[Perkasie]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Dulu, waktu diwawancarai oleh pihak Kedubes Amerika Serikat di seleksi nasional, aku menceritakan harapanku untuk di-host di  daerah suburban, bukan di kota besar. Di daerah pinggiran saja, bukan kota yang terlalu metropolitan.

Alhamdulillah, impianku saat itu ternyata menjadi nyata.

Perkasie menjadi perwujudan mimpiku. Sebuah kota kecil yang hanya berjarak satu jam perjalanan mobil dari Philadelphia yang merupakan tempat terjadinya Declaration of Independence Amerika Serikat. Perkasie berada di daratan berbukit-bukit dan tidak padat penduduk.

Rumah Mom dan Dad terbuat dari kayu ibarat rumah Barbie. Alhamdulillah tidak berwarna pink (aku bukan penggemar warna pink), melainkan putih dengan sentuhan abu-abu di kunsen jendela dan pintu. Ada dua lantai dan basement. Semua sudut ruangan dimanfaatkan dengan baik, hanya ruang tamu di lantai satu yang cukup luas. Selain ruang tamu, di lantai satu juga ada sebuah ruang keluarga, dapur, ruang makan, kantor Dad, ruang laundry, dan toilet tamu. Ada juga garasi di sebelah kanan bangunan rumah utama, namun sudah beralih fungsi menjadi gudang.

Saat duduk untuk beristirahat sejenak di ruang keluarga, aku menemukan sesuatu yang membuatku tercengang: Al-Qur’an!

Someone gave it to us when we were in London,” Dad memberitahuku. Ternyata Mom dan Dad beberapa tahun lalu sempat menghadiri sebuah konferensi organisasi lintas agama di London. Seseorang beragama Muslim memberikan Al-Qur’an sebagai kenang-kenangan untuk mereka.

I finished it already,” lagi-lagi Dad mengejutkanku. Dad sudah khatam! Ya, bukan khatam membaca tulisan arabnya tetapi membaca terjemahan bahasa Inggrisnya. Tetap saja itu diluar ekspektasiku.

Mee yang beragama Budha tampak curious melihatku membolak-balik halaman Al-Qur’an.

You can read all of this?” Mee menunjuk tulisan bahasa arab.

Of course,” jawabku sambil tersenyum.

Di basement, ada TV dan berbagai alat permainan termasuk meja tenis dan billiard. Di sini Mom dan Dad biasa bersantai setelah kembali dari kantor dan setelah menyantap makan malam. Suhu di sini lebih sejuk. Oleh karena itu, Mom dan Dad suka take a nap di sini.

Di lantai dua, ada empat kamar. Kamar utama terletak di sisi kiri tangga. Ada satu toilet umum yang bisa aku gunakan bersama Mee. Mee memilih kamar yang berada tepat di seberang kamar utama. Sedangkan aku menempati kamar di ujung lorong kecil lantai dua yang menghadap ke jalan Dublin. Ada jendela yang langsung menghadap ke timur dan halaman depan. Pemandangan yang menyejukkan menurutku.

Ada sebuah surat yang terletak di atas drawer kamarku. Surat itu ternyata ditulis oleh Emily, anak kedua Mom dan Dad yang sudah berkeluarga dan menetap di Shiremanstown.

 

HI SISTER!

I am so excited to meet you soon! By the time you get this I will have met you already but I am so excited to get to know you more and more while you are here. I hope that you enjoy your classes and the time you have getting to know my parents and American culture. Don’t be afraid to try new things! (I think my mom is a pretty good cookJ) Try to learn something new everyday and always look for the positive in every situation! I hope that this is an amazing experience for you!

Love,

Emily

 

Surat itu pun tetap aku simpan di atas drawer. Aku sandingkan dengan album yang diberi oleh teman-teman SMA-ku, Consettra, dan boneka monyet orange hadiah dari tujuh sahabat; Aulia, Wimie, Audi, Modhy, Zaza, Ichin, dan Vani.


 

Karena aku dan Mee tidak membawa perlengkapan mandi dan berbagai kebutuhan sehari-hari lainnya, Mom mengajak kami untuk berbelanja ke department store terdekat: Kohl’s. Department store ini favorit Mom, katanya.

Shopping kali itu cukup menarik. Tema Kohl’s waktu itu masih summer. Warna outfit yang memenuhi toko itu didominasi oleh biru dan kuning. Mom segera saja menunjukkan bagian yang memuat pakaian untuk perempuan.

You girls can look around and make sure that you have all you need,” pesan Mom sebelum kami saling berpencar.

Siang itu aku membeli beberapa long-sleeves shirts, a pair of jeans, dan beberapa  perlengkapan kamar mandi. Cukuplah, sepertinya di cuaca Agustus ini baju-baju yang aku bawa dari Indonesia masih cocok.

Sebelum masuk ke dalam mobil, Mom mengambil foto aku dan Mee di depan Kohl’s.

First shopping in America!” seru Mom dengan kameranya.


 

Mom dan Dad mempunyai mobil sendiri. Dua-duanya jenis sedan, mobil Dad berwarna merah hati sedangkan mobil Mom berwarna silver. Sedan kepunyaan Dad sudah cukup tua. Sedangkan Mom baru saja membeli mobil baru karena van yang dulu dia miliki ditarik oleh perusahaannya. Kata Mom karena tahun serinya. Aku baru tahu kalau ada peraturan seperti itu di Amerika bahwa ada “batasan umur” untuk mobil. Jika sudah lewat batas, mobilnya akan diambil lagi oleh perusahaan lalu dihancurkan.

Mom lebih sering mengantar kami ke mana-mana. Mom pengemudi yang tertib dan cenderung santai. Mee biasanya duduk di kursi sebelah Mom, aku di belakang.

Dari kursi belakang inilah aku menikmati tiap perjalanan menyusuri my new home.

Rumah Mom dan Dad terletak di Dublin Rd (baca: Dublin Road). Di alamat pos, rumah ini terregistrasi di Perkasie. Namun, kata Mom sebenarnya rumah kami di luar kota Perkasie.

Perkasie sendiri adalah bagian dari Bucks County. Daerah ini berbukit-bukit. Pemandangannya mengingatkan aku kepada Bukittinggi, kota kelahiranku. Banyak perkebunan dan perternakan di sini. Kalau sudah mendekati kota, rumah-rumahnya lebih rapat (wall-to-wall). Kalau sudah ke pinggiran seperti daerah rumah Mom dan Dad, rumahnya sudah jarang-jarang karena masing-masing rumah memiliki halaman yang cukup luas.

Tidak jauh dari rumah, hanya lima menit jika ditempuh dengan mobil, ada sebuah danau buatan di Peace Valley. Sesekali di pinggiran danau, apabila cerah, rusa-rusa akan keluar dari hutan yang masih asri tak jauh dari sana. Tempat ini adalah lokasi yang pas untuk berpiknik, termasuk bagi Grammy-Next-Door dan Pop.

Grammy-Next-Door dan Pop adalah orang tua Mom. Mereka tinggal di sebelah rumah. Makanya keluarga memangginya Grammy-Next-Door. Adik bungsu Mom memiliki rumah di sebelah selatan rumah Grammy-Next-Door. Beliau mempunyai usaha membuat selai kacang bermerek Landis. Pabriknya tepat di sebelah rumah Grammy-Next-Door. Oleh karena itu, wangi kacang selalu semerbak di sekitar kediaman mereka.

Menuju Bab VI

 

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

One thought on “Sebelum Pulang (Bab V)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *