[Sorak Kebanggaan]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Dad pernah bercerita tentang ada satu objek wisata alam yang tidak jauh dari rumah. Namanya Ringing Rocks.

When you knock on the rocks, the sound will be like iron instead of rock,” katanya.

Oh Dad! I think I know what you are talking about!” aku tiba-tiba merasa pernah mendengarnya di suatu tempat.

Really? You heard about it in Indonesia?” Dad tampak takjub.

Yeah. I know I heard it before… Wait…” aku berusaha mengingat-ingat di mana.

Aha!” aku akhirnya ingat, “I watched it on TV! There is a program named On The Spot and they show us many unique things on earth.”

Wow! I didn’t know that Ringing Rocks is quite famous outside the country,” ujar Dad.

Tak kuduga, Dad mengajak kami mengunjungi Ringing Rocks di hari Minggu setelah Sunday Service.

Of course we need to take you down there because it is famous back at your home. You have to witness it!” Dad tampak bersemangat.

Aku, Mee, Mom, dan Dad sudah berganti pakaian terlebih dahulu di rumah. Kami mengenakan pakaian casual untuk hiking. Ini kali pertama bagiku untuk mengunjungi objek wisata alam di Amerika.

Sesampainya di area parkir, tampak banyak orang yang juga memutuskan untuk menghabiskan hari di Ringing Rocks. Tampak hutan sudah menunggu di hadapan kami. Pepohonannya kurus dan tinggi. Tanahnya banyak kosong, tidak banyak semak seperti di Indonesia.

Ada satu alat yang tidak boleh ketinggalan jika ingin mengunjungi Ringing Rocks. Yap, hammer. Bagaimana mau membuktikan bunyi batu-batu itu tanpa sebuah pemukul?

Kami hanya perlu berjalan beberapa menit hingga mata kami bisa memandang lepas hamparan batu yang disebut Ringing Rocks itu. Aku terpana beberapa saat. Batu-batu berdiameter lebih dari satu meter terhampar di hadapanku. Ya Allah, dari mana asalnya batu raksasa ini?

Aku segera menapaki satu demi satu batu yang sekilas tidak tampak istimewa. Aku pun duduk di satu batu yang datar dan segera mengeluarkan hammer.

Ting… ting… ting…

Masya Allah! Batu ini benar-benar berbunyi seperti logam! Kupukul batu yang lain, bunyinya tetap sama. Aku kemudian terus berjalan jauh ke tengah hamparan bantuan. Aku tidak menghiraukan Mom, Dad, dan Mee yang tinggal di belakang. Ada satu yang ingin kutemukan, batu-batu yang katanya bisa berbunyi seperti tangga nada.

Sayangnya aku tidak menemukan batu itu. Aku bertanya kepada Dad, dia pun tak tahu posisinya di mana. Bisa menghabiskan sepanjang hari untuk menemukannya, katanya.

Setelah bosan memukul-mukul batu, kami pun hiking ke bagian yang lebih tinggi di dalam hutan. Akhirnya kami menemukan sebuah sungai yang mengering. Ada air terjun juga, sayang karena musim panas, airnya tidak begitu banyak.

Ah, segar sekali. Sudah lama rasanya aku tidak menikmati pemandangan seperti saat itu. Hijaunya pepohonan, langit biru, dan gemercak air. Semuanya begitu menyejukkan.

Kami pun tidak lupa untuk mengabadikan momen di sana. Setelah puas berfoto, kami lalu pulang sebelum matahari terbenam.

 

 

Di minggu selanjutnya, Dad kebagian rezeki dari bosnya. Dad mendapatkan empat tiket gratis nonton Phillies di Philadelphia. Minggu siang, kami langsung berangkat ke Philadelphia untuk menyaksikan pertandingan baseball dengan Phillies sebagai tuan rumah.

Ternyata, Pizza Grammy juga ikut ke Philadelphia untuk menonton Phillies. Kami pun bertemu di stadion dan berfoto-foto  dulu sebelum duduk di kursi penonton. Pizza Grammy dengan baik hati membawakan dua syal dan dua sarung tangan untukku dan Mee.

It would be really cold to watch from up high,” katanya.

Kami pun sangat berterima kasih kepada Pizza Grammy. Saya mengambil yang berwarna biru sedangkan Mee mengambil yang berwarna pink. Perfect!

Benar saja, tempat duduk kami sangat tinggi sehingga angin terasa begitu membekukan. Padahal masih summer, pikirku. Dari tempat duduk kami itu, kami hanya bisa melihat titik kecil berdiri, sesekali berlari di lapangan baseball. Maksudku, aku tidak bisa melihat wajah pemainnya. Well, tidak apa-apa. Toh tidak ada satu pun yang aku kenal.

Aku duduk di antara Dad dan Mee sedangkan Mom di sebelah kiri Mee. Dad menjelaskan kepadaku dan Mee tentang bagaimana baseball dimainkan. Bagiku, ini pengalaman pertamaku menonton baseball. Di Padang, saya menyangsikan ada orang yang  bermain baseball. Sepertinya nihil.

Aku tidak bisa membohongi ketidaktertarikanku dengan dunia olahraga. Bagiku, ini membosankan. Akhirnya aku dan Mee keluar dari kursi penonton untuk jajan.

Kemudian kami bertemu dengan Pizza Grammy. Kami berjalan-jalan mengelilingi food court stadion. Aku menyaksikan begitu penuh sesak stadion ini. Gila, orang Amerika memang benar-benar mencintai tim olahraga di state[1] mereka ya. Aku pernah dengar begitu, sekarang aku membuktikannya.

Ada sekitar sepuluh ribu orang di stadion malam itu. Dari anak kecil, remaja, hingga golongan setua Pizza Grammy, semuanya menggunakan atribut Phillies. Dari merchandise saja, sudah berapa untung para pelaku bisnis olahraga ini? Apalagi dari penjualan tiket.

Bangga ya jadi atlet di Amerika. Mereka dielu-elukan bak pahlawan karena dianggap telah “berperang” demi harga diri state mereka. Ya, gengsi antar-state di pertandingan olahraga memang tinggi. Pennsylvania sendiri cukup ditakuti di cabang olahraga baseball ini. Kalau football, tim Pennsylvania yang bernama Eagles, waktu tahun 2011 itu  tidak terlalu bagus prestasinya. Sedangkan cabang olahraga lain, aku tidak terlalu mengikuti karena host family-ku juga tidak menjadi penonton setianya.

Aku mengagumi bagaimana orang-orang Amerika menghargai para atletnya. Sebagai seseorang yang tidak begitu menyukai olahraga, bukan berarti aku tidak suka mengikuti pertandingan-pertandingan timnas Indonesia. Ada dua cabang olahraga yang keluargaku sangat sukai, yaitu sepakbola dan bulutangkis. Setiap ada pertandingan internasional, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk menontonnya. Rasanya berbeda saja kalau sedang mendukung timnas kita. Bangga bercampur kepercayaan kepada para atlet bahwa mereka akan melakukan yang terbaik demi bangsa.

Selama di Amerika, aku juga tidak lupa dengan perhelatan SEA GAMES yang diadakan di Indonesia. Saat SEA GAMES 2011, ternyata Indonesia dan Thailand berada di grup yang sama di cabang olahraga sepakbola. Suatu sore, tibalah pertandingan antara negaraku dan negara Mee. Kami sore itu meminta izin untuk menontonnya di basement.

Aku dan Mee fokus selama menonton. Tentu saja, aku mendukung timnas Indonesia dan Mee mendukung timnas Thailand. Kami pun tidak bisa tidak bersorak selama pertandingan itu.

“GOOOOOL!!!”

Selebrasi pertama bagiku menyaksikan Bonai mencetak gol di gawang Thailand. 1-0 untuk Indonesia.

Tak lama kemudian, Mom turun ke basement dan berhenti di tangga.

Is that you screaming, Mega? It is my first time hearing you scream that loud,” ujar Mom sambil tertawa.

Sorry, Mom. Indonesia just scored!” ucapku excited.

Congratulation! It’s okay… Sounds fun!” katanya. Lalu Mom kembali ke atas.

Go Thailand Go!” Mee terus menyemangati timnas Thailand.

Di menit ke-50, akhirnya Thailand menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

“WOOHOOOOO!!!” sekarang giliran Mee yang bersorak.

Ah, ayo Indonesia. Masih bisa, masih bisa, ujarku dalam hati.

Sekitar sepuluh menit berselang, Indonesia kembali unggul lewat gol oleh Wanggai. Kembali aku bersorak-sorai bahagia. Di sebelahku, Mee sudah tampak tidak bersemangat lagi. Dia diam, fokus main ipod saja.

Ferdinand Sinaga kemudian menambah gol satu lagi di menit akhir pertandingan. 3-1!!!

“INDONESIAA!!!!” sorakku kegirangan.

Mee akhirnya memberikan selamat kepadaku.

Ya, gempita SEA GAMES membahana sampai kesini, tanah Amerika. Apalagi ini sejarah baru karena Indonesia telah berhasil menjadi tuan rumah. Pertandingan-pertandingan SEA GAMES dilaksanakan di dua kota: Jakarta dan Palembang. Di penutupan SEA GAMES 2011, Indonesia kemudian juga dinobatkan menjadi juara umum!

Kali ini, perasaan yang kurasakan berbeda saja. Rasa bangganya berbeda saja. Perasaan yang kurasakan sekarang berbeda dengan saat aku bersorak gembira di depan TV di Padang. Disini, aku membaca status-status teman-temanku di Facebook dan Twitter yang terus meng-update perkembangan terbaru SEA GAMES. Sesekali mencuri-curi waktu untuk streaming online menyaksikan pertandikan sepakbola. Aku juga terus mengikuti berita di salah satu situs berita Indonesia.

Setiap aku membacanya, ada rasa bahagia yang menyelinap dihatiku. Mataku terbuka. Bangsaku juga bangga kok dengan atlet-atlet nasional. Kami juga menghargai jasa-jasa mereka. Bangga, aku bangga melihat bagaimana orang-orang memberikan dukungan untuk Indonesia walau hanya lewat media sosial.

Luar biasa ya. Aku kagum menyaksikan bagaimana pertandingan olahraga yang hanya beberapa jam bisa menyatukan sebuah bangsa dalam semangat nasionalisme. Memang, jaraklah yang membuat kita bisa melihat sesuatu dengan lebih komprehensif. Semakin jauh dengan tanah air, kita pun bisa melihat bangsa ini dengan lebih bijak dan menemukan kebanggaan sebagai bagian darinya.

[1] Negara bagian

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *