[North Penn Mosque]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Sholat dijago taruih yo, Ga.[1]

Pesan itu terus terngiang di benakku. Pesan dari Mama, Papa, Kak Lani, Mamak, dan semua orang-orang yang kukasihi di kampung. Bagi kami umat Muslim, sholat adalah tiang agama. Sholat adalah ibadah yang paling utama dan yang akan pertama kali ditanyai nanti di hari kemudian. Baik sholatnya, baik pula ibadah yang lain. Buruk sholatnya, buruk pula lah ibadah yang lain.

Walaupun di rantau, itu bukan alasan bagiku untuk tidak menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah. Walaupun satu-satunya Muslim di rumah, itu bukan alasan bagiku untuk malas beribadah.

Hari pertama di Perkasie, aku langsung mengunduh jadwal sholat yang bisa diakses di www.islamicfinder.org. Tips ini saya dapatkan di arrival orientation di D.C. sebelumnya. Setelah mem-print jadwal sholat dari bulan Agustus 2011 hingga Juni 2012, aku kemudian mencari informasi tentang masjid di sekitar Perkasie.

North Penn Mosque. Masjid ini berlokasi di Lansdale, jaraknya bisa ditempuh selama dua puluh menit dengan mobil dari Perkasie. Saat itu bulan Ramadhan, tentu aku ingin sekali merayakan kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh di masjid.

Aku lalu meminta Mom untuk mengantarku mengecek lokasi masjid. Aku ceritakan niatku untuk sholat Idul Fitri nanti di sana.

Mom sama sekali tidak keberatan. Bahkan dia mempersiapkan selendang sederhana untuk menutupi kepalanya di masjid. Selain itu, dia tak lupa memilih mengenakan cardigan dan celana panjang (Mom sehari-hari memang sederhana dan modest dalam berpakaian), begitu pula Mee yang turut mengantarku mengunjungi North Penn Mosque.

Masjid ini terletak di sebuah kompleks pemukiman yang didominasi oleh Muslim. Kebanyakan mereka keturunan Bangladesh dan negara-negara sekitarnya. Bangunan masjid sederhana, tidak memiliki kubah. Palang putih bertuliskan North Penn Mosque dalam warna hitam yang membuatku yakin kami tidak salah lokasi. Bangunannya petak, berbata-bata. Ada lapangan parkir di sisi kanan masjid dari jalan utama.

Kami memasuki bangunan masjid dari pintu belakang yang menunjukkan itu adalah akses bagi perempuan.

Saat kami masuk, ada beberapa ibu-ibu yang sedang mengobrol.

Assalamu’alaikum,” ucapku kepada mereka. Lidahku rasanya sangat rindu untuk mengucap salam istimewa ini.

Wa’alaikumussalaam warahmatullah,” jawab mereka.

Do you want to meet someone, girl?” tanya salah seorang di antara mereka.

Mereka melirik dua orang yang berdiri di belakangku. Mom dan Mee tersenyum.

No. I am an exchange student from Indonesia. I just want to check the mosque so I can pray Eid in here, in sya Allah,” jelasku padanya.

Ah, wait a minute. I’ll call someone to help you.

Ibu tadi masuk ke dalam. Tak lama kemudian, seorang gadis cantik yang tampak lebih dewasa dariku menghampiri kami.

Assalamu’alaikum!

Cantiknya begitu memesonakanku. Wajahnya cantik bak artis Bollywood, kerudung dari selendang khas bangsa India semakin menambah kecantikannya.

Wa’alaikumussalaam wa rahmatullahi wa barakatuh. Hi, I am Mega from Indonesia,” ujarku memperkenalkan diri.

Mayisha, call me Mayisha. Masya Allah, we got a sister from Indonesia!” ucapnya menyanjungku.

I heard you are an exchange student?” Mayisha kemudian menoleh ke Mom, “And you must be her host family?

Mom senang disapa kemudian memperkenalkan diri juga, “Yes, I am Mega’s Mom, Brenda. This is her sister from Thailand, Mee.

Mee kemudian tersenyum.

Mayisha kemudian kembali berbicara kepadaku, “Do you fast Mega? Do you want to have ifthar with us?

Aku kaget mendapatkan tawaran itu, “That’s really kind of you, but thanks. I just want to stop by and check the mosque so I can pray Eid in here.

What time do I have to be here for Eid prayer?” tanyaku kepadanya.

It usually starts at 8 in the morning. Do you want my number? You may call me if you need any help later.

Sure!

Aku segera mengeluarkan agendaku kepada Mayisha. Mom kemudian memberikan pena kepada Mayisha, she always brings her pen.

Do you have Facebook, Mayisha?” tanyaku padanya.

Yes, I do. I’ll write my name here so you can find me.

Tak lama kemudian muncul sosok yang sangat mirip dengan Mayisha. Ternyata dia adalah adik Mayisha, Sharika namanya. Sama-sama cantik tetapi matanya lebih bulan dan pipinya pun lebih chubby.

Sore itu aku tidak bisa berlama-lama di sana. Aku, Mom, dan Mee segera pamit setelah mendapatkan kontak Mayisha.

Sayang, Allah menakdirkan aku tidak bisa sholat di hari Idul Fitri: on my period. Aku kabarkan Mayisha lewat message di Facebook. Aku sampaikan harapanku untuk bisa ke masjid di lain kesempatan.


 

Alhamdulillah, Idul Adha yang jatuh di awal November menjadi momen kedua bagiku untuk mengunjungi North Penn Mosque. Kali ini, aku bisa beribadah di sana, menunaikan sholat Eid.

Aku sudah mengabarkan Mayisha bahwa aku akan datang ke North Penn Mosque. Mayisha membalas kabarku dengan undangan merayakan Idul Adha bersama keluarga dan teman-temannya setelah sholat Id. Alhamdulillah…

Mom mengantarku sampai ke masjid kemudian meninggalkanku di sana. Aku minta untuk dijemput pukul 12 siang di masjid itu kembali.

Waktu aku tiba, masjid sudah penuh sesak. Sholat Id segera dimulai sesaat aku menemukan celah kosong di saf nomor dua dari belakang.

Suara indah imam sangat meneduhkan jiwaku. Alunan bacaan ayat Al-Qur’an menyerupai irama imam Masjidil Haram. Damai menjadi makmumnya…

Setelah ibadah sholat Id selesai, aku bertemu dengan Mayisha dan Sharika. Mereka kemudian memperkenalkanku kepada ibunya dan teman-teman yang sebaya dengan mereka. Mayisha dan Sharika termasuk remaja yang aktif di masjid, mereka harus membereskan beberapa urusan sebelum pulang. Melihat itu, aku bilang kepada mereka aku akan menunggu di luar saja.

Sebelum keluar, aku tak lupa bersalaman dengan jamaah lainnya. Semua mereka asing. Wajahnya didominasi oleh rupa bangsa India. Aku berusaha mencari-cari orang Indonesia tetapi tidak ada satu pun yang tampaknya begitu.

Di pekarangan masjid, kelompok remaja membagikan balon bertuliskan Eid Mubarak kepada para jamaah. Aku pun tentu tak ingin melewatkannya. Aku minta kepada Sharika sebuah balon berwarna biru tua.

Sembari menunggu Sharika dan Mayisha, aku berkenalan dengan dua kakak beradik yang merupakan warga asli Amerika. Nama mereka Hasanah dan Atiqah. Tak lama kemudian datang seorang gadis bernama Simal.

Assalamu’alaikum,” sapanya.

Wa’alaikumussalaam ww.”

Kami menyalaminya sambil cipika-cipiki.

Come to my house after this, Mega,” ujarnya mengundangku ke rumahnya.

Well, Mayisha and Sharika will take me to their house, Simal,” jawabku ragu.

Simal tersenyum, “We will go around together. My house will be first.

Aku pun lega. Berarti aku tak perlu menolak ajakan Simal.

Di hari raya, baik Idul Adha maupun Idul Fitri, adalah kebiasaan bagi setiap muslim untuk berkunjung ke rumah sanak saudara untuk mempererat dan menyambung kembali tali silaturahim. Begitu pula warga Muslim di sekitar kompleks North Penn Mosque ini, aku diajak oleh anak-anak remaja untuk berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya.

Rumah pertama yang aku kunjungi adalah rumah Simal. Rumahnya berada di sebuah apartment yang juga dipadati oleh komunitas Muslim. Apartment itu memiliki wangi yang khas: kari. Sepertinya kari adalah menu spesial lebaran bagi keluarga Muslim yang menetap di sana.

Setelah itu aku diajak mengunjungi rumah gadis yang masih duduk di bangku junior high school, Manel namanya. Perawakannya berbeda dari Mayisha, Sharika, dan Simal. Wajahnya asia tapi kulitnya putih pucat bak orang Eropa. Setelah berkunjung ke rumahnya, barulah aku tahu bahwa dia keturunan Tunisia. Di sana, keluarga Manel juga menyiapkan jamuan makanan besar untuk kami para tamunya.

Rumah terakhir yang aku datangi siang itu adalah rumah Mayisha dan Sharika. Di rumah, aku bertemu dengan ibunya. Ibu mereka tidak banyak berbicara padaku. Aku menduga dia tidak terlalu lancar berbahasa Inggris.

Bahagia… Bahagia sekali bisa melewati hari raya kali itu bersama kawan-kawan Muslim yang completely strangers beberapa jam sebelumnya. Sebelumnya, hanya Mayisha dan Sharika yang kukenal. Tapi ternyata, mereka sangat menyambut hangat kedatanganku dan dengan senang hati mengundang seorang asing dari bangsa Indonesia ini untuk mencicipi hidangan spesial Idul Adha di rumah mereka.

Sayang, satu harapanku tidak terkabul. Awalnya, aku ingin sekali melihat proses menyembelih hewan kurban di sana. Ternyata, komunitas Muslim di sana mengadakannya di sebuah rumah potong di luar Lansdale.

We can’t go there, Mega. It’s only for men,” kata Mayisha.

Sejujurnya aku sedikit kecewa. Tapi tidak apa-apalah, aku jadinya bisa menghabiskan waktu bersama kawan-kawan baruku.


 

Asik mengobrol, aku pun terlambat beberapa menit dari jam yang aku janjikan. Dad ternyata sudah menunggu di halaman North Penn Mosque.

We are sorry, Sir,” ucap Mayisha yang mengantarku kepada Dad.

Kali itu Dad memasang muka masamnya. Aku tahu Dad cukup kesal harus menunggu di halaman masjid seorang diri.

Aku pun jadi nervous ketika masuk ke dalam mobil.

There is a guy at the mosque, he stared at me like I am going to something bad.

Aku terdiam, tidak bisa berkomentar. Aku tidak tahu seberapa tidak ramah seseorang di masjid itu kepada Dad. Yang jelas, Dad cukup kesal dan tampak sangat tersinggung oleh sikapnya itu.

 

[1] Salat selalu dijaga ya, Ga

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *