[Church and Pizza]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Ada dua hal yang aku kenal sejak di Indonesia tetapi tetap asing: Church and Pizza.

Host family-lah yang memperkenalkannya kepadaku. Ada rasa ragu pada kali pertama hingga akhirnya…


 

Aku terlahir di keluarga Muslim, alhamdulillah. Di Sumatera Barat, daerah asalku, Muslim adalah kaum mayoritas. Aku asing dengan namanya tempat ibadah agama lain, termasuk gereja-church.

Mengikuti YES, aku pun tahu tanggung jawab yang harus aku jalani dan resiko yang harus aku hadapi. Sesuai dengan jargon YES, “Bridging Undersanding”, aku tidak boleh anti dengan perbedaan. Aku harus berani menyentuh tempat yang asing, demi menjadi jembatan antara dua hal yang berbeda.

Minggu pertama kami berada di Perkasie, aku dan Mee langsung diajak oleh Mom dan Dad ke church. Mee sendiri beragama Budha, jadi kami berdua sama-sama asing dengan church.

Church itu berada di Silverdale, tidak jauh dari rumah. Kami berempat menaiki satu mobil ke church. Pagi itu cerah, summer is still in the air. Langit biru, pepohonan hijau, dan matahari bersinar tak tertutup awan.

Ada dua bangunan di kompleks church tersebut, satu bangunan utama dan satu bangunan youth group. Lapangan parkirnya luas, cukup untuk lebih kurang tiga puluh mobil. Dad memilih spot khusus di dekat pintu dapur, bagian belakang gedung utama.

Ketika masuk lewat pintu utama, ada sepasang suami istri seumuran Mom dan Dad yang menyambut kami.

Good Morning!” sapa mereka.

Mom dan Dad pun langsung bersalaman dengan mereka. Mata pasangan itu kemudian tertuju kepadaku dan Mee.

Oh, you girls must be the exchange students that they were talking about! Welcome to our church!” ucap pria tersebut dengan ramah.

Thank you,” jawabku dan Mee membalas ucapan mereka.

Seketika aku dan Mee menarik perhatian orang-orang di church. Ada beberapa wajah yang sudah tidak asing lagi karena kami pernah bertemu sebelumnya di Roxbury. Ada pula wajah-wajah asing, kami pun memperkenalkan diri sebagai host daughters Mom dan Dad kepada mereka.

Sebelum memasuki main hall, aku melihat sebuah meja yang berisi minuman dan cemilan yang bisa disantap secara gratis. Aku pun menghampiri meja tersebut, tertarik untuk menikmati secangkir kopi panas.

Blaah… Pahit! Kopi apa ini pahit sekali?

Are you okay?

No! Seorang wanita memergoki wajahku yang tidak terkontrol karena harus menelan kopi yang sangat pahit itu.

I am. It’s just… I forgot to put some sugar, I guess,” jawabku menahan malu.

Hahaha oh girl! By the way, you must be Troy’s and Brenda’s exchange student, right?” wanita itu pun memperkenalkan diri, “I am Vickie.

Aku pun menjabat tangan yang ia julurkan, “I am Mega. Nice to meet you!

Oh your hands are so tiny!

Aku pun tertawa mendengar komentar wanita yang wajahnya tampak sedikit lebih muda dari Mom itu.  Gayanya fun, pakaiannya casual ditambah dengan kacamata bertengger di hidungnya yang mancung. Rambutnya pendek setelinga, berwarna cokelat muda. Bibir tipisnya membuat garis yang ramah di mukanya yang bersemu merah karena baru diterpa cahaya matahari.

The service begins. Aku duduk di sebaris dengan Mom, Dad, dan Mee. Grammy-Next-Door dan Pop duduk di belakang kami. Sejujurnya, aku cukup canggung untuk duduk di barisan ketiga dari depan itu.


 

Tiap Minggu, aku dan Mee kemudian terbiasa ikut Mom dan Dad ke church. Kami tentu tidak mengikuti ibadah mereka. Aku dan Mee hanya duduk saat pidato berlangsung. Aku sendiri cukup tertarik mendengarkan pidato pastor yang berdurasi lebih kurang 20 menit. Awal-awalnya aku kesulitan mengikuti accent-nya. Tapi lambat laut, telingaku mampu beradaptasi.

Mee berbeda,dia biasanya tidak terlalu suka mendengarkan Pastor. Dia akan sibuk sendiri dengan hal-hal disekitarnya, termasuk kertas. Mee akan menyulap selebaran-selebaran kecil yang dibagikan sebelum masuk hall menjadi rupa-rupa yang unik. Ya, tangan mungilnya sangat terampil berorigami.

Beberapa kali, Mom dan Dad bertanggung jawab menjadi pengajar Children Sunday School. Jadi, selama pidato di hall, anak-anak berada di basement church untuk mengikuti Children Sunday School sehingga mereka tidak mengganggu konsentrasi orang tua mereka yang sedang beribadah.

Sejak pertama kali menemani Mom dan Dad mengajar anak-anak, aku dan Mee pun langsung nyaman dengan mereka. Mereka semua sangat menggemaskan walaupun cerewet. Di kelas pertama yang aku ikuti, aku ikut mengajarkan anak-anak membuat anyaman dari kertas. Aku ingat pernah melakukannya di bangku SD dulu.

Anak yang aku dampingi waktu itu bernama Hannah. Gadis kecil itu memiliki sepasang bola mata yag berwarna cokelat terang. Alis tipis panjang menghiasi wajanya. Rambutnya blonde sebahu, lurus dan tersisir rapi.

Hannah mengerjakan anyaman kertas dengan rapi. Dia tidak banyak mengeluh seperti anak-anak lainnya. Setelah menyelesaikan tugas itu, Hannah tiba-tiba bertanya padaku, “Mega, how do you spell your name?

Aku pun mengeja namaku, “M, E, G, A.

Okay, wait.

Hannah pun meraih sebuah pensil dan menulis di salah satu pojok kertas hasil anyamannya.

To…. M… E… G… A…

Hannah lalu mengulurkan kertas itu kepada saya, “This is for you, Mega.

Aw Hannah, you are so sweet!

Aku pun tersipu malu saat diberikan hadiah handmade oleh Hannah. Mee yang menyaksikan kami mengambil pocket camera yang aku letakkan di atas meja.

Let me take a picture of you guys!” ucapnya.


 

I am a picky eater. Pizza adalah salah satu makanan yang aku hindari di Indonesia. Aku pernah mencoba sekali dulu di sebuah restoran pizza ternama di Padang, namun taste-nya tidak sesuai dengan lidahku. Sejak saat itu aku kapok.

Pizza Grammy.

Ya, dialah yang mengubah semua.

Kami memanggilnya Pizza Grammy karena setiap Jumat malam kami mengunjunginya dengan membawakan pizza untuk santapan makan malam. Dia adalah Ibu Dad yang tinggal tidak jauh dari rumah, yaitu di daerah Souderton.

Sebelum ke rumahnya, kami singgah terlebih dahulu di restoran Italia Lisa’s. Biasanya kami membeli dua kotak pizza.

Malam pertama kami mengunjungi Pizza Grammy, Mom membeli satu kotak cheese pizza dan satu kotak spicy chicken pizza. Saat Mom masuk ke dalam mobil dengan membawa dua kotak pizza itu, langsung saja aroma sedap memenuhi mobil. At that time, I soon fell in love with the smell.

Saya pun jadi optimis dan membayangkan kelezatannya. Mungkin pizza di sini berbeda? Hahaha

Pertama kali melihat Pizza Grammy, aku menyangsikan identitasnya sebagai ibu Dad. Tubuhnya mungil, bahkan lebih pendek dari padaku. Tapi setelah diperhatikan lebih lekat, hidung mancung dan bibir tipisnya menepis semua keraguanku. Mereka serupa.

Hello Girls!” Grammy menyambutku dan Mee dengan pelukan hangat.

Call me, Grammy. Well, their children call me Pizza Grammy if you guys already know,” tambahnya.

Pizza Grammy tinggal sendirian di rumahnya. Rumahnya sangat sederhana walaupun letaknya terbilang sangat strategis, yaitu persis berada di main road. Di terasnya ada sebuah ayunan. Dari pintu utama, aku langsung mendapati ruangan yang tertata dengan hiasan-hiasan klasik. Ruang TV dan ruang makan menyatu. Di belakang ruang makan, ada dapur, juga ruang laundry dan sebuah toilet.

Mom langsung menyiapkan soda dan membuka kotak Pizza. Ya, kami semua sudah kelaparan sejak membaui sedapnya aroma Pizza di dalam mobil. Aku yang was-was sebelumnya tanpa ragu mengambil satu potong cheese pizza.

Hmmm…. Hmmm… Aromanya ternyata tidak berbohong! Pizza itu sangat lezat, bahkan kejunya bikin saya ketagihan!

Mega, do you like it?” tanya Mom.

Yes, I really like it. The taste is so much different from the pizza I had in Padang,” jawab saya bersemangat.

You should try the spicy chicken one. It suits your taste, I think!” ujar Mom sambil menunjuk kotak spicy chicken pizza.

Patuh, saya ambil sepotong pizza dari kotak itu.

How is it?” Mom menunggu respon saya.

Saya speechless, menikmati lezatnya potongan ayam dan saos spesial sebagai topping pizza tersebut. Jempol pun saya angkat untuk mewakili lezatnya pizza itu. Pedasnya pas!

I love Pizza! I declared.

Menuju Bab IX

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *