[SNOW IN THE FALL]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Sabtu pagi, 29 Oktober 2011.

“It’s supposed to snow tomorrow.”

Aku langsung teringat perkataan Mom tadi malam saat terbangun dari tidur lelap.

Segera aku mengambil wudhu untuk menunaikan salat Subuh. Di luar sana, suasana masih gelap. Dingin masih menyelimuti rumah subuh itu.

Seperti biasa, sehabis salat Subuh, aku turun ke bawah untuk sarapan yang jauh lebih pagi dari orang lain di rumah. Sabtu pagi memang pagi yang pas untuk menikmati sarapan tanpa terburu-buru ke sekolah maupun ke gereja. Aku biasanya menikmatinya di depan laptop sambil online di Facebook. Biasanya aku akan menemukan temanku yang online di Indonesia sana.

Aku duduk di meja panjang yang seharusnya menjadi meja makan itu. Tetapi, tidak lagi dijadikan meja makan karena Mom dan Dad lebih suka menggunakan meja di dekat ruang laundry. Meja makan yang menghadap ke pintu berkaca sehingga bisa memandangi halaman belakang rumah.

Di meja ini, aku juga bisa menikmati halaman belakang rumah walau hanya dari tiga jendela yang membentuk trapesium simetris. Hujan. Ternyata di luar sana hujan turun rintik-rintik.

Pagi itu sepi. Tidak banyak yang online. Aku kemudian keluyuran sana-sini saja di dunia maya.

Hingga pukul 7.30, belum ada satu pun juga yang bangun. Aku masih menikmati pagi yang dingin bersama laptop.

Entah sudah berapa menit aku terpaku ke laptop, aku kemudian melepas lelah mata dengan menatap ke jendela.

Sebentar… Kok hujannya besar-besar ya? Apa di luar badai?

Aku kemudian mendekat ke jendela. Aku amati hamparan rumput hijau di halaman belakang.

Kenapa rumput ini  menjadi keputih-putihan?

Aku kemudian berlari ke pintu menuju halaman belakang di ruang makan. Aku ulurkan tanganku ke udara…

Dingin. Es… Putih…

Salju? Inikah yang namanya salju?

Bukan, ini bukan hujan.

Aku kemudian segera menutup pintu. Aku berlari ke kamar Mee.

“Mee! Mee! It’s snowing! It’s snowing!

Aku menggedor pintunya. Mee pun segera membuka pintu.

Snowing? Really?” Mee masih mengantuk.

Serious! Look at the window!

Mee kemudian berangsur ke jendela.

“IT’S SNOWING!” Mee akhirnya melek.

Tak sabar, aku ambil jaket dan kameraku.

Aku dan Mee kemudian bertemu di halaman belakang.

Is it really snowing?

Mee tampak sama tidak percayanya dengan aku. Dua anak tropis ini tidak pernah melihat salju sebelumnya. Warna putih yang melengket di rumput hijau inilah yang meyakinkan kami bahwa ini bukan hujan. Kalau bukan hujan, ini tentu salju!

Ini salju pertama kami. Tentu kami tidak ingin kehilangan momen ini. Bergantian, aku dan Mee memotret satu sama lain.

It’s cold! It’s cold!

Kami tak sanggup berlama-lama di luar. Brrr…

Ternyata, Mom dan Dad juga sudah bangun.

Good morning! Did you already enjoy the snow?” Mom memberikan pelukan selamat paginya kepada kami.

Yes, we did,” jawab kami.

We need to get boots for you guys before the road is too slippery. How about at 10?

Ok, Mom!” tanpa ragu kami menyetujuinya.

Sebelum keluar rumah, Mom meminjamkan jaket tebal kepada kami berdua. Kami belum memiliki jaket tebal khusus winter. Saya mendapatkan jaket berwarna ungu sedangkan Mee mengambil jaket berwarna cokelat.

Halaman kami sudah jauh lebih memutih dari sebelumnya. Salju masih terus turun. Kata Mom, salju hari itu basah. Pantas, menurutku ini lebih mirip es serut hehehe. Bahayanya kalau hujan seperti ini, jalanan bisa tertutupi oleh es sehingga terlalu berbahaya bagi pengendara.

Dad mengemudi mobil dengan kecepatan yang cukup lambat. Yang penting aman, katanya.

Tujuan pertama kami adalah toko sepatu. Mom dan Dad membelikan aku dan Mee sepasang boots berwarna hitam yang tingginya sampai betis. Model sepatuku dan Mee sama persis, cuma ukuran kami yang berbeda.

While we are out, how about having lunch?” kata Dad kepada kami.

Ok. What do you like for lunch, girls?” tanya Mom pada aku dan Mee.

Mee menjawabnya segera, “Japanese food?

Ia menunjuk restoran makanan Jepang di sudut pertokoan tempat kami berdiri.

Salju masih turun. Aspal sudah tidak kelihatan. Itulah kali pertama bagiku menyaksikan pemandangan yang begitu putih. Menyilaukan sekaligus menenangkan…

Siang itu, aku memilih Hibachi Chicken and Steak.


 

Pemandangan ini membuatku takjub. Beberapa jam kami tinggalkan, pekarangan rumah sudah menjadi winter wonderland.

Lapisan salju menutupi atap rumah. Rumput hijau sudah berubah menjadi putih. Ingin rasanya aku jatuh dan merasakan empuknya salju yang sudah menumpuk tinggi.

Turun dari mobil, Dad harus menyingkirkan lapisan salju dari setapak menuju rumah. Aku lihat lapisan salju itu: tampak berat dan basah. Seperti kata Mom, salju kali ini memang mengandung air yang cukup banyak sehingga wujudnya seperti es serut.

Di akhir Oktober, memang belum sewajarnya salju turun. Ini adalah fenomena keanehan iklim yang terakhir kali terjadi di tahun 1979. Oktober masih terhitung musim gugur. Bahkan pohon-pohon maple di halaman rumah kami belum berguguran. Akibatnya, salju menempel di dedaunan dan menjadi beban bagi ranting-ranting pohon.

Girls, let’s make a snowman outside!” ajak Mom.

Aku dan Mee tentunya tidak menolak walau salju masih belum berhenti. Menurut perkiraan cuaca, salju akan turun hingga malam hari nanti.

Ah girls! You should try sliding too!

Mom kemudian keluar rumah membawa dua wadah plastik yang cukup besar.

Sliding?” tanyaku kebingungan.

Mom lalu membawa dua wadah plastik itu ke atas gundukan tanah yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya di halaman belakang.

Yes. You ride on this. And go down the hill,” jelas Mom, “Come, Mega!

Aku pun menyusul Mom ke bukit kecil belakang rumah itu. Mom menyuruhku duduk selonjoran di atas wadah plastik berwarna merah tersebut. Lalu Mom mendorongku…

Wuuush…

That was fun! Salju yang licin itu membuat sliding-nya begitu mulus.

Me too! Me too!

Mee sudah menunggu gilirannya.

Aku dan Mee sangat menikmati permainan ini. Walau wajah kami kedinginan terkena salju yang masih  turun deras, kami terus bermain. Bahkan, kami mencoba sliding berdua di satu wadah.

Woohoooooo!!” teriak kami bahagia.

Mom kemudian membuatkan snowman untuk kami. Aku hanya memperhatikan. Tanganku terlalu beku untuk ikut memegang salju…

Aku memilih berbaring di atas salju yang lembut ini. Salju kini turun perlahan-lahan. Angin mereda. Dingin… Aku biarkan salju menerpa wajahku beberapa saat.

Bukan… Ini bukan mimpi…

Keindahan ini nyata… Mahakarya Allah Yang Maha Kuasa…

Alhamdulillah… Terima kasih Ya Allah, aku bisa menikmati suasana yang begitu indah ini…


 

Dalam kedinginan dan kegelapan, begitulah kami menjalani malam itu. Sejak sore, pemerintah memadamkan listrik demi keamanan warga karena cuaca semakin memburuk.

Aku, Mee, Mom, dan Dad duduk bersama selimut masing-masing di ruang keluarga. Penghangat ruangan lebih terasa di ruang ini memang.

I guess we shall sleep down here,” kata Dad.

Aku dan Mee tidak keberatan. Kami tidur berdampingan. Dad dan Mom tidur di reclining chairs.

Sebelum tidur, kami bercerita tentang banyak hal. Tentang mimpi dan harapan kami selama di US. Tak terasa, kami sudah melewati bulan ketiga di Amerika.

Is there any place that you really want to visit while you are here?” tanya Dad.

Mee menjawabnya terlebih dahulu, “I would love to go to Disney World!

Wow… That’s quite far actually,” ungkap Dad sambil melirik kepada Mom.

Yeah… It is in Florida. It will be best if you travel by plane to get there. Very expensive,” ujar Mom apa adanya.

How about you, Mega?” Dad beralih kepadaku.

Aku pun menjawab malu-malu, “I’d like to see Niagara falls.

Hmm… It’s not as far as Florida,” Dad meresponnya dengan santai.

Aku hanya bisa tersenyum. Aku bukan orang yang suka meminta, tetapi ya itu jawabanku untuk pertanyaan Dad barusan. Setidaknya aku jujur, itu memang tempat yang langsung aku pikirkan ketika aku mengetahui kalau aku ditempatkan di daerah east coast Amerika. Semoga Mom dan Dad tidak menjadikannya beban pikiran.

Obrolan kami pun melantur sana-sini. Hingga suatu saat, aku melihat kilauan hijau di langit lewat jendela.

Dad, what is that?” aku menunjuk langit.

“What did you see?” Dad menoleh ke jendela.

I saw green light on the sky. But it’s gone,” jawabku. Aku menunggu kilatannya sekali lagi.

Wow, you might see an aurora, Mega!” kata Mom.

Yeah, it might be,” Dad masih menatap lekat langit.

Aurora?

Aku baru tahu kalau aku bisa melihat Aurora dari langit Pennsylvania. Well, bisa jadi Aurora, bisa jadi bukan. Mom dan Dad tidak bisa memastikan karena cahayanya tidak muncul lagi hingga kami terlelap tidur.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *