[Thai Girl]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Ada yang bilang kalau mempunyai host sister alias tidak menjadi satu-satunya exchange student yang host family akan merusak kisah exchange-mu. Aku sendiri tidak pernah berdoa untuk menjadi satu-satunya exchange student yang di-host jadi saat aku diberitahu akan mempunyai host sister dari Thailand, aku tidak diselimuti ketakutan itu.

Aku pikir bakal keren bisa menjadi “saudara” dengan Mee yang berasal dari Thailand. Apalagi kami sama-sama orang Asia, Asia Tenggara pula, sepertinya budayanya tidak terlalu berbeda. Aku pikir tidak akan begitu sulit untuk beradaptasi dengannya.

Sejak bertemu Mee pertama kali, di mataku Mee layaknya gadis-gadis Korea yang aku tonton di drama romantic comedy. Mata sipit, kulit putih Asia, mungil, dan tingkahnya menggemaskan.

Mee jago bermain piano. Mee sangat senang kalau diajak makan siang ke rumah Grammy-next-door karena ada piano di sana. Setiap selesai menyantap makan siang, Mee akan segera beranjak duduk di hadapan piano. Lagu River Flows in You karya Yiruma menjadi favoritku sejak pertama kali mendengar Mee memainkannya.

Suatu ketika aku sempat sakit. Badan panas-dingin dan flu. Akibatnya aku tidak ke sekolah hari itu. Saat aku akhirnya bangun dan keluar kamar, aku mendapati ada tiga sticky notes ditempel di dinding depan kamar.

Aku tahu itu tulisan Mee. “Get Well Soon Mega”. Khas Mee juga, kartun cewek imut tak lupa iya imbuhkan dibawahnya. Oh Mee, you are so sweet…

Mee memang orang yang sangat ekspresif. Tingkahnya yang menggemaskan dan simple jokes-nya menjadi warna tersendiri di rumah kami. Sisi lainnya, Mee sangat minim “berbahasa”. Selain jam makan malam, Mee lebih senang di kamar. Hal ini pun membuat Mom khawatir.

Mega, do you talk to Mee a lot?” tanya Mom tiba-tiba saat aku sedang menggunakan laptop di ruang keluarga.

Hmm… Not really. Why, Mom?

She is in her room right now, isn’t she?” cek Mom.

Aku menoleh ke arah tangga, “I think so.

She loves to be in her room and she doesn’t talk as much as you,” ungkapnya.

Aku hanya bisa nyengir.

Well, I hope she can talk more so she can improve her English while she is here. You know, it’s one of our responsibilities as the host family to make sure about that,” ujar Mom dengan senyumnya.

Yeah, I know, Mom. I think she is still adjusting with her accent.

Mom mengangguk, “Yes, she has a thick accent.

Percakapan dengan Mom malam itu membuatku teringat celotehan Den, sosok yang aku temui di Roxbury dulu. Ya, sebagai exchange student, aku memang harus “cerewet”.

Materi ini sebenarnya seringkali di bahas di orientasi-orientasi yang aku jalani sebelum di-host. Seorang exchange student seharusnya lebih proaktif, tidak hanya menunggu: menunggu teman, menunggu diajak ngobrol, dan menunggu diberitahu. Karena sesungguhnya seorang exchange student itulah yang menjadi “new-comer”, dialah yang seharusnya menyesuaikan dengan lingkungan barunya.

Sewaktu orientasi, hal itu memang seakan hal yang remeh. Tapi, pada kenyataannya, menjadi proaktif memang tantangan tersendiri.

Aku sendiri bukanlah orang yang extrovert. Bahkan aku cenderung lama untuk bisa dekat dengan orang baru. Di awal perkenalan, aku biasanya menjadi sosok yang “pendiam”. Semakin lama pertemanan terjalin, aku pun bisa semakin terbuka dengan orang lain.

Aku sadar bahwa aku tidak bisa seperti itu selama di Amerika. Aku harus break my limit. Pertama kali aku mencoba SKSD dengan Mary, staf AFS yang dulu menjemputku di Washington D.C. Responnya sangat bagus. Mary malah senang saat aku tanyai banyak hal. Aku juga banyak bercerita tentang Indonesia dan dia pun sangat tertarik.

Alhamdulillah aku juga punya Mom yang senang bercerita. Dengan Mom aku juga tidak malu untuk memulai percakapan. Mom sangat responsif dan setia mendengarkan. Darinya aku belajar bahasa daily conversation yang lazim digunakan. Mom juga sering mengoreksi pronunciation-ku. Salah satunya…

Mom, do you have bats-ray?” tanyaku waktu mencari baterai untuk jam di kamar.

“Bats-ray? What do you mean?” Mom pun bingung.

“Bats-ray. For clock?” aku berusaha menjelaskan.

Clock?” Mom pun semakin bingung.

Hening sejenak…

Oh! You mean bed-de-ri?” Mom pun tertawa geli.

Hahaha. Saat itulah aku baru tahu cara mengucapkan kata battery dengan benar.

Malu disimpan dulu, yang penting belajar, bukan?


 

Tidak semua orang mengharapkan kehadiran saudara di rumah. Tapi, kehadiran mereka-lah yang menepis kesepianmu di rumah. Mereka bisa menjadi teman berbagi, bersenda-gurau, dan rekan duetmu hahaha.

Ya, Mee adalah saudara yang mungkin tidak pernah kuharapkan. Tapi, kehadirannya mewarnai cerita exchange year-ku. Rumah kami pun tentunya sangat membosankan jika hanya ada aku, Mom, dan Dad.

We decided to host two exchange students so you girls do not feel lonely leaving in our house. It must be boring to live only with these two old people,” gurau Dad.

Mee sangat bertalenta dalam hal musik. Di rumah kami sering duet dan Mee mengiringi dengan ukulelenya. Ukulele itu dibawa Mee dari Thailand. Katanya baru belajar beberapa bulan sebelum ke Amerika tetapi menurutku dia sangat jago memainkannya. Tak jarang kami duduk di depan laptop. Membuka situs yang memuat lirik dan kunci ukulele, lalu bernyanyi bersama. Lagu favorit kami adalah I’m Yours dan Price Tag.

Dari Mee, aku juga ketagihan nonton music cover di YouTube: mulai dari Boyce Avenue hingga gitaris asal Korea Sung Ha Jung. Mee juga sering menonton serial komedi youtuber Ryan Higa di channel HigaTV. Awalnya aku heran kenapa Mee sering ketawa-ketawa sendiri kalau sedang main laptop (biasanya dia menggunakan earphone). Suatu ketika aku pun menghampirinya,

What are you watching?” tanya saya penasaran.

Hahaha he is  so funny. You never watch him?” jawab Mee sambil terus tertawa.

Aku pun memperhatikan wajah Chinese yang sedang dia tonton.

No. Who is he?

Oh Mega, you gotta watch him!

Akhirnya aku pun ikutan menonton Ryan Higa hingga kami sakit perut karena seharian tertawa terbahak-bahak.

No wonder you have a good taste of humor, Mee.

Menuju Bab VIII

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

3 thoughts on “Sebelum Pulang (Bab VII)

    1. Hi! I dont really get what you’re asking but yeah I just wrote down the things that I remember and I think will give any good to the readers 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *