[Kontemplasi]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Bukan sekali itu aku mendapati Dad memasang muka masam kepadaku. Walaupun Dad lebih playful, tetapi Dad tidak seramah Mom. Dad tidak suka berbasa-basi. Apa yang tidak dia suka, dia langsung bilang saja. Ekspresi wajahnya pun tidak menutup-nutupi itu. Seperti waktu itu, saat ada seorang pria yang mungkin tidak menyambutnya ramah di masjid.

Ini adalah salah satu tantanganku selama di tinggal bersama host family. Aku berusaha tidak berburuk sangka, namun perasaanku sering menangkap sikap dingin dan ketidakramahan Dad kepadaku. Bukan, bukan bersikap kasar, tetapi ada jarak saja antara aku dan Dad. Jarak itu cukup jauh dan dinginnya membuatku bertanya, adakah yang salah dengan pembawaanku selama di rumah?

Aku mulai sensitif sejak aku dan Mee sama-sama sakit. Aku sendiri sakit lebih dahulu dari Mee karena pergantian cuaca musim panas ke musim gugur. Sedangkan Mee beberapa hari kemudian juga terus terkena flu.

Seperti hari-hari kerja biasanya, kami memiliki waktu untuk bertemu dan mengobrol dengan Dad saat makan malam.

Mee, are you cold?

Sesaat setelah duduk, Dad langsung menangkap bahwa Mee sedang tidak sehat. Malam itu, bahkan Mee menggunakan jaket ke meja makan.

Have you had medicine? Do you go to see the doctor?

Dad tampak sangat concern dengan Mee saat itu.

Aku yang duduk tepat di sebelahnya merasa mengerdil.

Have you not seen me at all, Dad?

Aku yang sudah berhari-hari flu, tidak pernah ditanyai Dad sama sekali. Aku menunduk saja, berusaha menutupi ketidaknyamananku dengan situasi ini.

Bermalam-malam aku memikirkan apakah ada hal  yang membuat Dad merasa tidak senyaman saat bersama Mee  dibanding dengan aku? Jujur saja, aku merasakan ada pandangan yang berbeda saat Dad menatapku dibandingkan dengan tatapannya kepada Mee. Tatapannya kepadaku penuh kecurigaan.

Well, aku berusaha menghadapi Dad dengan tenang dan tidak menunjukkan pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku. Walau sulit, aku terus mengatakan bahwa mungkin semua hanyalah prasangka burukku saja. Aku sadar jika aku terus merasa-rasakan perbedaan perlakuan Dad kepada Mee dan kepadaku, bisa-bisa aku makan hati. Kurus dan tidak menikmati hari. Aku pun akhirnya berusaha membawanya santai saja, mengakui bahwa aku memang berbeda dengan Mee. Bagaimana bisa memperlakukan orang yang beda karakternya dengan perlakuan yang persis sama?

Tidak boleh iri.


 

Sebelumnya aku tak menyangka bisa memiliki waktu untuk berkontemplasi mengenai banyak hal, termasuk masalah keluarga selama di sini. Aku setuju bahwa terkadang “all you need is distance to see it clearly”.

Tentunya selama di sini, tidak semua berjalan mulus dan sesuai dengan yang zona nyamanku. Tapi karena ada situasi itulah, aku jadi berpikir dan merenungi tentang kehidupan yang hampir tujuh belas tahun aku jalani. Seperti sikap Dad yang dingin kepadaku, apakah aku orang yang terbiasa diperhatikan sehingga aku begitu kecewa saat Dad lebih memperhatikan aku daripada Mee?

Kesendirianku di dalam kabar, membuatku mengingat tentang bagaimana aku biasanya di rumah. Aku ingat, Mama dan Papa bukan orang tua yang memanjakanku. Papa apalagi, cenderung cuek-cuek saja. Tapi ada satu hal yang tidak disukai Papa: mengunci pintu kamar. Di malam hari saat mengerjakan PR atau sekedar belajar, aku suka diam di kamar dan mengunci pintu. Menghidupkan musik, tak jarang menggunakan headset agar tidak terganggu dengan suara TV atau percakapan di rumah.

Aku malah suka menyendiri ya dulu? Aku kemudian menyadari hal itu. Mungkin karena inilah aku merasakan kekecewaan saat Dad tidak terlalu memperhatikanku.

I am trying to stand out. Itu awal mulanya. Di saat aku berusaha ke luar dari kebiasaan menyendiri di kamar, ternyata ada Dad, orang yang aku harapkan, lebih memberikan perhatiannya kepada Mee. Mungkin karena itu, reality does not meet expectation. There comes a disappointment.

Namun, aku tidak menyesal dengan perubahan yang aku lakukan. Aku memang harus belajar lebih terbuka dengan dunia luar. Tidak hanya menutup pintu. Aku harus keluar dan belajar lebih banyak berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan keluarga di rumah.

Suatu sore, aku bercakap hangat dengan host mom. Banyak yang kami bicarakan, berawal dari presentasi untuk International Education Week yang sedang kukerjakan.

Kami membicarakan cita-citaku: aku ingin jadi ahli lingkungan (engineer) dan penulis. Lalu aku bercerita kenapa aku ingin menjadi ahli lingkungan dan penulis. Aku ingin jadi penulis karna menulis adalah hobiku, it’s my thing. Aku ingin menginspirasi banyak orang dengan cerita dan kata-kataku. Lalu, ahli lingkungan? Aku ceritakanlah bahwa mama dan papa yang memotivasiku untuk melanjutkan studi ke teknik. Mama papa pikir aku bisa dan mampu. Ridho Allah bersama ridho orang tua dan aku menemukan teknik yang aku sukai, teknik lingkungan!

Aku ingin menjadi “orang”. Aku ingin mengaplikasikan ilmu-ilmu yang ku miliki. Aku tak ingin hanya menjadi ibu rumah tangga kelak. Aku ingin memiliki profesi yang bermanfaat bagi orang banyak. Dan, aku tak ingin menyia-nyiakan segala pengorbanan orang tuaku. Tak murah, orang tuaku membanting tulang untuk pendidikanku. Aku tak ingin perjuangan mereka sia sia. Aku ingin membuat mereka bangga dengan ilmu yang kudapatkan, bahwa ilmu yang aku dapatkan bermanfaat untuk masa depanku. Mungkin itu satu-satunya jalan untuk membalas segala perjuangan orang tuaku.

How about becoming a writer? You want to have a job as an engineer, will sacrifice the dream to be a writer?” tanya Mom.

Aku pun tersenyum. “Of course not,” jawabku.

Aku yakin orang tuaku tahu bahwa aku sangat suka menulis. Aku yakin mereka mendukungku. Orang tuaku bukan orang tua yang kolot. Mereka mendukung anak-anaknya untuk berprestasi. Walau memang, ada kekhawatiran dan terkadang harus berdiskusi mendalam. Tapi itulah orang tua, mereka hanya memastikan aku memilih yang benar. Contohnya, tentang program pertukaran pelajar. Lihatlah sekarang, aku sekarang disini, di Amerika, dengan ridho mereka! Itulah orang tuaku, dengan segala kekhawatiran dan perdebatan, toh sebenarnya mereka mendukung.

Aku jadi ingat kenangan masa lalu. Aku ingat mama dan papa selalu tak suka aku pulang terlambat karna osis atau urusan ekskul. Kadang mama memasang muka masam ketika aku sampai dirumah, atau menelponku, atau menegurku keras. Kadang aku diam, kadang aku berusaha menjelaskan.

I didn’t like my kids spending too much times at club activities, too. Study must come first,” ujar Mom menanggapi ceritaku.

Sekarang aku sadar satu hal: mereka hanya memastikan aku menomor satukan studiku. aku tak menghabiskan hari dan lelah hanya karna ekskul.

Tanpa aku sadari, aku telah bercerita panjang lebar tentang aku dan orang tuaku kepada Mom. Aku bisa bercerita panjang tentang betapa luar biasanya orang tuaku. Kenapa baru sadar sekarang? Saat itu juga, dalam tiap ucapakanku tentang Mama Papa, aku menyadari betapa besar jasa mereka dalam membentuk pribadiku sampai sekarang.


 

Malam tanggal 19 November, church youth group mengadakan harvest party, sebuah acara menyambut Thanksgiving. Kami bermain sebuah games bernama Hanging Man. Permainan ini adalah semacam permainan tebak kata. Masing masing membuat sebuah kalimat atau kata tentang hal-hal yang kami syukuri selama hidup di dunia. Saat giliran Dad, dia membuat kata “kannak-kannak“.

Only one person knows this word,” kata Dad memberikan clue kepada kami.

Setelah anak-anak menerka hurufnya, muncullah _annak_ –  _anna_.

Walaupun sudah begitu, aku tidak tahu yang dimaksud Dad adalah anak-anak.

Dad pernah ke Malaysia beberapa tahun yang lalu dan beliau mempelajari beberapa bahasa melayu yang hampir sama dengan bahasa Indonesia. Setelah Dad memberitahu kata tersebut, barulah aku mengerti apa yang dia maksudkan. Dad salah mengeja “kanak-kanak”. Beliau belajar sewaktu Malaysia kanak-kanak berarti children.

Hal itu membuatku teringat akan Papa. Papa jarang sekali mengekspresikan rasa sayangnya kepada kami anak-anaknya. Aku ingat ekspresi “biasa” papaku saat menerima raporku, walaupun tertera Juara 1, ekspresinya biasa saja. Papa hanya sekedar mengucapkan selamat sambil menepuk bahuku. Tapi, malamnya beliau pergi tanpa memberi tahu dan pulang-pulang membawa sate madura kesukaanku.

Aku ingat… Ingat sekali… Papaku sama sekali cuek dan tidak ikut mengurusi hal-hal tentang keberangkatanku ke Amerika. Namun di detik-detik terakhir, aku ingat betapa Papa tak bisa menutupi kegundahan hatinya. Aku ingat Papa tak banyak bicara saat menunggu keberangkatanku di Bandara Soekarno Hatta, bahkan Papa berdiri jauh dari tempatku duduk. Berbeda dengan Mama, Mama selalu berada di dekatku dan membantuku mengecek barang-barang yang ku perlukan.

Saat akhirnya kami dipanggil untuk siap boarding, Papa akhirnya memanggilku, memelukku erat. Aku ingat pelukannya untukku, tepukan di bahunya untukku. Aku ingat saat itu, saat beliau tampak jelas tak begitu akrab dengan kata-kata manis untuk melepas kepergian anaknya.

Mungkin kaum ayah kebanyakan memang begitu ya? Tidak terlalu ekspresif dalam menyayangi kita tetapi kita tidak akan pernah luput dari pengawasannya. Rasa sayang memang tak selalu butuh kata-kata dan perhatian tak selalu harus diungkapkan.

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *