[Introducing Indonesia]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

 

International Education Week adalah agenda bagi kami YES exchange student untuk memperkenalkan negara dan bangsa kami kepada host community kami. Tahun 2011, International Education Week ditetapkan pada minggu ketiga November.

Hari Rabu aku mendapatkan kesempatan untuk mengadakan presentasi di kelas International Relation. Mr. Deose memberikan waktu kepadaku lima puluh menit untuk mempresentasikan mengenai Indonesia kepada teman-teman semua.

Di hari yang istimewa itu aku memakai tangkuluak tanduak, hiasan kepala khas Minang selain suntiang. Aku memilih tangkuluak tanduak karena jauh lebih mudah membawanya dari Indonesia dibanding suntiang. Aku tidak menggunakan pakaian adat, hanya menggunakan sweater dan celana panjang berwarna hitam. Kerudung merah menjadi pilihanku agar match dengan tangkuluak tanduak yang didominasi warna merah dan emas. Selain itu, aku tambahkan kain samping yang menutupi bagian pinggang hingga lututku.

Bismillah, aku berdoa agar lidahku dilunakkan oleh Allah agar pembicaraanku bisa dimengerti oleh teman-teman yang hadir.

Rabish shrahli sadri wa yassirli amri wah’lul ukda taminli sani yafkahu qouli. Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkan urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dalam lidahku.

Aku menyiapkan 61 slides untuk presentasi kali itu. Aku mulai dengan memperkenalkan diriku sebagai seorang pelajar dari SMAN 1 Padang, Indonesia. Kemudian aku ceritakan program YES dan organisas AFS yang mengurus penempatanku di Amerika Serikat.

Pokok pembicaraanku selama presentasi adalah Indonesia dan keberagamanannya, baik manusia maupun bentang alamnya. Cerita tentang sekolah di Indonesia menjadi bagian yang paling menarik bagi teman-temanku. Aku juga tentunya menceritakan bagaimana aku hidup sebagai Muslim di Indonesia dan menjalani kehidupan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Selain di kelas Mr. Deose, aku juga sempat mempresentasikan Indonesia di gereja liaison[1]-ku. Namanya Nicole, berprofesi sebagai seorang pastur di Zwingli Church. Nicole mengajakku untuk berbicara di depan sekelompok masyarakat yang sudah berusia lima puluh tahun ke atas.

Ini tantangan tersendiri bagiku karena aku tidak menyangka akan menghadapi pendengar yang “cukup tua”. Dengan slides yang sama dengan yang aku presentasikan di kelas International Relation, aku berusaha mengemasnya lebih mendalam mengenai Indonesia. Aku tidak banyak menceritakan tentang kegiatan sekolah, melainkan tentang kehidupan bernegara dan beragama di Indonesia.

Alhamdulillah, presentasi yang aku lakukan di dua tempat itu berjalan lancar dan mendapatkan respon yang baik. Indonesia sebelumnya bukan merupakan sesuatu yang begitu familiar bagi mereka. Begitu pula Islam, mereka tertarik mengetahui bagaimana Muslim beribadah dan apa maksudnya.

Awalnya, aku bersiap untuk banyak ditanyakan tentang hal-hal sensitif seperti aksi terorisme. Dengan kejadian 9/11, luka akibat kekecewaan terhadap Islam masih membekas di sebagian besar hati orang Amerika. Tetapi, aku bersyukur bahwa tidak ada satu pun orang yang aku temui memandang Islam dengan negatif. Mereka semua cukup terbuka dan tidak menunjukkan stereotype yang buruk terhadap Islam, termasuk Muslim di Indonesia.

Aku mendengar dari beberapa temanku yang ditempatkan di negara bagian lainnya bahwa mereka mendapatkan beberapa ekstremis pembenci Islam. Tetapi, ada pula yang pandangannya seketika berubah setelah mendengarkan presentasi dari temanku itu.

 

 

Untuk memperkenalkan Indonesia, aku sadar bahwa aku harus keluar dari zona nyamanku. Talent Show yang diadakan oleh Pennridge High School menjelang akhir semester ganjil membuatku merasa tertantang untuk menunjukkan salah satu tari tradisional Minangkabau: Tari Piring.

Sebelum berangkat ke Amerika, aku menyempatkan belajar Tari Piring dari sepupuku Ira. Ira sangat berbeda denganku, badannya lentur dan amat berbakat dalam hal menari. Waktu kecil, saat masih aktif di sebuah sanggar tari di Bukittinggi, Ira beberapa kali menjuarai kejuaran menari.

Walau badanku sangat kaku dan tidak ada bakat menari di darahku, Ira dengan sabar mengajarkan beberapa gerakan Tari Piring yang cukup sederhana. Ira juga meminjamkan kaset musik Tari Piring kepadaku bila nanti ingin menampilkan tarian ini selama di Amerika.

Mendengar kabar ada audisi untuk Talent Show, langsung saja ide gila menampilkan Tari Piring muncul di kepalaku. Sayang bila yang diajarkan Ira aku simpan saja, tidak kutunjukkan. Aku sadar kemampuan menariku sangat standar tetapi dengan niat untuk memperkenalkan budaya tanah kelahiranku, bismillah, aku bersungguh-bersungguh mengikuti audisi.

Mom, do you cassette player?

Lucu memang di era digital seperti ini aku masih berbekal sebuah kaset.

There is one in basement. I hope it still works,” jawab Mom sambil menunjukkan letaknya kepadaku.

Alhamdulillah, cassette player tua itu masih bisa dimainkan. Basement pun menjadi tempat latihan bagiku selama beberapa hari sebelum audisi talent show.

Mee juga akan mengikuti Talent Show. Dia ingin menampilkan gerakan thai boxing. Untuk penampilannya ini, Mee memilih latihan di kamar saja.

Audisi Talent Show dilaksanakan di aula sekolah. Beruntung, ada cassette player di perangkat sound system-nya.

Juri audisi hari itu adalah guru-guru Pennridge High School. Beberapa wajahnya tak asing, aku sering melihatnya di sekolah. Walaupun begitu, aku gugup bukan main saat naik ke atas panggung.

Hi everyone! I am Mega. I am an exchange student from Indonesia.

Wow, exchange student?!

Juri-juri pun tampak tertarik akan hal itu.

Yeah, I would like to perform a traditional dance from my homeland, West Sumatera. It’s called Plate Dance. The dance is to celebrate harvesting time,” jelasku singkat mengenai Tari Piring.

Alhamdulilah, aku puas dengan penampilanku hari itu. Juri pun tampak terhibur.

Sayang, ternyata Tari Piring-ku tidak terpilih untuk tampil di acara puncak Talent Show. Kecewa sebenarnya. Namun, setelah menyaksikan konsep panggung Talent Show pada hari-H, aku sadar bahwa tarianku memang tidak match dengan konsep antariksa-nya.

 

 

Well, mungkin panggung pertunjukkan memang bukan lahan yang tepat untukku. Kegagalan audisi tidak membuatku jera untuk mencari kesempatan lain untuk memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada publik di sekolah. Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Mrs. P mengadakan International Food Festival sebelum semester ganjil berakhir.

Festival tersebut tentu membuat aku dan Mee bersemangat untuk memasak makanan khas negara kami. Mee mendapatkan kemudahan mencari bahan karena yang dia butuhkan bisa ditemukan di supermarket supplier ingredients dan produk negara Asia. Aku? Aku tidak menemukan barang-barang Indonesia kecuali salah satu merk kecap.

Masalah tersebut tidak membuatku berputus asa. Aku kemudian mencari di internet lokasi supplier produk-produk Indonesia terdekat.

Tara! Aku pun menemukan sebuah toko di pinggiran kota Philadelphia. Aku langsung memberitahukannya kepada Mom.

Mom, do we have time before the festival to go to Philadelphia so I can get some Indonesian stuffs?” pintaku.

Mom tak langsung berkata iya, “Let me talk to Dad first and see if we can make it this weekend.

Sepanjang minggu, aku berdoa agar Mom dan Dad bisa meluangkan waktu di akhir minggu nanti.

Di Sabtu pagi, Mom dan Dad akhirnya sepakat untuk mengantarkanku ke Philadelphia. Allah memang Maha Mendengar pinta hamba-Nya.

Nama tokonya Ramayana. Aku tahu ini bukanlah department store yang ada di berbagai kota di Indonesia. Tetapi sejujurnya aku kaget ketika melihat tokonya sangat sederhana. Toko ini dikelola oleh keluarga yang memang sudah lama menetap di Philadelphia. Mereka asli Indonesia dan masih fasih berbahasa. Toko ini seperti toko-toko usaha rumahan layaknya di pinggiran jalan Indonesia.

Walaupun ukurannya di luar bayanganku, tapi isinya sangat memuaskan harapan. Ada bumbu instan untuk memasak berbagai menu masakan Indonesia seperti nasi goreng. Ada pula mie instan. Selain itu pemilik toko Ramayana ini juga menyediakan masakan olahan dapur seperti rendang yang disimpan di lemari es.

Aku langsung mengantongi mie instan, bumbu nasi goreng, bumbu tepung untuk membuat bakwan juga pisang goreng, dan beberapa cemilan.

Dad yang menungguku memilih-milih, ternyata menemukan sesuatu yang menarik di lemari es.

What is that? Is that tempe?

Yes, Sir. How did you know that it is tempe?” Penjaga toko tampak takjub dengan pengetahuan Dad tentang tempe.

My daughter makes it at home,” kata Dad.

Your daughter made it?” Si penjaga makin takjub.

Yes, she is a vegetarian and she loves tempe. She then found the recipe and she makes it at home.

Dad kemudian membuka lemari es dan mengambil tempe mentah tersebut, “I’ll take this.

Tidak hanya tempe, Dad ternyata membayar semua yang kupilih di toko itu. Aku sangat berterima kasih kepada Dad yang telah mengantarkanku ke Philadelphia dan membayarkan semuanya untukku.

Sebagai ungkapan rasa terima kasihku, aku memasakkan nasi-mie goreng untuk menu makan malam. Alhamdulillah, Mom, Dad, dan Mee menyukai masakanku malam itu.

Mom dan Dad juga sangat menyukai kacang atom yang aku temukan di Ramayana. Mereka belum pernah sebelumnya memakan bahkan melihat kacang seperti itu.

Akhirnya aku bisa memasak sesuatu untuk host family. Jauh hari sebelumnya Mee sudah pernah memasakkan menu Thailand Tom Yum Goong, sup pedas dengan udang sebagai lauknya. Supnya enak sekali. Tidak hanya Mom dan Dad yang suka, aku pun jadi ketagihan. Mee bisa memasak Tom Yum Goong karena menemukan bumbu-bumbu dan bahan-bahannya di supermarket Asia. Sedangkan aku, barulah mendapatkan kesempatan memasak nasi goreng di akhir musim gugur ini.

Untuk International Food Festival, aku memutuskan untuk memasak pisang goreng. Sederhana, tepungnya sudah ada. Aku bangun pukul empat subuh agar punya cukup waktu untuk menggorengnya sebelum berangkat sekolah. Aku tidak mau menggorengnya malam karena takut tidak crispy lagi.

Mrs. P sangat senang melihat pisang gorengku.

Wow, fried banana!!! I love banana!

Mrs. P sangat excited untuk mencoba menu yang belum pernah ada sebelumnya di International Food Festival.

Tidak hanya kami di kelas English as the Second Language yang menikmati makanan-makanan internasional tersebut. Mrs. P mengundang guru-guru untuk datang ke kelas kami dan menyantap hidangan yang disajikan. Mrs. P juga mengingatkan kami agar membawakan makanan untuk guru-guru di kelas.

Ludes, pisang goreng menjadi menu desert favorit hari itu.

 

[1] Relawan dari AFS yang mengecek aktivitas dan keamaanku selama menjalani program pertukaran pelajar. Sekali sebulan dia menelepon untuk memastikan keadaanku baik di host family maupun host school.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *