[Homemade]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Mom dan Dad mengajarkan beberapa permainan yang bisa dibilang sudah “kuno” kepada aku dan Mee. Kami biasanya memaikan permainan tersebut sesudah makan malam sambil menunggu jam tidur. Permainan ini juga sangat ampuh untuk melepas bosan di rumah karena cuaca dingin membuat kami semua lebih memilih untuk tidak ke mana-mana.

Permainan favorit host family-ku adalah Dutch Blitz. Permainan ini menggunakan 160 kartu yang memiliki dua sisi. Di awal permainan, kartu harus dikocok terlebih dahulu. Semua warna dibiarkan acak, begitu pula angka-angkanya. Oh ya, pemain Dutch Blitz minimal 2 orang dan maksimal 4 orang. Pas untuk aku, Mee, Mom, dan Dad. Masing-masing kami mendapatkan tiga belas kartu. Sepuluh kartu pertama ditumpuk, sedangkan tiga kartu lainnya disusun terpisah satu-satu. Tiga kartu terakhirlah yang boleh dimainkan terlebih dahulu. Apabila satu kartu dikeluarkan, satu kartu di tumpukan kartu boleh diturunkan kemudian dimainkan.

Kartu Dutch Blitz memiliki dua sisi. Di satu sisi, terdapat sebuah gambar di atas latar putih. Mom dan Dad bilang kalau gambar-gambar tersebut adalah barang-barang yang digunakan oleh Amish sehari-hari. Ada empat gambar berbeda dengan warna yang berbeda pula. Masing-masing pemain memilih satu gambar sebagai kelompok kartu mereka. Sedangkan di sisi lain, terdapat angka 1 s.d. 10 dengan latar warna merah, kuning, hijau, atau biru.

Yang harus kami lakukan adalah mengelompokkan kartu sesuai dengan urutan angka per warnanya (abaikan gambar di sisi belakang). Misal, satu orang memiliki kartu berwarna kuning nomor 1. Pemain itu meletakkan kartu tersebut di tengah. Yang memiliki kartu kuning nomor 2 harus segera meletakkan di atas nomor 1 sebelum didahului orang lain. Begitu seterusnya hingga tersusun kartu hingga nomor 10 tiap kelompok warnanya. Yang duluan tiga belas kartunya habis, dialah pemenangnya.

Pusing. Aku yang masih pemula masih belum terbiasa membagi fokus. Pemain Dutch Blitz harus jeli melihat angka dan warna yang tersedia. Harus jeli melihat kartu sendiri, kartu lawan, dan kelompok kartu yang ingin disusun bersama hingga nomor 10.

Untuk permainan yang satu ini, Mom juaranya. Mata Mom sangat jeli dan dia bermain sangat cepat. Hap hap hap! Mom selalu menemukan celah untuk memasukkan kartunya dan boom! Tiga belas kartunya begitu cepat habis.

Aku pikir itu hanyalah keberuntungan, tapi setelah bermainkan sekian kali bersamanya, aku tahu bahwa Mom memang juaranya di permainan ini. Mom tak terkalahkan.

Permainan kartu lain yang diajarkan kepada aku dan Mee adalah Quiddler. Permainan ini syarat pendidikan bagi kami. Bagaimana tidak? Ini adalah permainan spelling. Permainan ini sangat membantu kami menambah kosakata Bahasa Inggris.

Saat pertama kali memainkan Quiddler, aku dan Mee diizinkan Mom dan Dad menggunakan kamus. Hahaha

Masing-masing kartu terdiri dari satu huruf atau dua huruf (untuk bunyi-bunyi seperti er dan th). Makin jarang digunakan, makin tinggi poin di kartu. Contohnya, Q bernilai 15 sedangkan huruf konsonan hanya bernilai 2.

Permainan di mulai dengan menyusun tiga huruf kata. Masing-masing orang mendapatkan tiga kartu untuk kali pertama ini. Sisa kartu dibiarkan menumpuk (tertutup) di tengah dan satu kartu dipisahkan (terbuka jadi hurufnya terlihat). Salah seorang pemain menjadi pemula. Bila ia belum bisa membuat sebuah kata dengan tiga kartu yang dimiliki, dia bisa mengeluarkan satu kartu untuk diganti dengan satu kartu yang terbuka. Pilihan lainnya, pemain bisa mengambil satu kartu dari tumpukan tetapi harus mengeliminasi salah satu kartunya untuk ditaruh di atas kartu yang sudah terbuka.

Selesain pemain pertama, pemain lainnya mendapatkan giliran kemudian bermain dengan ketentuan yang sama.

Jika sudah ada yang bisa membuat kata, pemain tersebut bisa memperlihatkannya ke semua pemain. Semua pemain pun harus turut memperlihatkan kartu mereka. Setiap kartu yang bisa membentuk kata, menjadi poin. Sedangkan kartu yang tidak digunakan menjadi nilai minus.

Permainan kemudian terus berlanjut hingga putaran kedelapan, yaitu menggunakan sepuluh kartu.

Untuk permainan yang satu ini, Dad juaranya. Dad memiliki banyak kosakata termasuk kosakata yang sangat sulit, bahkan Mom kadang-kadang tidak tahu artinya apa. Kata Mom, Dad memiliki hobi membaca ensiklopedia. Pantas…

Dengan permainan yang sederhana ini, aku semakin akrab dengan host family-ku. Kegiatan sederhana ini yang membuat aku semakin nyaman dengan mereka. Aku berusaha bermain dengan baik, tidak asal-asalan. Ketika Mom dan Dad enjoy bermain kartu-kartu tersebut, aku berusaha untuk mengerti permainannya dan enjoy juga. Saat itu, aku bisa merasakan Mom dan Dad senang bisa bermain bersama kami dan melepas penat. Sejak berdua di rumah, aku pikir mereka jarang bisa bermain seperti ini. Yes, aku senang bisa menemani mereka, aku pikir Mee pun begitu.


 

Kalau orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing, permainan yang biasa aku lakukan untuk membunuh waktu adalah 1000 puzzles. Aku menemukan kesenangan tersendiri ketika berhasilkan menakhlukkan tantangan dari diri sendiri untuk menyusun puzzles tersebut.

Sejak kecil, aku senang menyusun puzzles. Tapi yang berjumlah 1000, aku pertama kali melihatnya di Roxbury. Saat itu, aku diajak berkunjung ke tetangga. Great Aunt Harriet, salah seorang kerabat Dad, sedang asyik menyelesaikan puzzles yang tampaknya adalah pemandangan pantai dengan mercusuarnya. Sudah lebih dari separo puzzles berhasil disusun olehnya.

Would you like to help?

Senyuman Great Aunt Harriet membuatku tidak bisa berkata tidak. Aku pun duduk dan menemaninya untuk beberapa saat. Selagi Mom dan Dad mengobrol dengan anggota keluarga lain, aku menemukan keseruan tersendiri membantu Great Aunt Harriet menemukan puzzles yang tepat untuk mengisi kolom-kolom yang masih kosong.

Selain menyusun puzzles, aku menemukan hobi baru berkat Pizza Grammy: crocheting.

Aku tidak pernah berpikir akan mendapatkan kesempatan belajar merajut selama di Amerika. Tapi, saat aku mengetahui bahwa rajutan-rajutan di rumahnya ternyata handmade, aku langsung meminta Pizza Grammy untuk mengajarkanku.

Pizza Grammy selalu memiliki persediaan benang wol di rumahnya dan tentu lengkap dengan jarum merajut. Teknik crocheting yang pertama dia ajarkan padaku hanya menggunakan satu hook. Kata Pizza Grammy, hal sederhana yang bisa aku buat pertama kali adalah scarf. Setiap Jumat malam, Pizza Grammy membantuku membenarkan hasil rajutan. Hingga akhirnya, butuh satu bulan untuk menyelesaikan scarf pertamaku itu.

Sejak aku memiliki kepandaian baruku itu, aku meminta Mom untuk mengantarkanku ke toko kerajinan tangan. Aku ingin ke sana untuk mendapatkan benang dan hook-ku sendiri.

Di waktu luangku, aku senang duduk di reclining chair di ruang keluarga sambil menyelesaikan scarf demi scarf. Aku pun berhasil menyelesaikan tiga scarf. Yang pertama menggunakan wol berwarna cokelat, yang kedua menggunakan wol yang memiliki degradasi warna pelangi. Yang ketiga adalah benang unik yang memiliki umbul-umbul dengan dominasi warna orange.

Teknik lain yang aku pelajari adalah knitting. Bedanya knitting dengan crocheting adalah knitting menggunakan dua jarum yang jauh lebih panjang dari hook crocheting dan ujungnya runcing (tidak memiliki tautan/hook). Kali ini, bukan Pizza Grammy yang mengajarkanku, melainkan Great Aunt Harriet. Dia sengaja datang ke rumah Pizza Grammy saat kami seperti biasa berkunjung di satu Jumat malam. Great Aunt Harriet mengajarku dengan sangat perlahan-lahan. Walau ucapannya kadang sulit kumengerti, tetapi gerakan tangannya dapat dengan mudah aku ikuti.

Kata Pizza Grammy, Great Aunt Harriet sangat senang ketika dia diberitahu kalau aku ingin belajar knitting.

She loves to have companies, you know,” kata Pizza Grammy kepadaku.

Aku bisa mengerti maksud Pizza Grammy. Great Aunt Harriet hidup hanya berdua dengan suaminya Great Uncle Art di rumah. Tentu mereka sangat senang saat ada yang ingin bertemu dengan mereka, saat ada yang menginginkan kehadiran mereka.

Sejak mengenal Great Aunt Harriet, aku menemukan arti “kesepian” yang sebenarnya. Aku pun sadar bahwa “kesepian” yang sekali-sekali aku rasakan di rumah bukanlah kesepian sejati. Aku hanya sedang merindu sedangkan di sekitarku selalu ada yang menemani meski bukan yang aku rindukan.

Sedangkan Great Aunt Harriet, di masa tuanya, ia benar-benar kesepian. Jauh dari keluarga, hanya berdua dengan Great Uncle Art. Beruntung, Great Uncle Art adalah suami yang sangat setia, bersabar membantunya berjalan walau sudah tertatih-tatih.

Saat aku memberitahunya di church bahwa aku telah menyelesaikan scarf dengan metode knitting yang dia ajarkan, Great Aunt Harriet sangat senang dan memberikan ciuman di pipiku. Dia tak berbicara apa-apa, hanya binar matanya yang membuatku sangat ingin terus melihatnya begitu.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menyimpan yang berwarna pelangi untuk diriku sendiri. Scarf cokelat aku berikan untuk Pop dan scarf biru untuk Grammy Next-Door. Sedangkan yang paling unik dan paling lembut karena umbul-umbul di sepanjang benangnya, aku berikan kepada Pizza Grammy.


 

Aku beruntung memiliki host mom yang senang memasak. Seperti yang dituliskan Emily di suratnya kepadaku, “I think my mom is a pretty good cook”, aku setuju akan hal itu.

Salah satu ketakutan sebelum datang ke Amerika adalah masalah makanan. Sejujurnya, aku termasuk orang yang tidak suka mencoba jenis makanan baru. Dan, menurutku penampilan makanan sangat berpengaruh. Warna dan bau, dua hal itu bisa membuatku sangat tertarik mencobanya atau membuatku sama sekali tidak ingin menyentuhnya.

Saat pertama kali dimasaki makanan oleh Mom di Roxbury baik untuk sahur maupun berbuka, aku pun tahu kecemasanku in sya Allah tidak akan menjadi masalah. Mom sangat berhati-hati dalam menyajikan makanan denganku, dia bahkan mengetahui hal-hal apa saja yang tidak bisa aku makan, termasuk bacon, pork, dan semua yang mengandung gelatin. Apalagi menu desert yang tak jarang dia siapkan untuk kami, aku sangat menanti-nantikannya. Kecuali… strawberry cake. Aku tidak suka strawberry dan tidak suka whipped cream.

Aku senang membantu Mom di dapur. Ada banyak alasan untukku betah menemani Mom memasak.

Pertama, aku sangat suka dengan interior dapur dan luangannya yang luas. Karena dapur ini bersebelahan langsung dengan ruang makan, tanpa dinding hanya dibatasi kabinet, aku merasa nyaman berlama-lama di sana. Apalagi ada pintu dan jendela yang membuatku bisa memandangi halaman belakang.

Kedua, perlengkapan dapur Mom sangat lengkap. Aku takjub melihat semua kabinet benar-benar penuh dengan alat masak. Enaknya, apapun yang dibutuhkan, tidak perlu ribet. Selalu ada alat yang bisa membantu. Benda-benda yang sebenarnya sederhana seperti potato peeler dan penakar volume, itulah yang membuatku senang membantu Mom. Mudah karena selalu ada alatnya.

Ketiga, aku belajar banyak menu lezat dan tips memasak jitu dari Mom. Mamaku di Padang jarang sekali menggunakan oven dan tidak memiliki microwave. Sedangkan Mom, menggunakan dua alat ini most of the time. Aku pun jadi belajar jenis makanan dan menu apa saja yang cocok dimasak dengan dua alat tersebut.

Mom orangnya sangat teliti dan rapi. Hampir setiap kali memasak, Mom akan mengeluarkan catatan resep dan how-to-do notes-nya. Mom dengan persis mengikuti tahap demi tahap yang telah dia catat. Melihat itu, aku langsung ingat Mama. Mama sangat berbeda dengan Mom. Mama sering kali hanya menakar-nakar jumlah bumbu atau bahan makanan yang akan dimasak. Nenekku juga begitu dulu. Misalnya memasak rending: kalau santannya sekilo, bumbunya seberapa, cabenya segitu. Semuanya hanya masalah takar-menakar.

Aku pikir, aku ingin punya banyak pilihan menu seperti yang disiapkan oleh Mom. Di sisi lain, aku ingin mewarisi kemampuan Mama dalam hal menakar. Lebih praktis daripada harus menyontek menu terus-terusan.

Tapi satu hal yang pasti, masakan rumah adalah persembahan terbaik oleh seorang ibu bagi keluarganya. Seenak apapun masakan di luar sana, masakan ibu selalu di nanti oleh anak-anaknya karena tidak akan ada yang menyamai sedapnya. Apapun profesi yang dijalani, memasak adalah keterampilan yang mesti dimiliki oleh seorang perempuan. Ya, aku belajar itu dari Mama dan Mom.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

One thought on “Sebelum Pulang (Bab XVI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *