota ini.

Jangan seenaknya, lamak di awak, katuju dek urang. Aku juga mengajak kawan-kawan generasi muda untuk mempraktikkan hal ini karena sudah semakin luntur di ranah kita. Sebagai generasi penerus, kita yang akan memperbaiki yang kurang hari ini, bukan?


 

Bagaimanapun, kota ini adalah tempatku pulang. Walau kampungku yang sebenarnya adalah Bukittinggi, Padang memiliki arti yang dalam bagiku pribadi. Bagaimana tidak? Di sinilah bermukim kenangan masa kecilku hingga remaja. Di sinilah bermukim kawan-kawan sepermainan. Di sinilah bermukim bapak/ibu guru dari TK hingga SMA. Di sinilah bermukim Mama, Papa, Kakak dan Adikku.

Harapanku, semoga kota ini semakin gesit dalam berbenah diri!

“Masyarakat bahu-membahu

Padang berbenah diri

Sejarah tlah menjadikanmu

Kota perjuangan sejati”

  • Dikutip dari Lagu Padang Kota Tercinta

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

2 thoughts on “Yang Di”sayang”kan dari Kota Padang

  1. Tulisan bagus kenapa dak diterbitkan di koran mungkin dalam opini atau dimanakah biar dibaca semua warga kota Padang …. Hebaaat Mega Liani Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *