[Virginia]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Sejak aku mengenal Google, aku sering mengunduh berbagai gambar untuk dikoleksi. Mulai dari gambar kartun hingga pemandangan. Aku menemukan kesenangan tersendiri dengan mengoleksi gambar-gambar tersebut dan bisa mengganti-ganti gambar di desktop komputer.

Salah satu favoritku adalah pemandangan musim gugur. Mengapa? Aku pikir, pemandangan alam yang bernuansa orange itu berbeda saja dibandingkan dengan dominasi warna hijau yang sehari-hari aku saksikan di daerahku. Hal yang berbeda dari yang biasa kita saksikan biasanya memang lebih menarik perhatian, bukan?

Alhamdulillah, untuk pertama kalinya aku bisa menyaksikan secara nyata bagaimana musim gugur membawa nuansa nan indah itu. Pertama kali aku menyadari pohon-pohon mulai mengering adalah saat aku menuruni Route 313 dengan bus sekolah menuju rumah. Aku melihat dari hari ke hari bahwa pohon-pohon di tepi jalan itu semakin menguning. Berbeda lagi pemandangan di Dublin Road, pohon-pohonnya cenderung berubah kemerahan.

Musim gugur juga ditandai dengan cuaca yang lebih sejuk. Orang-orang pun lebih memilih keluar dengan mengenakan celana panjang dan baju yang agak tebal. Cardigan menjadi booming di musim ini. Sepatu boots ala cowboy juga menjadi pemandangan lumrah di sekolah.

Di awal musim gugur, Mom dan Dad mengajak kami untuk mengunjungi Rachel selama akhir pekan. Sejak menikah, Rachel tinggal di Virginia bersama suaminya, Brian. Perjalanan menuju Virginia kami tempuh selama lima jam dengan mobil yang dikendarai Dad.

You must be really love the view on the road, Mega,” kata Mom.

Mom tahu aku sudah lama bermimpi menikmati pemandangan musim gugur. Benar saja, aku begitu menikmati pemandangan di sisi kiri-kanan highway. Warna pohon-pohon lebih terang dibanding dengan pemandangan di Pennsylvania walau masih belum semuanya menjadi merah dan orange.

Mom sebelumnya sudah memberitahu kami kalau Rachel dan Brian hidup sangat sederhana. Apartment tempat tinggal mereka sangat kecil dibandingkan rumah kami, jadi mereka berharap kami maklum.

Rachel dan Brian aktif menjadi pelaku sosial sekaligus pengajar di gereja komunitas mereka. Dari cerita Mom dan Dad, mereka kedengarannya cukup unik. Setahuku, orang-orang Amerika sangat individualis. Mendengar cerita bahwa orang-orang di komunitas mereka sangat sederhana dan saling membantu menanggung beban hidup, aku menjadi semakin penasaran untuk segera menemui Rachel dan kawan-kawannya.

Wow, Rachel! Look at your belly!

Mom langsung memeluk Rachel yang telah menunggu kami di depan pintu apartment-nya. Mom tampak sangat excited melihat perut Rachel yang lebih buncit dibandingkan terakhir kami bertemu di Roxbury.

Ya, Rachel telah mengandung selama lima bulan.

Isn’t that nice you girls will be aunts while you are in America?” ucap Mom. Ia tampak begitu bahagia menanti kehadiran cucu pertamanya.

How’s school, girls?” tanya Rachel kepadaku dan Mee selagi membawa tas ke dalam ruang keluarganya yang bernuansa cokelat gelap.

Good,” ucapku serentak dengan Mee.

I heard you have Gym class, Mee. Do you like it?” tanya Rachel kepada Mee.

I like it. We play many games in class,” jawab Mee.

She takes Badminton. Not a surprise, huh?” celetuk Dad.

Ah… You must beat all of your friends,” kata Rachel dengan nada lembutnya yang khas.

Orang-orang Amerika tahu kalau orang Asia jago main badminton. Jadi, Mee pun disarankan oleh guru olahraganya untuk mengambil permainan itu sebagai bidang khususnya di Gym.

Yeah, I beat most of them,” kelakar Mee.

And Mega! I heard you have Mrs. Reese. I had her too, Mom told you, right?” Rachel kemudian beralih kepadaku.

Yes, she did,” jawabku, “Mrs. Reese is really funny, though! Math is gooder than English?!

Hahaha yeah… She is quite different. But, she taught me much. That’s why I took Math in college,” ucap Rachel sambil mempersiapkan cemilan untuk kami.

Aku berdiri di depan kabinet, melihat berkeliling dari sudut ini. Dari depan pintu, ruang tamu, ruang makan, dan dapur ada di satu ruangan. Hanya kabinet memisahkan ruangan ramu dan ruang makan dengan dapur. Di sebelah kanan dapur, ada kamar Rachel dan Brian. Di depannya ada ruangan yang tidak memiliki kasur, mungkin ruang berdoa bagi mereka, menurutku.

She taught Math once in school, but then she quit,” ungkap Dad mengembalikan perhatianku ke perbincangan kami.

Well, I still tutor some kids, Dad,” jawab Rachel santai.

Do you like Math, Mega?” Rachel kemudian menatapku.

Uh? Well, I need to. I wanna be an engineer,” jawabku.

Wow! That will be cool, Mega!” ucapnya menyemangatiku.

Aku kemudian duduk di sofa tempat Mee sedang beristirahat. Sofa ukuran tiga orang ini adalah satu-satunya kursi untuk tamu selain satu kursi goyang di sudut kiri dari pintu masuk. Di depan sofa terdapat meja makan yang normalnya cukup untuk enam orang.

Aku melihat ke jendela di hadapanku, di belakang meja makan. Tampak kebun Rachel di halaman rumahnya. Saat itulah saya tahu, Rachel menanam sayur-sayuran dan ubi-ubian sebagai bahan makanan sehari-hari. Selanjutnya aku akhirnya mengerti bahwa Rachel dan Brian sudah lama menjadi sepasang kekasih vegetarian saat kami menikmati hidangan makan siang. Tidak ada daging di atas meja, selain tuna.

 

 

Gereja komunitas Rachel berada di pinggiran kota, tidak terlalu jauh dari rumah Rachel. Gereja ini tampak seperti bangunan biasa. Bahkan menurutku, gereja ini lebih tampak seperti tempat belajar bagi anak-anak karena ada beberapa permainan outdoor di halamannya.

Ruangan di dalam tidak bersekat. Ruangan ini cukup untuk lebih kurang empat puluh orang. Di belakang pentas untuk pastor dan pemusik, ada dapur yang kosong selama Sunday Service berlangsung.

Pakaian kawan-kawan Rachel cukup nyentrik. Mereka adalah pasangan-pasangan yang terbilang masih muda. Pakaiannya sederhana dan tidak begitu rapi seperti orang-orang berpakaian di Silverdale church. Bisa dibilang, sepertinya mereka tidak terlalu memperhatikan “uang” untuk penampilan, mereka terlalu sibuk dengan kegiatan sosial mereka.

Brian and friends walk the city to share about Bible,” cerita Dad suatu hari.

I am concerned about the way they live, but that’s how they love it. I can’t bother.

Setiap orang tua menginginkan kehidupan yang mapan bagi anak-anaknya. Aku pikir, tentunya berat bagi Dad terutama untuk melihat anak perempuannya hidup serba sederhana seperti itu. Tapi di lain sisi, aku melihat Dad percaya bahwa Rachel perempuan yang tangguh.

Sepulang dari gereja, aku dan Mee diajak melihat pemandangan yang indah di Shenandoah National Park. Kata Mom, sayang jika kami melewatkan Shenandoah jika sudah di Virginia.

Ternyata Shenandoah adalah bagian dari Blue Ridge Mountains di bagian selatan dari pegunungan Appalachian. Jalan mendaki bukit ini sangat baik, sangat berbeda dengan jalan yang membelah Gunung Singgalang di kampungku sana. Dengan mobil sedan Mom, kami tidak menghadapi kendala berarti untuk sampai di puncak Shenandoah.

Aku ingin sekali membuka jendela di sepanjang perjalanan. Tapi kemudian Mom mengingatkan,

It’s 11 F outside! Girls, it is the most freezing temperature you’ve felt so far!

Mendengar itu, aku mengurungkan niat membuka jendela walau sangat attempting.

Di kiri jalan aku melihat hamparan bukit yang sudah mulai menguning. Sayang, Shenandoah belum benar-benar menjadi pemandangan musim gugur yang aku impikan. Hijau masih menjadi warna yang mendominasi.

Tapi tetap, menikmati pemandangan di atas bukit ini melapangkan hatiku sejenak.

Let’s stop here, Dad. There’s a beautiful stop down there,” kata Rachel.

Dad kemudian memarkir mobil di tepi jalan. Kemudian ia memandu kami menuruni bukit di sebekah kiri jalan.

Wow… Ada sebuah jalan sempit di antara tumbuhan rendah yang akhirnya mengantaran kami ke bebatuan di tepi jurang.

Dari sana pemandangannya sangat sempurna. Aku bisa melihat jelas hamparan bukit yang lebih rendah dari kami dan menikmati degradasi warna hijau-kuning-orange. Di ujung kiri, di kejauhan, tampak kota di mana Rachel bermukim.

Brr… Angin menghembus kencang, membuat aku dan Mee kedinginan. Kami tidak bersiap untuk suhu sedingin ini. Aku hanya menggunakan kaos lengan panjang dengan kemeja sebagai outer. Well, let’s take pictures as quick as possible!

Menuju Bab XIII

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *