[Gagang Telepon]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Pukul 4, Mom membangunkanku. Saatnya sahur. Ternyata, Mom telah bangun lebih awal untuk mempersiapkan makanan untukku.

Look what I have! We bought a rice cooker. We think that rice is the best food for the super early breakfast, isn’t it?” Mom menunjukkan rice cooker mini barunya kepadaku.

Aku pun tertawa, “Oh Mom, you are so kind!

We know how Indonesians and Thai people love rice. That’s why we bought this,” Mom tersenyum. Pipinya bersemu merah ketika tersenyum. Kulitnya yang putih bersih dengan sedikit kerutan yang menunjukkan usianya yang sudah tidak muda lagi. Mata Mom berwarna cokelat terang. Ada lipatan kecil di ujung-ujung matanya ketika ia tersenyum. Mata indah Mom berada di balik kacamata oval berbingkai hitam tipis. Kacamata itu berubah hitam tadi ketika diterpa cahaya matahari.

Subuh itu aku menyantap nasi, satu telur rebus yang dipotong empat, dan kurma. Ada jus jeruk juga.

Thank you for preparing this super early breakfast, Mom. You are amazing,” ucapku.

Kembali tersenyum manis, “You are very welcome, Mega.”


 

Aku tidur kembali setelah salat subuh. Saat aku bangun kembali setelah lewat pukul tujuh, kudapati kabin kosong. Mungkin orang-orang sedang sarapan, pikirku.

Pagi yang cerah membuatku tergoda untuk ke luar kabin. Aku pun berjalan-jalan di sekitar kabin.

Sepi, mungkin orang-orang memang sedang menyantap makan pagi. Ketika aku kembali ke kabin, ada seorang laki-laki asing sedang duduk di teras.

Hi, you must be the exchange student! I am Den, Troy’s and Brenda’s friend,” laki-laki itu memperkenalkan diri.

Yes, I am Mega from Indonesia. Nice to meet you,” sahutku.

Di teras, ditemani angin segar pagi dan sinar mentari, aku pun asik mengobrol dengan Den. Ternyata Den berdomisili di India. Waktu dia bilang dia bekerja di sebuah gereja di India, aku kemudian menyimpulkan kalau dia adalah seorang misionaris. Kami berbincang panjang lebar tentang sekolah, muslim, dan Indonesia. Den sangat ramah dan menjadi teman mengobrol pagi yang menyenangkan.

You are very lucky to be hosted by Troy and his family. I hope you enjoy your year, Mega,” ucapnya sebelum kami berpisah.


 

Agenda siang hari itu adalah membantu pelayanan makan siang di cafetaria. Hari itu giliran Mom dan Dad, maka mereka mengajak aku dan Mee. Aku menjadi wajah yang paling asing dan menyedot perhatian dengan penampilanku sebagai seorang muslimah. Mom dan Dad pun berusaha memperkenalkan kami kepada setiap pasang mata yang tampak curious dengan identitas kami.

Ternyata ada hal lain yang disiapkan oleh Mom. Sebuah international calling card!

Sudah beberapa hari di Amerika, aku belum mengontak keluarga… Ternyata Mom sadar akan itu. Sore hari, Mom membawa kami ke kantor camp untuk meminjam telepon.

Baru kali itu aku bergetar, merasakan jarak yang tersambung oleh gagang telepon. Rasa deg-degan menunggu suara siapa yang akan menjawab teleponku sore itu (terdapat 11 jam perbedaan waktu dengan Padang).

“Halo?”

Suara Mama membuat tubuhku semakin bergetar dan menyerah kepada air mata. Itulah pertama  kali sejak menginjakkan kaki di Amerika, aku menyadari jarak yang sekarang nyata membentang di antara kami. Aku begitu jauh dari orang tua saat itu…

Di Padang masih subuh saat itu. Mama sedang bersiap untuk sholat Subuh. Aku membayangkan Mama dengan mukenah putih katunnya.

Sambil sibuk menyeka air mata, aku ceritakan semua yang aku lewati dari perjalanan di pesawat hingga aku akhirnya di camp ini. Aku juga sempat berbicara dengan Kak Lani dan Dinda. Sayang, Papa bekerja shift malam jadi masih belum pulang.

Aku tak pernah seemosional itu berbicara lewat gagang telepon. Jika menggunakan telepon, aku hanya akan berbicara tentang tugas atau sekedar curhat dengan kawan yang masih bisa aku bayangkan bagaimana telepon kami saling tersambung. Kali ini, teleponku menyambung ribuan kilometer agar bisa kudengar suara Mama.

Mamaku tidak lancar berbahasa Inggris. Oleh karena itu, Mama dan Mom tidak bisa berbincang sore itu. Mereka hanya saling mengirim sapa lewatku. Now, I have two mothers.

Sebelum menutup telepon aku pun tak lupa berpesan kepada Kak Lani, “Kak, jan lupo buek Skype yo.[1]


 

Setelah melewati sore yang cukup dramatis, bak adegan pemeran utama yang saling merindu, buka puasa menjadi hiburan yang aku nantikan. Spicy chicken, itulah menu berbukaku malam itu. Bau harumnya menggodaku untuk turun dari kamar menuju dapur. Lagipula, matahari sudah menuju ufuknya.

Aw! THIS IS SPICY!

Mom baru saja menyicip saus pedas yang diramunya sendiri. Mukanya merah padam dan langsung mencari air minum.

Oh Mom. Is it that spicy?” aku berusaha menahan tawa.

It is but I think you will like it that way,” jawab Mom yang masih kepedasan.

Is it time, yet?” tanya Mom sambil melihat ke jendela.

Aku pun menoleh ke arah jendela, mencari-cari matahari. Hanya tinggal semburat jingga di langit pertanda maghrib sudah tiba.

I think it is already!” jawabku bersemangat.

Yaay!” Mom pun ikut bersemangat. Segera ia sajikan spicy chicken di meja makan.

Jangan bayangkan potongan-potongan seperti paha atau dada ayam. Chicken yang Mom sajikan malam itu adalah kubus-kubus daging tanpa tulang dengan saus merah yang membuatnya menggiurkan.

You don’t eat, Mom?

No, I already had my supper[2] but I’ll stay here. I won’t let you eat alone,” jawab Mom lagi-lagi dengan senyumannya yang manis.

Nasi yang aku makan malam ini berasal dari beras Thailand. Butirnya panjang-panjang, tidak seperti butir beras Bukittinggi yang biasa aku makan di rumah.

Ah, forgot vegetables! Wait,” Mom tiba-tiba beranjak ke kulkas dan membawa kembali potongan-potangan wortel yang telah dihangatkan di microwave sebelumnya.

Oh Mega, your spicy taste is really spicy! You put that much of sauce on your rice?!

Mom kaget ketika aku menuangkan saus merah kental itu di atas nasi. Sudah kebiasaan, aku tidak suka melihat nasiku pucat pasi begitu saja. Maklum, orang Padang.

Hahaha I love it this way, Mom. Well, it is not spicy for me, it tastes good!

Aku pun makan dengan lahap. Nyam! Buka puasa kali ini sangat sangat mengenyangkan! Spicy chicken Mom sangat enak dan… tidak pedas menurutku. Bahan utama sausnya aku yakin adalah saus tomat. Enaknya pas!

Menuju Bab V

[1] Kak, jangan lupa buat (akun) Skype ya.

[2] Sinonim dinner; makan malam. Host fam-ku lebih familiar menggunakan kata supper daripada dinner.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

One thought on “Sebelum Pulang (Bab IV)

  1. Pingback: Fiqih Fandrian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *