[Marching Band]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Math is gooder than English.

Slogan itu terpampang besar di papan tulis Mrs. Reese. Ya, dialah guru nyentrik di kelas Calculus. Wajahnya tegas padahal, tak kukira dia se-gokil itu. Bahkan di hari pertama belajar di kelasnya, kami diajarkan senam Calculus. Mrs. Reese memutar musik up-beat lalu menayangkan slide berisi gambar-gambar grafik dengan absis x dan ordinat y. ada grafik y=x, y=x2, dan sebagainya.

Aku geli melihat muka-muka malas di wajah teman-teman sekelas yang berjumlah 24 orang yang diabaikan oleh Mrs. Reese.

Move your body! Moove!” teriak Mrs. Reese menyemangati kami.

Di hari pertama aku mendapatkan kursi di sebelah seorang senior juga bernama Andrew. Wajahnya ganteng bak artis Hollywood. Ia menggunakan kacamata yang membuat kesan pintar walaupun gayanya selengekan.

Masalahku di hari pertama adalah graphic calculator. Bentuknya seperti scientific calculator tetapi layarnya lebih besar karena bisa menampilkan grafik sesuai dengan persamaan yang kita masukkan. Di situ pertama kalinya aku menggunakan kalkulator jenis ini.

Melihat banyaknya tombol saja sudah membuatku bingung. Apalagi di hari pertama Mrs. Reese sudah memberikan kuis. Alhamdulillah, Mrs. Reese sadar akhirnya aku sedang kesulitan. Dia pun datang ke mejaku,

Never use this before, huh?

No, Mrs. Reese,” jawabku.

Andrew, can you  please help Mega with this?” Mrs. Reese malah menyuruh Andrew pada akhirnya.

Untung saja Andrew tidak keberatan,”Sure.

Setelah mengajarkan cara menggunakan kalkulator, Andrew bertanya, “Do you surf at home?

Dia mungkin mendengar dari Mrs. Reese bahwa aku dari Indonesia.

No. I can’t even swim. But, people do surf in nearby islands,” jawabku.

Wow, that’s must be cool. I would love to surf, there,” ujarnya.

You are very welcome,” ucapku senang hati.


 

Mom, I decided to join marching band. What do you think?” tanyaku kepada Mom suatu siang.

Wow Mega! You made a good decision!” ujar Mom bersemangat.

But…” ia lalu tampak memikirkan sesuatu, “I think the kids have been practicing since summer holiday.

So, do you think I am too late?” aku pun menciut.

Well, you have to meet the coach soon to make sure about that,” saran Mom.

Keesokan harinya, Mom memberikan pass kepadaku agar bisa keluar di jam study hall untuk menemui coach di ruangannya.

Namanya Mr. Morris. Tubuhnya seperti gambaran Profesor Slughorn di novel Harry Potter and the Half Blood Prince. Kacamata bulat bertengger di wajahnya yang juga bulat.

Hey there!

Sosok itu menyapaku ramah saat memasuki ruangannya. Aku pun menjelaskan siapa aku dan keinginanku untuk ikut bermain marching band.

Come see us practicing this afternoon. How about that?” kata Mr. Morris padaku.

Sounds great! So, I guess I’ll you later after school?

Yes. See you, Mega!

Aku sangat bersemangat sepulang dari ruang Mr. Morris. Aku jadi teringat masa SD ketika aku bergabung di drum band. Pertama kali masuk, aku bermain pianika. Di tahun akhir, aku memainkan lira. Wah, nanti aku main apa ya kalau di marching band? Pertanyaan itu cukup membuatku tersenyum-senyum sendiri.

Kalau sepanjang hari kerjaanku cuma mengikuti kelas lalu jam 3 sore sudah pulang, lama-lama aku bisa bosan. Aku sudah tak sabar punya kegiatan lain. Selain marching band, aku juga memutuskan untuk bergabung di bowling club, Japanese cultural club, dan English literature club.

Tapi, marching band sepertinya akan jadi yang paling seru. Tim ini selalu hadir di pertandingan football sebagai penyemangat tim Pennridge. Selain itu, akan ada kompetisi marching band antarsekolah Oktober nanti.

Mrs. P masih di ruangan study hall ketika saya kembali.

How was the meeting?” Mrs. P langsung bertanya.

He told me to come to the rehearsal this afternoon!” jawabku excited. Aku langsung menarik salah satu kursi dan duduk di sebelah meja Mrs. P.

Mrs. P adalah teman curhat yang menyenangkan. Sebenarnya dia tidak punya tanggung jawab apa-apa kepadaku, begitu pula Mee. Dia hanya guru yang ditunjuk untuk mendampingiku di study hall. Jaga-jaga, kalau misalnya kami sebagai exchange student ada kendala bahasa saat mengerjakan tugas.

Sejak awal, Mrs. P langsung membuatku kagum. Aku pikir dia keren, bisa jadi guru English as The Second Language. Dia menguasai bahasa Spanyol dan sedikit bahasa Jerman. Mrs. P sangat sabar membantu anak-anak pindahan yang kebanyakan dari Amerika Tengah dan Latin. Mereka biasanya sangat tidak lancar berbahasa inggris karena sebelumnya tidak pernah serius belajar bahasa Inggris. Tapi kemudian harus pindah ke Amerika Serikat karena urusan keluarga dan harus beradaptasi dengan cepat di sekolah.

Berbagai kamus ada di kelasnya. Aku lalu iseng bertanya,

Mrs. P, do you like to have my dictionary? I brought one from Indonesia.

Mrs. P lalu jadi excited. “Really? I would love to!

Aku pun memberikan pocket dictionary sederhana yang saya beli di toko buku Sari Anggrek di Padang kepadanya. Pocket dictionary itu pun menjadi saksi bahwa aku adalah orang Indonesia pertama di Pennridge.

Ada hal lain yang akan menjadi saksi bahwa aku pernah dididik di Pennridge. Jadi, di hall utama Pennridge dipasang bendera-bendera negara asal siswanya. Ada lebih kurang tiga puluh bendera yang telah menggantung di langit hall. Waktu pertama kali masuk, aku mencari bendera Indonesia tetapi tidak kutemukan. Berbeda dengan Mee, dia langsung memotret bendera Thailand yang telah menggantung di sana.

Beberapa bulan di Pennridge, Mom memberikanku kabar baik.

Mega! Did you notice that your flag is already up in the hall?” kata Mom.

Really? I didn’t!” aku tentu saja kaget dan bahagia. Akhirnya ada bendera bangsaku di sana.


 

Sore hari, seperti janjiku aku datang ke ruang Mr. Morris untuk menyaksikan rehearsal bersama. Sesampainya aku di ruangannya, aku langsung di bawa ke bagian belakang sekolah. Saat itulah aku baru tau ada sebuah lapangan yang sangat luas di bukit belakang sekolah. Lapangan itu biasa digunakan untuk latihan club olahraga dan marching band.

Sayup-sayup, dari kejauhan aku telah mendengar musik marching band. Semakin dekat, suaranya makin membahana. Mereka pun semakin jelas terlihat. Ada lebih kurang seratus orang yang sedang berlatih dikomandai oleh seorang kondaktur.

You can stand here and watch them,” Mr. Morris menyuruhku berdiri membelakangi sekolah dan mengamati bagaimana mereka bermain musik sambil terus bergerak membentuk formasi.

Ada beberapa wajah yang kukenal. Ada yang sekelas, ada yang sering aku temui saat makan siang, ada pula gadis yang membuatku makin yakin bergabung di marching band. Ya, ada Laura!

Setelah selesai, Mr. Morris lalu mengumpulkan mereka dan memperkenalkanku.

Here is Mega. She is an exchange student from Indonesia. She will join us and play with percussion team. I hope you guys help her, ok?

Aku hanya bisa tersenyum di sebelah Mr. Morris… kemudian membungkuk sebagai salam perkenalan.

Mereka kemudian bertepuk dan membalas senyumanku. Beautiful view with the trees as the background.

Menuju Bab XI

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *