[Kitkat]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Sejak bergabung dengan marching band, banyak wajah-wajah yang menyapaku di koridor. Teman-temanku di marching band sangat ramah, aku senang sekali. Pennridge serasa menjadi sangat ramah kepadaku.

Di antara club-ku yang lain, marching band memang yang paling sering ada pertemuan. Tentu saja, kami harus latihan dua kali seminggu. Apalagi di bulan Oktober, kami mengikuti banyak turnamen di beberapa sekolah. Selain itu, di setiap pertandingan football di kandang Pennrige, kami selalu tampil sebagai opening dan menjadi penyemarak selama pertandingan berlangsung.

Seragam Pennridge marching band berwarna hijau putih. Bahannya cukup tebal dan menghangatkanku di saat malam walaupun aku masih perlu memakai kaos karena angin malam musim gugur sangat dingin. Kami mengenakan jumpsuit berwarna hijau yang kemudian dilampisi atasan berupa jas lengan panjang dengan warna dasar putih. Bagian belakangnya menutupi pinggul, lebih panjang dibanding bagian depannya. Kerahnya berwarna hijau, pendek kira-kira hanya tiga cm, dan tegak. Enam kancing perak tersusun di tengah pita hijau yang menghubungkan isi kiri dan sisi kanan baju. Ujung lengannya berwarna hijau, di sebelah kanan bertuliskan Pennridge berwarna putih. Sebelah kiri lengan atas terpasang maskot Pennridge, Rams.

Karena bergabung dengan tim percussion, aku jadi rutin “berolahraga” sebelum dan sesudah latihan di bukit sekolah. Bayangkan saja, kami harus mengangkat alat-alat super besar dan berat dari ruang alat ke bukit belakang sekolah. Alat yang wajib aku bawa adalah gong. Selain itu, aku turut membantu Kendra, gadis pemain xylophone.

Di hari-hari pertama, lengan atasku pegal sekali. Tulang keringku biru-biru karena sering berbenturan dengan alat saat menaikkannya ke atas bukit. Tapi semakin lama, aku semakin terbiasa dan menganggap ini “olahraga” rutinku.

Sehari sebelum penampilan di football game pertamaku, Laterria, personil color guard yang juga teman sekelasku di Environmental Science memberikanku surat setelah keluar kelas.

Mega, good luck for tomorrow!

Laterria memberikanku pelukan lalu berlalu pergi.

Aku pun membaca suratnya…

 

Hey mega tomorrow bring black socks and your uniform stuff. And bring money, food, it’s probably gonna hot or cold. And bring black hair ties to put your hair in a bon. If you have a cell phone you can text me at 267-343-9016. But if not I’ll see you on Bus #1 and good luck with the drum playing tomorrow! See you in science also Ha Ha Ha! – Latteria

 

Laterria… She is so sweet. Anyway, I was wearing black hijab instead of putting my hair in a bon, thou.


 

Malam pertamaku tampil bersama marching band di football game ditemani oleh bulan besar berwarna kuning. Aku terkesima melihat bulan yang menontonku itu. Aku pikir bulan kuning itu hanya ada di cerita-cerita horor. Malam itu, aku menyaksikan warna itu nyata. Maklum, di Padang bulan selalu putih.

Sebelum tampil tiap kelompok alat musik berlatih. Terompet, saxophone, flute, percussions… Setelah itu kami semua menunggu sampai akhirnya dipanggil masuk. Aku pun mencari temanku di kelompok terompet.

“Laura!” akhirnya aku menemukan gadis itu.

“Mega! Are you excited for your first performance?” tanya Laura kepadaku.

Of course I am. Huuh,” aku pun menutupi kegugupanku dengan senyuman.

Tak lama kemudian datang adik Laura, Hannah yang merupakan seorang color guard.

“Mega!” ia datang merangkulku, “I hope you have fun tonight!

Thanks, Hannah. You too!

Satu pikiran pun terlintas di benakku, “Will your parents come tonight?

Ah! Yes, my grandparents too!” jawab Laura.

Your grandparents who lived in Indonesia?” jantungku pun berdebar.

Yes, Mega. It will be nice for you all to meet! They still speak Bahasa, you know?” kata Hannah.

Aku pun semakin excited untuk mala mini. Bismillah

Selama penampilan marching band, tim percussions berdiri di depan dan tidak membentuk formasi seperti pemain alat musik lainnya. Wajar saja, alat musik tim percussions besar-besar. Bass drum, tiga xylophones, gong, dan seperangkat cymbals dkk.

Aku berdiri di antara gong dan big drum, dua alat inilah yang akan aku mainkan. Dari depan ini, aku bisa melihat jelas penonton yang berpakaian hangat untuk malam yang cukup windy ini. Malam ini, Mom dan Mee juga datang. Mereka duduk di sebelah kiri dari tempat aku melihat.

Penampilan pembuka itu berlangsung lebih kurang sepuluh menit. Riuh tepuk tangan dan teriakan penonton menutup penampilan kami.

Setelah tampil, kami kemudian duduk di bangku khusus marching band di barisan penonton. Selama pertandingan, kami harus memainkan lagu-lagu penyemangat untuk tim sekolah kami.

Karena aku belum berlatih yel-yel tersebut, Kendra memberitahuku untuk memegang tambourine saja. Ya, cukup menggunakan feeling untuk tahu kapan harus memainkannya. Aku bersyukur karena kerjaanku gampang sekali, jadi aku bisa menyimak pertandingan football pertamaku. Jujur, aku tidak mengerti sama sekali bagaimana mereka memainkannya.

Sayang, walau aku menyimak dengan serius, aku tetap saja tidak mengerti peraturannya secara utuh. Yang aku mengerti, masing-masing tim berusaha membawa bola sejauh mungkin ke daerah lawan. Dimulai dengan melempar sejauh-jauhnya kemudian ada kalanya harus dibawa berlari hingga akhirnya si pembawa bola akan dihentikan oleh tim lawan sampai babak-belur. Bukan, bukan ditinju. Tapi didorong hingga diimpit, yang penting dia berhenti berlari.

Errr… permainan yang sangat sadis menurutku. Tapi adu kekuatan ini yang membuat para gadis begitu menggandrungi para pemain football. Ya, bak film-film Hollywood.

Saat break, aku pergi menemui Mom dan Mee. Ternyata, keluarga Laura duduk di belakang mereka. Kami pun akhirnya saling berkenalan.

“Selamat malam,” ucap kakek Laura.

“Selamat malam,” ucapku tersipu. Lucu rasanya disapa duluan oleh orang asing menggunakan bahasa ibumu.

Aku juga menjabat tangan nenek Laura yang tidak banyak berbicara.

“Apa kabar, Mega?” tanya Mrs. Post, ibu Laura. Dilihat dari paras wajahnya, umurnya jauh lebih muda dari Mom. Mungkin umurnya di sekitar 40-an.

“Bagaimana kamu menyukai Amerika sejauh ini? Senang?” tanya Mrs. Post lagi.

“Senang sekali, Mrs. Post. Keluarga saya sangat baik,” jawabku, “Ini Mom saya.”

Aku kemudian memperkenalkan Mom kepada Mrs. Post.

Hi, I am Brenda, Mega’s mom,” Mom menyapa Mrs. Post dan keluarga.

Hi Brenda! Nice to meet you,” sapa Mrs. Post kembali. “And?” Mrs. Post menoleh kepada Mee.

I am Mee from Thailand,” Mee turut memperkenalkan diri.

Wow, you got two exchange students, Brenda!” Mrs. Post tampak takjub.

Mom tertawa, “Well, our kids have married and they do not live with us anymore. So, we decided that having two exchange students will be better than only having one at home.

Yap, Mom selalu berbicara begitu kepada orang-orang yang berkomentar seperti Mrs. Post. Dan aku tidak pernah menyalahi keputusan Mom dan Dad tersebut. Two is better than one, Taylor Swift said.

Aku kemudian bercerita dengan Mrs. Post dan orang tuanya menggunakan Bahasa Indonesia. Ayah Laura, Mr. Post, tidak ikut mengobrol karena tidak fasih berbahasa Indonesia. Perbincangan santai malam itu seputar nasi goreng dan sate. Hahaha.


 

Kompetisi marching band antarsekolah pertama bagiku ternyata jauh lebih menegangkan. Sekolah yang menjadi tuan rumah cukup jauh dari Perkasie sehingga kami berangkat bersama menggunakan bus sekolah. Aku duduk bersama Laterria di Bus #1.

Sesampai di lokasi, ternyata beberapa orang tua sudah menunggu. Mereka sampai duluan menggunakan kendaraan pribadi, termasuk Mrs. Post. Para orang tua turut membantu untuk menyiapkan alat-alat dan membereskan penampilan kami.

Sesaat aku merasa sepi. Malam ini host family-ku tidak ikut menonton. Aku pun tidak berharap mereka datang, awalnya. Tapi melihat sebagian besar anak-anak didampingi oleh orang tua, ada perasaan yang hinggap di hatiku. I wish you were here.

Kami tampil cukup memuaskan malam ini. Mr. Morris memuji kerja keras kami sehingga kami mendapatkan nilai yang cukup baik walau tidak menjadi yang terbaik.

Sebelum pulang, aku melihat Mrs. Post dan beberapa ibu lainnya sibuk membagikan cokelat. Aku melihat Leanne mendapatkan sebuah cokelat.

You got cocholate, Leanne?” tanyaku menghampirinya.

Yeah, my mom couldn’t make it tonight so she prepared this for me, as usual.

Aku melihat tanda tangan Mrs. Wampole di notes kecil yang ditempel di bungkus cokelat itu. Enaknya, pikirku.

“Mega!” Mrs. Post tiba-tiba sudah dihadapanku. “This is for you!

Kaget. Ternyata ada sebuah Kitkat yang ditujukan padaku.

 

School: Pennridge

To: Mega

From: Mom + Dad Sims

Message: We are so proud of you for being part of marching band! STAY WARM!

 

Pesan di Kitkat itu seketika terasa sangat manis, lebih manis dari cokelat di dalamnya. It always feels good to be encouraged by your loved ones.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *