You can call us Mom and Dad

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

For me, the best part of America is its roadway. Perjalanan dengan mobil dari District of Columbia sangat nyaman. Jalanannya mulus, tolnya pun benar-benar tol. Mobil-mobil mematuhi aturan jalan, tidak ugal-ugalan. Mary pun begitu. Ia menyetir dengan tertib, tidak kebut-kebutan.

Di sepanjang jalan aku dan Mary asyik mengobrol.

How do you feel right know? Are you excited to meet your host family?” tanya Mary suatu ketika.

Of course I am! Also nervous,” jawabku sambil tersenyum simpul.

Your host mom sounds really nice. We talked on the phone once. She can’t wait to meet you!

Senyumku melebar, “Really?

Yeah. I hope you will have a wonderful year with your host family!” ucapnya.

Perbincangan kami panjang, sepanjang jalan menuju Maryland. Kata Mary, bahasa Inggrisku bagus dan dimengerti. Modal yang baik untuk setahun ke depan, katanya. Yang penting adalah aku harus berani bicara.

Yang kami tuju di Maryland adalah kantor AFS-USA di kota Baltimore. Di sanalah Mary bekerja. Kantor AFS Baltimore Area itu sederhana saja, berada di sebuah skyscraper di bilangan Baltimore St. Interiornya pun sederhana. Di salah satu dindingnya ada foto-foto para exchange student dari berbagai negara yang ditempatkan di east-coast. Ada fotoku juga disana. Alhamdulillah aku sudah ada di stage sudah mendapatkan host family.

Tidak berlama-lama disana. Setelah Mary selesai dengan urusannya, kami langsung melanjutkan perjalanan ke University of Delaware di Newark, Delaware, lokasi DelMarPa North Arrival Orientation.

Sore hari kami akhirnya sampai di sana. Ternyata aku exchange student pertama yang tiba. Ada beberapa staf yang siap mendampingi kami sampai besok. Ada Roger, Jo, Holy, dan Carol, sang Local Coordinator.

Welcome, Mega! How was your trip?

It must be such a long journey from Indonesia!

Aku sempatkan berbasa-basi sedikit. Jujur, aku lelah sekali. Aku pun akhirnya permisi dan memberi tahu kalau aku harus salat. Holy pun dengan senang hati mengantarkanku ke kamar. Ia memberi tahu kamar mandi ada dimana dan aku bisa salat di kamar itu. Untuk pertama kali, aku gunakan kompas kiblat salat yang diberi oleh Pak Angah[1].

Setelah sholat, aku pun tertidur pulas hingga pukul delapan malam. Mary membangunkanku untuk mengajak saya makan malam di luar. Yap, time for ifthar!

Mary dan Holy mengajakku makan di Mexican Restaurant, tak jauh dari penginapan. Aku bingung harus memilih menu yang mana. Akhirnya Mary yang memilihkanya untukku.

Indonesians love spicy food, right? Get me rice and spicy chicken please for this young lady,” ucap Mary kepada pelayan restoran.

Buka puasa kali itu terasa sangat spesial karena untuk pertama kalinya aku berbuka ditemani dua orang non-Muslim. Walau mereka tidak menjalankan puasa, mereka sangat menghargaiku dan menyediakan makanan yang sangat enak untukku berbuka puasa. Aku sangat berterima kasih kepada Holy dan Mary.

Kami pun segera kembali ke penginapan. Sebelum aku tidur, akhirnya rombongan exchange students yang mendarat di New York sampai di penginapan, termasuk host sister-ku. Dialah Mee. Mee berasal dari Bangkok, Thailand. Berbeda dengan saya, Mee mengikuti program AFS bukan YES.

Selain Mee, ada pula yang dari Swiss, Perancis, dan Swedia. Mereka semua tampak lelah, aku tahu.

Hi! I am Mega from Indonesia,” sapaku. Mataku tertuju kepada satu-satunya wajah Asia di sana selain saya, Mee.

Nice to meet you, Mee! We’re gonna be sisters!

Aku pun membantu mereka membawa barang bawaan ke kamar. Mee dan Deborah dari Swiss berbagi kamar bersamaku. Setelah semua koper berada di kamar, Mee pun langsung mengeluarkan kamera polaroid.

Let’s take a picture together!” ajaknya dengan semangat.

Kemudian Deborah mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

I got chocolate for both of you,” ujarnya sambil memberikan satu batang cokelat Swiss untukku dan Mee. Kulit wajahnya yang putih bersih pun bersemu merah saat ia tersenyum

Hmm… The chocolate is so good! Itu adalah kali pertama saya mencicipi cokelat asli olahan orang Eropa.

Mee pun tidak mau kalah. Ia pun membuka kopernya dan mengeluarkan suvenir khas Thailand bermotif gajah.

This is for you, Mega,” Mee memberikan sebuah dompet kain berwarna pink kepadaku.

Aw Mee, this is so cute. Thank you!” aku pun mengucapkan terima kasih kepadanya. Aku kemudian ikut membuka koper dan mengeluarkan suvenir khas Indonesia yang sudah kusiapkan. Tampaknya sekarang memang momen bertukar suvenir. Aku pun memberikan tas kain batik untuk Mee dan gantungan kunci kayu Rangkiang[2] untuk Deborah.


 

Ini adalah orientasi ketiga bagiku. Orientasi di Indonesia, lalu terpusat di DC, dan sekarang orientasi Chapter Delaware, Maryland, and North Pennsylvania (DelMarPa North).

Dalam coretan di kertas berukuran A5 saya tuliskan poin-poin yang saya dapatkan selama orientasi chapter berlangsung:

Be honest

– Do not bring passport anywhere you go

– Contact Person: Carol J

– Speak English

– Say “Hello”, “How are you?”

– Never go to a car who driver is drinking

– Remember the 3 golden rules: No Drugs, No Driving, No Hitch-hiking[3]

– Help anyone, especially host family

– Be a good ambassador of your country

– Volunteering

– Get along to each other

– Accountability

– Adjust to new environment

– Appreciation, “Thank you”

– Understand people who are different

– Join extracurricular activities

– Try new things!

– Do homework, go to school!

– Answer stupid questions wisely

– Be clean

Catatan kecil itulah yang menjadi bekal bagiku untuk segera bertemu host family. Segera setelah sesi itu berakhir.


 

Kembali menunggu.

Do you know how our host parents look like?” aku pun bertanya kepada Mee, memecah kesunyian.

Yes, they sent me pictures,” jawab Mee.

I didn’t get any pictures of them,” ucapku kecewa, “You should tell me when they are here. You will recognize them first.

Mataku mulai mengantuk dan pandanganku tidak menuju pintu masuk lagi. Aku menopang dagu, menerawang dinding yang digantungi bendera-bendera negara asal kami.

Sebelum aku tertidur karena terlalu lama menunggu, seketika jantungku berdetak cepat ketika melihat sepasang orang dewasa yang sudah cukup berumur masuk ke ruang tunggu membawa dua poster: “Welcome Mega” dan “Welcome Mee”. Poster bertuliskan “Welcome Mega” dibawa oleh pria tinggi besar berjanggut. Wajahnya sendu, walau kulihat ia mengulam senyum ke arah kami. Di sebelahnya seorang wanita dengan rambut disanggul kecil dan berponi, senyumnya merekah hingga pipinya bersemu merah. Wanita itu membawa poster pink bertuliskan “Welcome Mee“.

Tulisan sederhana yang dihias menggunakan spidol berwarna warni itu memberikan efek yang menggelitikku untuk rasanya melompat-lompat. Dua orang yang memegang poster itulah yang menjadi host parents-ku dan Mee; Troy dan Brenda.

Troy, Brenda, glad to meet you! Your daughters have been waiting for their parents. Here is Mee and this is Mega,” Carol pun memperkenalkan kami kepada mereka.

Aku pun canggung. Semua percakapan yang sudah dipersiapkan menguap.

You can call us Mom and Dad,” begitulah wanita yang bernama Brenda itu memecah kekakuanku.

Hi Mom, I am Mega. Nice to meet you!

Ia pun membalasku dengan rangkulan hangat. Aku pun menyerah kepada pelukannya.

Berbeda dengan Mom, Dad tampak lebih kaku. Dad tidak banyak bicara sampai akhirnya kami telah membawa seluruh barang bawaan ke sedan Nissan berwarna silver di tempat parkir di seberang gedung.

So listen, girls. All we want is for you to be happy living with us. Just tell us anything you need. Now we are your parents and you become our responsibility while you’re living with us. So, never hesitate to talk to us. Remember, we want you to be happy,” Dad menatap lekat mata saya dan Mee.

He wants us to be happy, I remember. Bismillah, setahun bersama mereka akan dimulai sejak detik ini.

Menuju Bab III

[1] Suami dari kakak Mama

[2] Bangunan kecil di pekarangan Rumah Gadang untuk menyimpan padi

[3] Hitch-hiking adalah menstop mobil di pinggir jalan dengan mengulurkan tangan (kebanyakan orang menggunakan jempol) untuk meminta tumpangan.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

One thought on “Sebelum Pulang (Bab II)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *