[Pennridge High School]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Aku diberikan beasiswa oleh US Department of State untuk belajar satu tahun di sekolah Amerika. Berdasarkan lokasi rumah host family, aku dan Mee lantas didaftarkan di Pennridge High School. And you know what? Mom bekerja di sana sebagai seorang staf di front office!

Hal yang menyenangkan adalah Mom, Mee, dan aku tiap pagi selalu berangkat bersama ke sekolah. Mom biasanya bekerja cuma separuh hari (shift pagi), jadi aku dan Mee pulang menggunakan bus sekolah.

Di Pennridge, aku dan Mee terdaftar sebagai siswa kelas 12. Di semester pertama ini aku memilih kelas Calculus, Environmental Science, German, International Relation, Digital Design I, dan Art and Design.


 

Hari pertama sekolah kebetulan adalah hari terakhir Ramadhan. Jam 4.30 pagi, aku dibangunkan oleh Mom untuk sahur. Super excited karena pagi ini aku akan memulai cerita di Pennridge High School.

Sekolah kami mulai pukul 7.15. Namun, Mom harus sudah ada di kantornya maksimal pukul 6.15. Oleh karenanya, kami sudah harus berangkat pukul 6 dari rumah.

Di rumah kami harus mandi bergiliran. Tidak bisa ada dua kamar mandi yang dipakai di waktu bersamaan.

Somebody will get burned and the other will get cold,” Mom menjelaskan bahwa ada masalah di pengatur suhu air kamar mandi.

Jadi, aku selalu menjadi yang pertama dibangunkan. Aku tidak keberatan karena aku pun harus menunaikan salat Subuh. Setelah aku selesai mandi, barulah Mom mandi. Selanjutnya, Mee mendapat giliran terakhir.

Kami berangkat saat pagi buta. Kabut masih menyelimuti tanah perkebunan ketika mobil Mom menyusuri jalan Blooming Glen. Mom menyetir santai, membiarkan aku dan Mee menikmati pemandangan pagi.

Di sekolah, ada Leanne yang sudah menunggu kami. Leanne adalah anak dari rekan kerja Mom di front office, Mrs. Wampole. Leanne mengatakan kepada kami bahwa pagi ini akan ada assembly[1] di auditorium. Tetapi sebelumnya kami harus ke homeroom[2] dulu.

Assembly berlangsung sederhana saja. Kalau di Indonesia, biasanya Kepala Sekolah menyambut siswa-siswinya di lapangan saat upacara bendera. Kalau di sini, kami dikumpulkan di dalam auditorium. Kami duduk di kursi yang nyaman sambil mendengarkan Kepala Sekolah berpidato dengan gaya yang sangat casual.

Di sela-sela pidatonya, Mr. Creeden, Kepala Sekolah mendekatiku dan Mee yang duduk bersebelahan,

This year, we have two exchange students from Indonesia and Thailand! Please help them to enjoy their year in Pennridge,” ujar Mr. Creeden.

Aku dan Mee berdiri dan membungkuk kepada hadirin. Teman-teman kami pun bertepuk riuh.

Itu adalah sambutan yang tidak kuduga.

Kelas pertama untukku seharusnya Calculus. Tapi karena assembly, kelas pertama ditiadakan. Aku pun langsung menuju kelas selanjutnya, yaitu Environmental Science. Kelas ini berada di lantai dasar, dua kelas ke kanan dari tangga tengah bangunan baru Pennridge High School.

Dua guru cantik dan muda menyambut kami; Ms. Ziemer dan Mrs. Handschumacher (siswa biasanya memanggilnya Mrs. H). Mereka sangat energetik dan fashionable! Kelasnya cukup besar. Ada bagian kelas yang terdiri dari meja dan kursi serta ada pula bagian yang hanya terdiri dari meja praktikum. Di dinding-dinding kelas ada banyak poster, baik poster infografis tentang lingkungan maupun poster Phillies (tim baseball Pennsylvania). Usut punya usut, ternyata Ms. Ziemer is a big fan of Phillies! Pantas saja begitu banyak aksesoris Phillies menghiasi kelas ini.

Aku memilih kelas ini karena ketertarikanku dengan isu lingkungan dan keinginan untuk menjadi seorang insinyur. Teknik lingkungan adalah salah satu bidang teknik yang menarik sehingga aku putuskan untuk mengambil kelas ini untuk belajar ilmu dasarnya terlebih dahulu.

Kelas berikutnya adalah German. Saat aku masuk ke kelasnya, aku kaget melihat imut-imutnya teman-teman di kelas itu. Baru terpikirkan olehku bahwa level yang aku ambil adalah German I. Tentu saja yang mengambil itu anak-anak freshman[3]!              Aku yang berpenampilan berbeda dengan hijab dan muka tua ala senior sontak menarik perhatian mereka. Mereka menatapku lekat dan berbisik-bisik. Untung saja tak lama kemudian Mrs. Szabo datang.

Mrs. Szabo berperawakan tidak seperti orang Amerika pada umumnya, matanya cukup sipit dan rambutnya cokelat gelap. Senyumnya tipis tetapi tampak tulus dengan matanya yang jadi garis lengkung.

Setelah kelas German, aku pun menuju ke ruang study hall[4]. Di sana aku bertemu dengan Mee. Kami sama-sama ditempatkan di ruang English as the Second Language (ESL). Ada Mrs. Pennypacker (kami menyingkatnya dengan Mrs.P) yang memegang kelas itu.

Aku dan Mee mendapatkan jadwal makan siang yang sama. Setelah kelas ESL, kami berjalan bersama menuju cafeteria. Aku yang masih puasa tidak enak membiarkan Mee sendirian ke cafeteria. Bak film-film Hollywood, siswa-siswa akan berebutan meja di awal tahun. Satu meja untuk satu geng biasanya. Senioritas juga berlaku sepertinya. Jadi, tiap orang berusaha menemukan temannya untuk bisa duduk di meja bersama. Biasanya meja yang didapatkan di hari pertama akan terus menjadi miliknya.

Alhamdulillah, aku dan Mee bertemu dengan Ella, keponakan Dad yang sempat kami temui di acara reunian keluarga beberapa hari yang lalu. Ella ternyata menyiapkan dua kursi kosong di mejanya. Yaay!!

Cafeteria Pennridge High School sangat luas. Di dalamnya berisi lebih kurang seratus meja makan segi empat bersudut tumpul dengan delapan kursi di sekelilingnya. Ada siswa yang membawa bekal dari rumah, ada yang mengantri membeli makanan yang menunya berganti setiap hari. Mee kali itu membeli makanan di kantin. Sehabis makan, makanannya di buang ke pojok tempat sampah. Ia langsung memisahkan sampah biodegradable, plastic, dan bottle.

Kami kemudian menuju kelas berbeda tetapi arahnya bersamaan. Aku menuju kelas Art and Design yang berada di gedung lama. Ruangan kelasnya seperti bengkel. Lotengnya tinggi. Mejanya seperti meja praktikum di lab-lab. Kursinya pun begitu, bundar tidak memiliki sandaran.

Mrs. Moose datang lebih awal. Pakaiannya chic dengan make up sederhana. Rambutnya gelap dan dikepang.  Suaranya yang serak menyapaku  hangat.

Hi Girl!

Hi,” jawabku sedikit canggung.

Are you a newcomer?” tanyanya sambil membereskan mejanya.

Well, I am an exchange student.”

Wajahnya tampak excited. “An exchange student? Cool! Where are you from?”

“Indonesia!” jawabku bangga.

“Indonesia? I heard it is very beautiful there. Oh wow!” Mrs Moose tampak makin tertarik. Tapi obrolan kami tidak dilanjutkan karena Mrs. Moose kemudian sibuk menyapa siswa lain yang baru masuk ke kelas.

Ternyata guruku di kelas berikutnya, Digital Design, juga Mrs. Moose. Aku dan Mrs. Moose pun berjalan bersama menuju kelas yang berada cukup jauh di gedung baru.

Digital Design semester ganjil atau Digital Design I adalah kelas yang akan membahas tentang penggunaan perangkat lunak design dua dimensi, yaitu Adobe Photoshop dan Adobe Illustrator. Sejak SMA, aku sudah akrab dengan program Adobe Photoshop. Untuk Adobe Illustrator, aku belum punya pengalaman sama sekali. Aku pun makin tertantang untuk segera mengerjakan projek-projek kelas yang dijelaskan oleh Mrs. Moose.

International Relation menjadi kelas terakhir bagiku. Kelasnya di gedung baru belakang lantai dasar, dekat dengan exit door menuju parkiran bus sekolah. Pas sekali untuk pulang nanti.

Pria gemuk berkacamata bulat menanti di kelas yang cukup kecil itu. Mrs. Deose namanya. Accent berbicaranya sangat khas. Di hari pertama itu, aku tidak mampu menangkap semua ucapannya. Hal ini membuatku cukup cemas. God, will I be able to understand his class?

Menuju  Bab VII

[1] Seluruh siswa berkumpul di auditorium untuk mendengarkan pengarahan dari Kepala Sekolah terkait tahun ajaran baru

[2] Di Pennridge High School, sistemnya adalah moving class. Tiap murid akan berpindah-pindah ke kelas yang dipilih di awal tahun ajaran. Untuk keperluan urusan akademik, beberapa mahasiswa (lebih kurang 25 siswa) dikumpulkan di satu homeroom dengan seorang guru wali.

[3] Freshman adalah sebutan untuk siswa kelas 9 SMA. Kelas 10 disebut sophomore, kelas 11 disebut junior, sedangkan kelas 12 disebut senior.

[4] Kelas mandiri di mana siswa biasanya mengerjakan tugas. Guru di ruangan hanya mengawasi, tidak mengajarkan mata pelajaran tertentu.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *