[Harrisburg]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

3 Oktober telah menjadi hari yang aku nanti-nantikan sejak Carol meneleponku beberapa hari sebelumnya.

You, Mee, Anna-Lena, and Ami are going to Harrisburg on Monday! You guys got the chance to meet the representative of Bucks County, Paul Clymer, in the Capitol.”

Ini momen yang sudah lama kutunggu. Bertemu dengan pemerintah Amerika adalah kesempatan yang memang dijanjikan kepada kami para exchange student oleh AFS. Hal lain yang tentu juga membuatku sangat bersemangat adalah mengunjungi Harrisburg, ibukota negara bagian Pennsylvania.

Carol menjemputku dan Mee pagi-pagi sekali. Hari ini kami tidak berangkat bersama Mom ke sekolah. Mom akan mengurus izin libur sekolah sehari. Ami sudah menanti di rumah Carol sedangkan Ana diantar oleh host mom-nya.

Ami adalah peserta program YES juga yang berasal dari Mali. Tubuhnya tinggi besar dan berkulit eksotis ala wanita Afrika. Rambutnya pendek, hitam. Alhamdulillah, dia adalah teman Muslimku di sini. Sedangkan Anna-Lena adalah model muda kece asal Jerman. Cantik, imut, pintar… Jelas sekali dia seketika menjadi primadona di host school-nya.

Tujuan pertama kami di Harrisburg adalah State Capitol Building. Bangunan rancangan arsitek Joseph Huston ini menarik perhatian mata di tengah skyscrapers Harrisburg. Main building-nya memiliki kubah dan atap berwarna hijau. Di atas kubah terdapat patung perunggu berlapis emas bernama Commonwealth. Orang-orang juga menamainya Miss Penn. Patung itu memang berwujud seorang wanita yang memegang sebuah tongkat dengan tangan kirinya, memiliki makna justice. Tongkat tersebut diikat oleh sebuah pita panjang dan di atasnya ada elang yang membentangkan sayapnya.

Gaya Renaissance menjadi identitas bangunan publik pertama bagi rakyat Pennsylvania. Joseph Huston dulunya menyiapkan bangunan pemerintahan ini sebagai “Palace of Art”. Karya seni yang megah menjadi daya tarik tersendiri untuk mengunjungi bangunan ini. Ada Moravian Tiles, karya seni keramik yang menghiasi lantai ruang Rotunda oleh Henry Chapman Mercer dari Doylestown. Mozaik itu menggambarkan sejarah, binatang, industri, pekerjaan, dan transportasi rakyat Pennsylvania. Belum lagi ada patung, lukisan kuno, stained glass windows, dan mural. Salah satu mural yang paling terkenal aalah “The Hours” yang menghiasi loteng bangunan ini.

Sosok yang akan kami temui adalah perwakilah Bucks County di House of Representatives. The Pennsylvania House of Representatives adalah badan legislatif independen pertama di Amerika. Saat itu, ada 203 orang yang menduduki kursi terhormat tersebut. Satu orang mewakili lebih kurang 61.000 rakyat.

The Pennsylvania House of Representatives memiliki andil besar dalam sejarah Amerika Serikat. Badan legislatif ini menjadi tuan rumah penyelenggara sidang dan konferensi yang akhirnya menghasilkan Declaration of Independence dan U.S. Constitution. Selain itu, konsep the Commonwealth’s Bill of Rights sebagai hasil kesepakatan the House kemudian menjadi contoh bagi pembuatan U.S. Bill of Rights.


 

Carol memarkir mobil beberapa blok dari kompleks The Capitol. Kami kemudian berjalan menyusuri Commonwealth Avenue sambil menikmati hangatnya matahari pagi

Dag dig dug… Excitement yang membuncah kini berubah menjadi rasa tegang.

Sebuah kolam dengan airnya yang berwarna merah muda menyambut kami. Cukup aneh bagiku melihat warna di kolam bundar itu. Seharusnya ada air mancur, tapi pagi itu kami tidak mendapatkan kesempatan untuk menikmati keindahannya.

Kami lalu menaiki anak tangga memasuki gerabang yang berada di tengah bangunan setengah lingkaran. Pengamanan di gedung ini sangat ketat seperti di bandara.

Seseorang kemudian mengantarkan kami ke The Capitol Rotunda. Ruangan bundar ini  sangat lapang karena minim perabot dan lotengnya sangat tinggi. Ada tangga megah bak di istana cerita Disney, yang berujung pada dua arah. Bagian kiri mengantarkan ke The Senate Chamber sedangkan bagian kanan mengantarkan ke The House of Representative Chamber.

Tak lama berselang, sekretaris Paul Clymer menjemput kami.

Girls, you can ask anything that you want to know to Mr. Clymer. Okay?” Carol memotivasi kami saat berjalan menuju ruangan Paul Clymer.

Sejujurnya, aku bukan orang yang terlalu mengerti pemerintahan, apalagi pemerintahan Amerika Serikat. Banyak hal tentunya yang tak kumengerti. Tapi, karena itu pula aku jadi tidak punya bank pertanyaan di benakku.

Well, let the conversation flows, pikirku.

Sesampainya di ruangan, seorang pria tua gagah menyambut kami dengan stelan kemeja ungu lembut dan jas hitam. Kacamata petak dengan sudut tumpul bertenggel di hidungnya yang sangat mancung.

Welcome! Welcome to the Capitol!” senyumnya tipis, menunjukkan kerutan di kulit pipi dan dagunya yang sudah kendur.

I am Paul Clymer as the representative of Bucks County. Nice to meet you, girls,” ujarnya memperkenalkan diri.

Kami pun satu persatu memperkenalkan diri kepadanya.

Hi. I am Mega from Indonesia. I am hosted in Perkasie,” ucapku.

Please have a seat. We would like to have a little talk, right?” kata Mr. Clymer sembari mempersilakan kami duduk di melingkari sebuah meja bundar di seberang meja kerjanya.

Percakapan kami dimulai dengan basa-basi seputar pengalaman kami setelah lebih kurang dua setengah bulan di Amerika. Mr. Clymer memastikan kami semua mengalami perlakuan yang baik di host family maupun di host school, which was really nice of him.

Perlahan, Carol sebagai moderator mengarahkan diskusi kami ke topik yang memang menjadi tujuan kunjungan kami kali ini, yaitu making law in Pennsylvania. Mr. Clymer pun menjelaskan secara pelan dan sabar kepada kami yang bisa dibilang sama sekali tidak memiliki pengetahuan dasar sebelumnya.

Sebuah undang-undang diawali dari sebuah bill yang diajukan oleh para legislator. Bill merupakan sebuah draft yang disiapkan oleh beberapa legislator yang sudah banyak mengkaji tentang sebuah isu. Kemudian tim ahli akan menyusun proposal untuk mengajukan bill untuk di-review. Proposal yang telah diberi nomor registrasi oleh Chief Clark lalu diuji oleh Standing Commmittee dan didistribusikan ke seluruh anggota House serta dapat diakses oleh publik. Konten bill selanjutnya juga diuji oleh caucus, sekelompok legislator yang memiliki kesamaan interest atau bergabung dalam partai yang sama.

Setelah dikaji oleh kelompok-kelompok kecil di atas, akhirnya bill akan dibahas oleh seluruh representatives di House Floor. Di sidang inilah bisa dilakukan amandemen terhadap bill sebelum akhirnya di-vote apakah bill layak diteruskan ke Senate Floor. Bila lolos, bill kemudian dibahas oleh para senator dan tidak akan mengalami proses amandemen lagi. Bila disetujui, bill kemudian ditandatangani oleh Speaker of the House dan President of the Senate. Agar menjadi sah sebagai sebuah undang-undang, bill harus ditandatangani terlebih dahulu oleh governor. Bill yang sudah disahkan pun kemudian resmi menjadi hukum dan memperoleh Act number.

Pendidikan menjadi topik lain yang kami bicarakan pagi itu. Topik ini jauh lebih menarik bagi saya karena sistem pendidikan di Amerika sangat berbeda dengan di Indonesia.

I am really amazed that kids can go to school without any fee,” ujarku.

Well, their parents actually pay a good amount of taxes and it includes the fee for their children’s education,” jelas Mr. Clymer.

Begitu ternyata. Orang tua membayar pajak di tempat mereka berdomisili dan itu kemudian menjadi sumber dana bagi sekolah negeri di sana. Aku pikir dananya dari pemerintah. Ternyata tidak. Biayanya tetap dari rakyat.

Orang Amerika sangat taat membayar pajak, tentunya sistem ini tidak mengalami masalah. Bahkan sekolah di Amerika sangat lengkap fasilitasnya, pikirku. Berbeda dengan di negeriku. Masih banyak yang tidak taat membayar pajak. Selagi ada uang, eh pemerintahnya korupsi. Ya Allah, kapan ya negeriku bisa benar-benar menggratiskan sekolahnya? Kapan ya kesenjangan fasilitas antara sekolah negeri dan sekolah swasta bisa teratasi?


 

Diskusi kami dengan Paul Clymer berlangsung lebih kurang satu jam. Dia kemudian memberikan sebuah map penuh dengan buku-buku tentang pemerintahan Pennsylvania kepada kami masing-masing. Tak lupa, aku meminta tanda tangannya di map itu, tanda bahwa aku pernah bertemu langsung dengannya.

Sebelum berpisah, kami berfoto di tangga megah ruangan Rotunda bersama Paul Clymer. Dia menjanjikan akan mengirimkan cetakan fotonya ke alamat kami seminggu setelah itu.

Hari di Harrisburg belum berakhir. Carol mengajak kami mengunjungi sebuah museum di kawasan One Lincoln Circle.

National Civil War Museum adalah museum yang memuat informasi penting tentang Civil War di Amerika Serikat yang terjadi pada tahun 1861-1665. Perang antar negara bagian ini dimulai dengan keinginan sebelas negara bagian di daerah selatan untuk memisahkan diri dari Amerika Serikat dengan membentuk Confederate States of America.

Perang ini menjadi sejarah dimulainya industri persenjataan di dunia. Senjata-senjata diproduksi secara masal untuk memperkuat armada militer yang bertemput. Selain itu, kubu Confederate States dan United States juga berlomba-lomba dalam memajukan infrastruktur transportasinya, seperti membangun rel kereta dan kapal uap.

Museum ini dipenuhi dengan biorama yang menunjukkan suasana perang yang terjadi saat itu. Juga ada banyak quotes-quotes yang dipajang besar di dinding dari para pelaku dan juga pemimpin perang. Salah satu favorit saya adalah quote dari Abraham Lincoln yang merupakan pemimpin United States of America saat itu. Pernyataan berikut menunjukkan bahwa perang ini pada akhirnya menguatkan persatuan Amerika Serikat sebagai sebuah negara.

The world will little note not long remember what we sat here, but it can never forget what they did here. It is for us to be here dedicated to the great task remaining before us.  That we here highly resolve that these dead shall not have died in vain – that this nation under God, shall have a new birth of freedom – and that government of the people, by the people, for the people, shall not perish from the earth.” [1863]

 

Menuju Bab XIV

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *