[Hijab]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

You are wearing hijab, Mega. You look different so people know you. People know that you are an exchange student,” ucap Mee suatu hari saat kami sedang beristirahat sepulang sekolah.

Oh Mee, people know you, too,” aku tertawa geli mendengar keluhannya siang itu.

No… There are so many Asian faces in our school…” rajuknya.

Entah apa yang membuatnya begitu sensitif. Aku berasumsi kalau Mee sedang krisis identitas. Maksudnya, dia sedang ingin diperhatikan sebagai seorang exchange student, tetapi tidak semua orang beranggapan begitu ketika pertama kali bertemu dengannya.

Berbeda denganku katanya. Karena aku satu-satunya orang di sekolah yang memakai hijab, kebanyakan orang jadi penasaran dan akhirnya mencari tahu siapa aku. Lalu, mereka pun jadi tahu bahwa aku siswa asing yang berasal dari Indonesia.

Isn’t that hot?

Itulah pertanyaan yang seringkali dilontarkan orang-orang saat pertama kali berkenalan denganku.  Sewaktu sekolah dimulai, cuaca masih panas bak negara tropis sehingga siswa-siswa ke sekolah menggunakan pakaian serba minim. Aku sendiri muncul dengan penampilan yang tertutup dan membuat orang yang melihatku jadi “kegerahan”.

Well, I am used to this kind of weather. I am from tropical country. The weather is just like this,” jawabku sambil tersenyum kepada siapapun yang menanyakan hal itu.

Why do you wear that scarf…?” seorang teman perempuan bernama Melody bertanya di kelas Art and Design.

Hijab. We call this hijab,” aku menunjuk kerudung yang kukenakan, “In Islam, we have to cover our body, including our hair.”

But why?” Melody memasang muka prihatin.

Aku tersenyum, “To protect us. God says it in Al-Qur’an.

Quran? Oh yeah, I know. Good,” dia pun tersenyum sambil meraih kerudungku, “It’s pretty.

Waktu aku masih mengikuti orientation di University of Delaware, Mary pernah membawaku ke sebuah restoran di rest area untuk menyantap sahur. Kata Mary, ada restoran bernama Country Pride di rest area tersebut yang buka jam 4 subuh begitu.

Mary memilihkan menu makan pagi berupa steak, potatoes, egg, dan toast untukku. Mandy, sang pelayan, dengan cekatan menyiapkan pesanan tersebut.

Dibandingkan dengan makanan di hotel saat aku masih di Washington D.C., aku pun lebih menyukai menu Country Pride sebagai santapan sahurku.

This is so good, Mary. Good choice! This is like the best breakfast I’ve had so far in America,” ungkapku padanya.

Hahaha Mega! I am glad.  I am glad…” Mary pun tertawa mendengarnya.

Mandy yang hanya melayani kami subuh itu datang ke meja kami untuk mengecek makanan yang telah ia sajikan.

How’s everything? Good?

Mary pun segera menjawab, “She just told me that this is her best breakfast so far in America!

Mandy tersenyum lebar, “Cool! Did you just arrive in here?

Yes, she came here couple days ago. She is an exchange student from Indonesia,” Mary memperkenalkanku.

Aku pun tersenyum sambil terus mengunyah steak buatan Mandy.

And she is going to fast today. That’s why she is having a super early breakfast,” Mary menambahkan.

Fasting? I know! I know you must be a Muslim when I saw you wearing that head-piece,” Mandy tampak excited.

Are you gonna be okay, thou? It’s currently hot down here,” Mandy lalu mengekspresikan kekhawatirannya kepadaku.

Aku pun menapis kekhawatirannya, “I’ll be okay. I am used to the hot weather.”

Good, then. Well, good luck with your fasting!” ucap Mandy akhirnya.

Thank you, Mandy. You are so kind!” ucapku kembali kepadanya.

Dengan identitas aku kenakan ke mana pun kupergi ini, Allah mengizinkan aku bertemu dengan orang-orang yang menghormatiku apa adanya. Alhamdulillah, tidak ada yang memperlakukanku buruk. Ya, sekali-sekali aku ditanyai pertanyaan aneh-aneh saja seperti pertanyaan pastor di church.

Are you sunni or siyah?”

Atau pertanyaan menggelitik seorang bocah,

Do you have hair inside of your scarf?

Orang Amerika pada dasarnya senang memperhatikan penampilan orang lain. Bahkan, ucapan “I like you outfit today!” menjadi ungkapan penyemangat bagi mereka karena akan menambah rasa percaya diri orang yang dikomentari.

Pernah waktu aku ikut Mom dan Mee berbelanja ke sebuah toko sepatu di area Peddler’s Village, seorang pramuniaganya mengomentari hijab yang aku kenakan.

You look really neat! Even your pins[1] match the color of your head-scarf!” ucapnya membuyarkan lamunanku yang sedang menunggu Mee memilih-milih sepatu.

Oh Hi! Hahaha thank you,” jawabku sedikit salah tingkah.

I like it. How do you call that head-scarf of yours, by the way?” tanyanya.

Dengan bangga aku memperkenalkan identitasku ini, “Hijab. You can call it hijab.


 

Setiap pagi, aku biasanya sampai di kelas Calculus lebih awal daripada Mrs. Reese. Aku tidak  jarang harus berdiri di depan kelas beberapa menit sebelum akhirnya Mrs. Reese datang dengan kuncinya.

Seperti biasa, pagi itu aku hanya berdiri bersandar ke dinding menunggu Mrs. Reese. Aku melihat seorang gadis cantik berambut keriting blonde lewat. Pakaiannya unik, dia mengenakan kaos hitam polos dan celana panjang dengan motif seperti Batik. Dia pun sekilas menatapku tetapi kemudian berlalu.

Aku kemudian berpaling dan melihat jam tangan, kok Mrs. Reese lama sekali….

Hey!

Tiba-tiba gadis yang tadi lewat sekarang sudah di hadapanku.

Hi!” ucapku membalas sapanya yang sangat ramah.

Are you the exchange student from Indonesia?” tanyanya sambil mengangkatkan telunjuknya di dekat dada. “I am Laura, by the way,” tambahnya.

Yes, I am. I am Mega,

I heard from some friends that there is an exchange student from Indonesia and she is wearing a head-scarf. Once I saw you in the hall way but I did not get a chance to talk to you,” ujar Laura.

My mom was grown up in Indonesia!

Pernyataan itu sontak mengejutkanku. “Really? Cool! Where did you Mom live?

She lived somewhere in Borneo with my grandparents,” ungkapnya.

Wow, I am from Sumatra. The island to the west of Borneo,” aku mencoba menjelaskan.

Oh I see. I’ve never been there. I just got to visit Borneo couple years ago.

Really? That’s amazing! Do you like Indonesia?

Laura ternyata memang semenarik penampilannya.

Yes, I do! I would love to visit Indonesia again,” Laura mengucapkannya dengan wajah sangat excited.

Anyway, are you in any club at school?” tanya Laura mengganti topik.

Aku menggaruk kepala karena bingung harus menjawabnya apa tidak. Aku ada rencana untuk mengikuti  marching band tetapi belum aku bicarakan lebih lanjut dengan Mom.

Well, I’d love to join marching band but…

Marching band?” Laura tampak terkejut, “I am in marching band! I play flute!

Wow!!! You are in marching band? That’s cool, Laura!” aku menjadi sangat excited untuk bergabung ke dalam tim mereka.

It must be cool too if you join us. So, I guess I will see you again soon?

Laura pun menjabat tanganku sebelum akhirnya berlalu pergi.

Saat itu juga, aku membulatkan tekad untuk mendaftar menjadi anggota Marching Band.

Menuju Bab X

[1] Yang dimaksud pins oleh pramuniaga tersebut adalah pentul yang kugunakan di jilbab (hijab).

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *