[Summer Camp]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Mom dan Dad tidak langsung membawa kami ke rumah mereka. Carol sebenarnya sudah memberitahukan rencana itu kepadaku di sela-sela orientasi.

Mega, your host family is currently in a summer camp so you and Mee will stay there in couple days before heading to their house,” ucap Carol saat kami berdua berjalan beriring menuju ruang makan.

Oh, that’s cool,” responku santai.

Well, I hope you don’t mind, Mega,” Carol berhenti sebentar seperti sedang memilih kata yang tepat, “It is a Christian summer camp.

Aku pun terdiam. Christian summer camp? Kedengarannya tidak seperti Camp Rock yang tadi sempat terlintas di pikiran.

I’m fine, Carol.

Carol pun tersenyum. “I know you are. I don’t want you to feel uncomfortable. You should enjoy it. It must be fun!

Aku pun membalas senyuman itu.

Perjalanan menuju camp sangat indah. Kami melewati country side yang masih asri. Aku tidak menyangka masih banyak lahan terbuka di Amerika. Banyak ladang jagung yang kami lewati. Musim panas pun menunjukkan kesegarannya dengan ladang-ladang hijau dan bunga yang bermekaran.

Dad menyetir mobil dengan kecepatan normal. Tidak buru-buru. Ia tampaknya membiarkanku menikmati pemandangan itu. Mee sepertinya masih jet-lagged, mukanya masih lesu dan setelah lebih kurang satu jam ia pun menyerah dalam tidur.

Mega, tell us about your family,” kata Mom yang mengetahui aku masih melek.

Well, I have two sisters. My older sister is Lani. She is 19. My younger sister is Dinda. She is 9. My Dad works at a cement industry and my mom is a pharmacist,” jawabku.

Where do your sisters go to school?” tanya Mom lagi.

My older sister is in her third year in medical school. My younger sister is still in the fifth grade.

And what do you want to be in the future, Mega?” Mom menambah pertanyaan.

I want to be an engineer.

Wow, Dad is an engineer,” Mom melirik Dad.

Yes, I graduated from an engineering school, mechanical engineering major,” kata Dad sambil melirik kearahku lewat cermin yang terpasang di tengah kaca depan mobil.

Percakapan itu pun terus mengalir. Mom bercerita tentang ketiga anak mereka yang sudah menikah semua. Anak pertama mereka bernama Rachel. Sekarang tinggal di Virginia. Anak kedua bernama Emily, juga sudah berkeluarga dan telah menetap di sebuah kota yang berjarak dua jam perjalanan mobil dari rumah mereka. Sedangkan anak ketiga mereka, Francis, sudah menikah namun masih berkuliah di Eastern Mennonite University, Virginia. Kata Mom, aku akan segera bertemu mereka di camp nanti.

Saat kami telah keluar dari Delaware dan sudah memasuki wilayah Pennsylvania, aku menyaksikan sekelompok orang yang tampak berbusana unik dan banyak di antara mereka yang sedang mengendari kereta kuda bak delman di Indonesia.

Look, they are Amish! Lucky to see them outside. They live with no electricity, you know?” Dad menjelaskannya kepadaku dan Mee yang sudah bangun.

Aku kaget mengetahui masih ada sekelompok orang Amerika yang masih hidup dalam kesederhanaan seperti mereka. Busana mereka masih sangat sederhana. Laki-laki tampak mengenakan kemeja lengan panjang, kebanyakan berwarna kecoklatan. Mereka mengenakan celana panjang dengan sepasang ikat kulit menggantung di masing-masing bahu. Kaum perempuan menggunakan dress selutut dengan warna-warna pastel. Mereka menggunakan sebuah penutup kepala tipis yang hanya cukup menutupi bagian atas kepalanya. Aku melihat mereka memakai boots. Maklumlah, mereka kebanyakan berprofesi sebagai petani. Aku menebak bahwa hamparan ladang di tepi jalan ini adalah usaha mereka.


 

Kami sampai pukul 7 malam namun suasana masih sangat terang. Musim panas menggantung matahari lebih lama di langit.

Seorang perempuan berusia 20 tahunan datang menyambut kami saat Dad akhirnya memarkir mobil di sebelah sebuah kabin sederhana berlantai dua di kompleks Roxbury Holiness Camp.

Hi Mom, Dad,” perempuan itu menyapa, “And you girls must be Mega and Mee!

Girls, this is Rachel, our oldest daughter,” Mom memperkenalkannya kepada kami.

“Nice to meet you, Rachel,” aku dan Mee menjabat tangannya erat.

Rachel kemudian mengantar kami ke kabin “Mt. Carmel”. Kabin itu telah lama menjadi milik Mom dan Dad. Kabin mereka dibangun dari kayu yang dicat putih. Kunsen pintu dan jendela di lantai satu dicat berwarna merah maroon. Di teras depan ada banyak kursi berjejer. Mulai dari kursi lipat, sofa, hingga kursi goyang. Ada pula meja rendah untuk sekedar meletakkan minuman dan snack untuk tamu yang datang. Sepertinya banyak orang yang senang berkunjung ke mari, kupikir.

Untuk masuk ke kabin itu kami melewati dua lapis daun pintu, seperti kebanyakan pintu di Amerika. Hal itu dilakukan untuk keamanan dan penting saat musim dingin. Ada tangga yang langsung kami temui di depan pintu kedua. Di sebelah kanan, aku melihat ada pintu yang tertutup rapat. Kata Mom, itu adalah ruangan yang disewakan kepada sebuah keluarga yang telah lama menjadi sahabat mereka. Di sebelah kiri, ada ruang keluarga yang berukuran 3 m x 4 m. Ada pintu yang menghubungkan dengan dapur sekaligus ruang makan dari sana.

Kamarku dan Mee berada di lantai dua, pintunya tepat berada di depan tangga. Ada jendela yang mengadap ke barat dari kamar kami. Daun jendelanya dapat dibuka-tutup secara vertikal. Aku pun membukanya, membiarkan udara segar musim panas menyapa kami.

This place is beautiful.


 

Mega, when is the time to break fasting?” tanya Mom.

It should be before 8 p.m., I guess. I don’t know the exact time. It should be when the sun goes down,” jawabku.

Mom, Dad, Rachel, Brian (suami Rachel), dan Mee sudah makan malam pukul 6 tadi. Ketika mereka kembali, mereka pun sibuk mempersiapkan camp fire[1], kecuali Mom. Mom mempersiapkan makanan berbuka untukku.

Malam itu aku berbuka dengan sandwich dan anggur. Mom menemaniku selama berbuka. Kata Mom, aku tidak boleh terlalu kenyang karena nanti malam akan ada snack selama camp fire.

And the best part about Ifthar that night was KURMA! Aku sangat kaget ketika Mom mengeluarkannya sebagai makanan penutup.


 

Mom dan Dad ternyata telah mengundang sahabat-sahabat mereka ke camp fire malam itu.

We want to intoduce you to our friends. I’ve told them that we will host two exchange students and they were all excited to meet you!” ucap Mom bersemangat.

I hope you girls don’t get confused. Just enjoy the night. That’s okay if you can’t remember their names tonight,” gurau Dad.

Benar saja, aku tidak bisa langsung mengingat nama orang-orang yang sedari tadi menjabat tangan atau yang sekedar mengucap Hi lalu memperkenalkan namanya.

Ada lebih kurang sepuluh keluarga yang memenuhi undangan Mom dan Dad. Ada beberapa penyewa kabin di camp yang kebetulan lewat lalu akhirnya mampir sebentar.

Malam itu pula aku bertemu Francis, anak ketiga Mom dan Dad, dan istrinya Audrey. Francis berpostur tubuh atletis. Paras wajahnya ramah dan lembut. Ada semburat merah di sekitar tulang pipi yang masih jelas tampak walau di bawah gelapnya malam. Sedangkan Audrey, tingginya hampir sama dengan aku dan Mee. Ia tampak begitu kecil ketika bersanding dengan Francis. Namun, setiap melihat pasangan muda itu, aku selalu merasa iri. Such a sweet couple.

Malam itu aku menikmati camp fire ala Amerika. Orang-orang sibuk membakar sosis  untuk dijadikan hotdog. Kata mereka, sosis yang dibakar langsung di api jauh lebih enak daripada sosis yang dipanggang dengan kompor. Aku ingin mencoba, tetapi aku ragu kalau sosis itu halal.

Don’t worry, Mega! We have prepared beef sausages for you,” kata Mom sembari mengeluarkan sebungkus sosis baru yang khusus mereka persiapkan untuk satu-satunya Muslim di sini.

Alhamdulillah. Aku pun ikut  serta duduk di dekat api, menunggu sosisku matang.

Snack khas camp fire a la host fam lainnya adalah smore. Smore adalah singkatan dari some more. Intinya, snack ini bikin kita minta tambah terus. Smore terbuat dari dua biskuit, sepetak coklat, dan marshmallow. Lagi-lagi, Mom sudah mempersiapkan marshmallow yang tidak mengandung olahan daging babi. They prepared everything for me and that made me feel so special.

Menuju Bab IV

[1] Api unggun

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

One thought on “Sebelum Pulang (Bab III)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *