Lulus ampek tahun yo Nak.

Pesan itulah yang selalu terngiang. Baik Mama maupun Papa adalah orang tua yang membebaskanku untuk beraktivitas apapun di kampus asal berkomitmen untuk lulus tepat 8 semester.

Penutup. Ini adalah epilog dari semua cerita semester perkuliahanku di ITB sebagai mahasiswa program sarjana Teknik Lingkungan.

Sebagai mahasiswa tahun akhir, tentu tujuan utamaku di semester 8 ini adalah lulus sidang sarjana. Proses menyelesaikan Tugas Akhir (TA) sungguh sangat adventurous. Dari proses awal memilih topik, lalu kemudian harus berganti topik, lalu mencari lokasi penelitian, sampai akhirnya menyelesaikan analisis.

Tiap orang menempuh lika-liku yang berbeda. Tantangan yang dihadapi tiap orang berbeda-beda. Dan inilah ceritaku.


 

Marah, Namun Harus Segera Mengubah Arah

Semester 7 aku mendapat inspirasi untuk menyusun TA dengan topik Limbah B3, lebih tepatnya penelitian tentang timbulan sampah elektronik (e-waste), yaitu kartu elektronik. Mengapa aku memilih studi tentang timbulan sampah? Karena aktivitas penelitiannya berupa kunjungan ke lapangan untuk sampling. Seharusnya minim kegiatan di laboratorium yang tidak terlalu kusukai. Aku pun telah menemui seorang dosen ahli persampahan untuk menanyakan kesediaan Beliau membimbingku. Beliau pun menyetujui di pertemuan pertama kami.

Tiba-tiba menjelang akhir semester, program studiku menetapkan semua tugas akhir harus menghasilkan desain instalasi atau unit pengolahan/pengelolaan lingkungan. Aku sangat kecewa dengan keputusan tersebut yang diambil secara sepihak, mengabaikan progres uraian garis besar penelitian yang telah kami upayakan. Topik semula yang aku pilih tidak pas untuk ketentuan tersebut.

Marah. Jelas. Pada hari diumumkan keputusan tersebut, aku kalut karena tidak menyiapkan alternatif penelitian TA. Entah karena feeling orang tua yang kuat, Mama meneleponku pada sore harinya. Pikiran yang kacau membuatku tak tahan untuk menangis sambil bercerita kepada Mama. Mama pun menenangkanku.

“Ega harus berpikir tenang. Pasti ada jalan lain. Semua orang kan harus melakukan hal yang sama. Berarti Ega juga harus bisa. Tenang dulu,” begitulah kira-kira cara Mama menenangkanku.

Aku pun membutuhkan beberapa hari untuk berpikir tenang. Aku coret-coret buku agendaku. Aku tuliskan semua alternatif yang memungkinkan dan yang aku sukai. Aku masih berusaha bertahan pada topik Limbah Padat. Beberapa alternatif tersebut di antaranya adalah desain TPA dan insinerator. Setelah berdiskusi dengan dosen yang ahli dalam mendesain TPA, aku mendapatkan masukan bahwa mendesain atau meredesain TPA membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan penelitiannya. Aku pun menjadi keberatan karena harus menyelesaikan tugas akhir di semester 8.

Pada akhirnya, mendesain insinerator (alat bakar sampah) adalah hal yang paling memungkinkan. Aku pun sudah memiliki dasar ilmunya dari kelas Desain Teknik Lingkungan II. Namun, jika insinerator limbah domestik, aku tidak ingin. Masih banyak pro-kontra tentang aplikasi insinerator limbah domestik di Indonesia. Aku pun kemudian menemukan bahwa praktik insinerasi lazim digunakan untuk limbah medis rumah sakit yang tergolong limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Pada satu titik, aku segera memutuskan untuk mendesain insinerator limbah medis rumah sakit.

Pihak program studi dalam hal ini memberikan keringanan kepada kami dengan tidak mewajibkan kami membuat uraian garis besar (UGB), yaitu dokumen yang menjelaskan topik yang kami pilih. Kami bisa langsung membuat proposal pengerjaan Tugas Akhir. Namun, aku tetap berkonsultasi dengan dosen penanggung jawab Tugas Akhir tentang topik yang kupilih ini. Beliau pun mengatakan bahwa yang terpenting adalah menemukan lokasi studi yang tepat, salah satu indikatornya adalah memiliki lahan kosong untuk lokasi fasilitas insinerator.


 

Melamar Rumah Sakit

Di depan Rumah Sakit Al Islam, lokasi studi TA

 

PR selanjutnya bagiku adalah mencari lokasi studi. Sempat terpikir dua alternatif: rumah sakit di Bandung dan di Sumatera Barat. Sambil mengobservasi rumah sakit di Bandung, aku meminta tolong Kak Lani (kakak kandungku yang berprofesi sebagai dokter) untuk mencarikan rumah sakit yang belum mempunyai insinerator di Sumatera Barat.

Menjelang akhir semester 7, aku mendatangi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dan Rumah Sakit Advent. Ternyata di RSHS tidak memiliki lahan kosong lagi. Kompleks rumah sakit itu sudah sangat padat. Lain hal dengan Advent, dari keterangan resepsionis yang aku wawancarai, terdapat lahan kosong di bagian belakang rumah sakit, Jadilah aku memilih Advent sebagai lokasi penelitian.

Dengan penuh semangat, aku pun menyusun proposal pengerjaan Tugas Akhir untuk diajukan ke Tata Usaha (TU) dan ke pihak Advent. Proposal yang diajukan ke TU penting agar diterbitkannya surat pengantar penelitian TA ke pihak rumah sakit. Dengan itu pula, aku pun mendapatkan pembimbing yang ditentukan oleh tim TA. Alhamdulillah, aku pun tetap dibimbing oleh Bu Emenda Sembiring, dosen yang sebelumnya sudah menyetujui untuk membimbingku dengan topik e-waste.

Aku pun melanjutkan urusan per-TA-an ini setelah libur semester 7. Segera aku kembali ke Bandung untuk menyelesaikan urusan dengan pihak Advent. Aku masukkan proposal ke Rumah Sakit Advent dengan surat pengantar dari TU.

Salahku memang di bagian ini. Bahwa pada sebelumnya aku tidak bisa memasukkan proposal ke pihak Advent karena belum ada surat pengantar. Baru pada akhir Januari proposalku di-review oleh bagian sanitasi rumah sakit. Ternyata, setelah dikaji oleh mereka, penelitian yang aku ajukan tidak sedang dibutuhkan oleh rumah sakit karena mereka sudah puas dengan pengolahan limbah medis yang diberikan ke pihak ketiga (perusahaan swasta yang menangani insinerasi limbah medis).

Saat itu adalah titik down-ku yang kedua. Walau aku sudah mencoba me-lobby pihak rumah sakit tersebut, aku tetap dikembalikan ke titik bahwa mereka tidak membutuhkan penelitianku. Sudah aku jelaskan bahwa penelitian ini tidak harus diimplementasikan di rumah sakit lokasi penelitian, namun mereka mempunyai alasan yang cukup kuat.

Ketika aku ceritakan kepada dosen pembimbing, menurut Beliau wajar bila pihak rumah sakit keberatan karena datanya sangat penting dan penelitian akan limbah medis memiliki risiko tinggi. Saat itu, aku sampaikan alternatif keduaku yaitu rumah sakit di Sumatera Barat. Beliau pun mengernyitkan dahi, “Jangan dong. Kejauhan, nanti kamu susah penelitiannya.”

Aku pun kembali berkonsultasi dengan keluarga. Mama memberi saran agar lebih baik bagiku untuk penelitian di Bandung saja, agar bila ada kendala, tidak sulit bolak-balik lokasi.

Oleh karena itu, kembali aku memantapkan hati “melamar” rumah sakit di Bandung.

Rumah Sakit Al Islam, Rumah Sakit Pusat Mata Cicendo, Rumah Sakit Salamun, Rumah Sakit Pusat Paru-Paru Rotinhulu.

Semua rumah sakit itu ternyata mengirimkan limbahnya ke pihak ketiga. Cicendo menolakku atas “beberapa pertimbangan”. Salamun tidak mau lagi menggunakan insinerator di lingkungan rumah sakit. Sedangkan Rotinhulu tidak lagi aku urus karena Alhamdulillah Rumah Sakit Al Islam memberikan respon positif. Alhamdulillah, pada akhir Februari, lamaranku pun berbuah hasil yang manis.


 

Rasa Was-Was Merasa Ketinggalan

Kawan-kawan yang mengambil topik TA Limbah Padat dan B3 saat Pameran TA bersama Bu Emenda (pembimbingku)

 

Aku baru memulai penelitian pada saat minggu Ujian Tengah Semester (UTS), pada minggu kedua Maret. Saat itu, banyak kawan-kawanku yang sudah selesai mengumpulkan data. Banyak yang sudah memulai penelitian di laboratorim. Aku pun merasa was-was karena berpikir telah ketinggalan.

Setiap ada yang bertanya tentang bagaimana progres TA-ku, yang aku bisa sampaikan adalah meminta doa kepada mereka semua. Aku pun menyusun timeline agar aku bisa mengejar target untuk seminar (pada akhirnya menjadi pameran desain; tahap sebelum sidang sarjana) pada Bulan Mei. Bu Emenda pun berpesan padaku, “Jangan lama-lama penelitiannya, kamu harus udah mulai gambar segera.”

Aku diharuskan Bu Emenda untuk melakukan sampling selama 8 hari berturut-turut. Segera setelah itu aku lakukan uji laboratorium terhadap sample limbah tersebut, lebih kurang selama 2 minggu kerja. Bu Emenda memberikan keringanan terhadap uji yang harus aku lakukan sehingga aku bisa menghemat waktu.

Alhamdulillah, selama Januari-Februari sebelumnya, saat aku masih luntang-lantung mencari rumah sakit, aku telah menyelesaikan bab-bab awal, seperti pendahuluan, metode penelitian, dan teori dasar.

Aku terus berdoa kepada Allah akan dibukakan jalan yang memudahkanku untuk dapat wisuda Juli ini. “Hamba tidak ingin mengecewakan kedua orang tua,” selalu aku mengadu kepada Allah.

Tentu Allah adalah sutradara terbaik, bukan? Tidak mungkin Allah tidak mendengar doa-doa yang telah kita ungkapkan. Hanya kepada Allah kita serahkan segalanya setelah kita sudah melakukan ikhtiar. Allah Maha Pemurah, bukan? 🙂 Tidak akan Allah membiarkan kita dalam kesusahan tanpa ada jalan keluar! Allah telah menetapkan hal pada waktu yang terbaik!

Suatu saat, pada satu titik lelah, seorang sahabat menunjukkan ayat ini kepadaku, yang bercerita tentang Doa Nabi Zakaria saat meminta keturunan kepada Allah. Penggalan dari ayat tersebut berbunyi:

…dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.”
(Q.S. Maryam:4)

Sungguh, Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya!


 

Ingin Cepat, Maka Benar-Benar Diminta Ngebut

Selama dua minggu awal April aku pun menyelesaikan perhitungan desain. Aku harus mendesain unit insinerator, alat pengendali pencemaran udara berupa wet scrubber, dan alat pendukung lainnya seperti heat exchanger. Ketika bimbingan perhitungan, kira-kira tengah bulan April, tiba-tiba pembimbingku memberi kabar bahwa minggu depannya Beliau akan ke luar negeri selama lebih dari dua minggu.

Seketika aku panik karena aku harus memasukkan syarat-syarat untuk mengikuti pameran. Beliau pun dengan santai bilang, “Yasudah, kamu ke sini lagi hari Jumat.” Dan saat itu adalah hari RABU!

Dua hari aku begadang untuk menyelesaikan gambar teknik dua dimensi agar bisa disetujui Beliau untuk maju ke tahap pameran. Beruntung ada kawan-kawan yang dengan baik hati menemaniku begadang, terutama meladeniku saat kepanikan melanda. Terima kasih juga untuk D’Cubes! haha

Hikmahnya memang, aku pun benar-benar dikebut agar bisa menyelesai TA tepat waktu.


 

Tanya Sana-Sini, Minta Tolong Sana-Sini

Bersyukurlah aku mempunyai teman-teman cerdas dan baik hati. Untuk menyelesaikan TA ini aku harus berkonsultasi dengan banyak orang karena membutuhkan ilmu bidang lain. Untuk mendalami proses fluida insinerator, aku belajar kepada teman dari jurusan Aeronotika dan Astronotika/Teknik Penerbangan. Untuk mengerjakan gambar tiga dimensi, aku meminta tolong kepada teman dari jurusan Teknik Mesin. Untuk bagian pondasi, aku bertanya kepada teman-teman Teknik Sipil. Untuk proses pengolahan, aku berkonsultasi dengan teman dari Kimia. Untuk analisis ekonomi, aku bertanya kepada teman dari Manajemen Rekayasa Industri.

Belum lagi pertanyaan-pertanyaan random yang aku lontarkan kepada kawan-kawan dekat. Terutama Palupi, kawan Teknik Lingkungan yang mengerjakan TA tentang pengolahan pencemar udara sehingga aku banyak belajar darinya.

Selama proses inilah aku belajar banyak hal baru. Tidak hanya pengetahun baru, namun juga belajar untuk “meminta bantuan” dari kawan-kawan. Dalam hal belajar, aku tipe pembelajar yang senang mengerjakan hal-hal sendiri, suka belajar sendiri. Jika ujian datang, aku lebih suka belajar sendiri di kosan dibanding belajar kelompok. Begitu pula dalam hal mengerjakan tugas. Namun, dalam proses pengerjaan TA aku tidak bisa lagi hanya mengurung diri di kamar. Aku harus keluar dan belajar bersama kawan-kawan. Aku bersyukur kawan-kawanku baik hati dan mau meluangkan waktunya untukku.

Terima kasih kawan-kawanku! Jazakumullahu khairan. I made it because of you!


 

Adaptive

Jangan pernah meremehkan kemampuan mampu beradaptasi yang diberikan oleh Allah kepada kita sebagai makhluk hidup!

Itulah pembelajaran penting bagiku selama satu semester ke belakang.

Seringkali kita lupa atas karunia Allah tersebut sehingga kita mudah mengeluh ketika kesulitan datang.

Selama satu semester ke belakang, banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan rencanaku. Aku harus mengerjakan hal-hal yang tidak aku sukai atau hal-hal yang aku tidak terbiasa dengannya. Namun, jika aku hanya terus mencari jalan “kabur”, kapan aku bisa sampai ke garis finish?

Adaptive to the situation.

Seringkali kita hanya perlu menerima apa takdir Allah. Melarikan diri bukan solusi. Merasa bahwa ini adalah takdir yang buruk bukanlah solusi.

Solusinya adalah menerima dengan ikhlas.

Berat. Berat sekali, Baru aku rasakan kemarin. Namun manis perjuangan memang setelah perjuangan itu selesai.

Aku bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang terus mendukungku. They always encourage me that I can pass through every difficulty. My family and friends are always there for me. I can always return to them so I have courage to finish what I start.

Dukungan orang-orang yang membuatku bisa beradaptasi cepat dengan situasi yang harus aku hadapi. I keep telling myself, “I can”. But it’s never as loud as their “You can”. I keep struggling and saying, “I’ll get through this.” But it’s never as strong as their “You’ll get through this.”

Never underestimate your little kind words to somebody. Those little words can light up one’s day.


 

Kini, banyak rumah sakit di daerah yang belum memiliki fasilitas pengolahan padahal tidak terdapat pula perusahaan pengolah limbah medis di kawasan tersebut, tidak seperti di kawasan Jakarta atau Bandung. Terdapat juga banyak kasus tidak beroperasinya insinerator limbah medis sebagaimana mestinnya sehingga menimbulkan pencemaran udara. Semoga ke depannya, baik pemerintah maupun pihak pengelola rumah sakit, dapat menerapkan teknologi tepat guna untuk mengurangi risiko dari kontaminasi limbah medis terhadap lingkungan. Saya tentu berharap TA yang saya kerjakan dapat bermanfaat ke depannya, terutama untuk pengembangan pengolahan limbah medis, walau masih terdapat banyak kekurangan dalam pengerjaannya.

Pada akhirnya, judul TA saya adalah Perancangan Insinerator Limbah Medis RS Al Islam Bandung. Bila membutuhkan, bisa menghubungi saya untuk mendapatkan soft copy atau bisa mengunjungi Perpustakaan Teknik Lingkungan ITB untuk hard copy.

 

Bersambung

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *