[Welcome to America!]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Menyeberangi udara, aku dibawa sampai ke belahan dunia yang bernama Amerika oleh sebuah penemuan manusia yang sangat kusyukuri: pesawat.

Waktu tempuh dari Jakarta sampai ke Washington DC lebih kurang 24 jam, termasuk saat harus transit di Kuala Lumpur, Malaysia dan Frankfurt, Jerman. Aku sangat menikmati perjalanan panjang itu. Alhamdulillah aman dan nyaman. Selama di perjalanan aku banyak tidur atau mengobrol dengan teman di sebelah, berusaha mengabaikan getaran pesawat raksasa itu.

Saat turun dari pesawat terakhir kami, maskapai United Airlines, aku mulai gugup. Sesampai di Bandara, siapa yang akan menjemput kami? Ternyata, banyak volunteer yang sudah menunggu kami disana. Mereka semua tersenyum bahagia menyambut kami. “Welcome to America! Welcome to DC!

Hari itu tanggal 7 Agustus 2011. Udara musim panas di luar Dulles International Airport seketika terasa begitu berbeda. Pekat. It was humid. Rasanya itu seperti baru masuk ke mobil yang sudah lama dijemur di parkiran terbuka. Untung saja tak lama berselang bus yang akan mengantar kami ke hotel datang.

Sesampai di hotel, wajah-wajah ramah volunteer YES menyambut kami. Mereka tahu kami lelah, maka kami langsung diberikan kunci kamar. Sesampai di kamar, aku mendapati dua tempat tidur lainnya sudah ada pemiliknya tapi tampaknya sedang keluar. Tak berpikir panjang, kurebahkan badan di satu kasur tambahan dan segera tertidur.

Beberapa menit kemudian, aku mendengar beberapa orang masuk kamar, berbicara dengan Bahasa Inggris. Aku buka mata, ternyata ada lima orang asing yang masuk kamarku. Salah seorang di antaranya menyapa,

“We are sorry. Did we disturb you? Just sleep, you still have time before dinner.”

Ya, aku patuh dan kembali tertidur pulas. Sepertinya mereka langsung pergi setelah itu.


 

NO! Aku tidur benar-benar pulas. Malangnya, jamku belum disetting sesuai dengan waktu DC. Aku pun bingung, sudah jam berapa sekarang? Tidak ada satu orang pun di kamar. Aku tidak ingin ketinggalan dinner! Aku pun lalu bergegas mandi dan berganti pakaian yang layak.

Benar saja, aku terlambat. Alhamdulillah tidak ada yang memarahiku. Masuk ke dalam ball room hotel membuatku pangling. Ruangan itu tersusun begitu rapi. Ruangan riuh rendah, ada seseorang bersorban yang sedang berbicara. Round tables dimana-mana. Ada kertas bertuliskan nama negara di masing-masing meja. Sebelum duduk di meja “Indonesia” aku sempatkan mengambil makanan terlebih dahulu tentunya.

Pria bersorban itu ternyata Imam Bashar Arafat, tokoh Muslim Amerika. Tokoh perdamaian lintas agama. Beliau adalah presiden Civilization Exchange and Cooperation Foundation. Beliau memberikan selamat dan semangat kepada kami untuk menjalani petualangan selama satu tahun di Amerika. Mendengarkan seorang tokoh Muslim menyambut kami, aku merasa sangat nyaman dan tentram.

Welcome to America! Muslims are minority here unlike in your home countries. But, that is the challenge for you here. America is a big country. You will get to know many things, learn new things. Enjoy your year and make the most of it!

Imam Bashar Arafat menghipnotis kami dengan optimisme yang ia kirimkan dari podium. Aku ketinggalan beberapa pidato lainnya. Tak apa-apa lah, setidaknya aku tidak melewatkan makan malam yang sedap itu dan pidato Imam Bashar Arafat.


 

Aku melewatkan dua hari di Washington DC. Sebelum menemui host family[1] kami masing-masing, kami harus menjalani Arrival Orientation terlebih dahulu. Di hari pertama, kami keluar hotel mengunjungi banyak tempat di DC. Beda halnya di hari kedua, kami hanya di dalam hotel untuk mengikuti beberapa sesi diskusi dan presentasi.

Di hari pertama, kami mengunjungi Union Station, stasiun kereta api DC yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Stasiun itu bergaya arsitektur klasik, didominasi oleh warna putih gading. Atapnya tinggi berbentuk setengah lingkaran. Semua orang tampak sibuk, hanya yang sedang menikmati makan siang tampak santai di beberapa café.

Kami tidak akan ke mana-mana dengan kereta api. Hal unik yang kami lakukan disana adalah budgeting exercise – latihan jajan! Kami diberi uang $10 untuk dipakai selama di sana. Kami bisa menggunakannya untuk membeli apa pun, minimal tiga barang. Aku pun memutuskan untuk membeli beberapa suvenir dan some delicious chocolate ball.

Setelah itu, kami beranjak ke US Department of State[2]. US Department of State adalah lembaga yang mensponsori program pertukaran pelajar yang kami ikuti. Kami dikumpulkan di sebuah ruangan konferensi. Ruangan itu luas dengan tiga layar terpasang di bagian depan dan satu meja panjang untuk lebih kurang lima orang. Meja-meja yang bisa menampung sekitar 200 orang pun tersusun membentuk huruf U. Di bagian belakang, terdapat ruangan untuk para translator yang bertugas saat sebuah rapat diselenggarakan di sini. Suara dari para translator nantinya akan dapat didengarkan melalui headset yang ada di masing-masing meja.

Bak duta besar negara, kami duduk dengan bangga disana. Tak lama kemudian, para pejabat di lembaga itu pun datang dan menyampaikan sambutannya kepada kami. Entah mungkin karena saat itu aku masih kena efek jet-lag, tidak ada satu pun pidato yang terekam dalam memoriku.

Hal yang paling istimewa di hari itu adalah kesempatan untuk mengunjungi The Islamic Center of Washington DC. Allahu Akbar… Sungguh sebuah anugrah dari Allah bisa mendengar adzan dan menunaikan salat Ashar di sana. Aku sangat berterima kasih kepada YES yang sudah memberikan kesempatan kepada kami para Muslim untuk menjalankan ibadah di rumah Allah. Di sana, tempat salat di bagi menjadi dua, yaitu bagian untuk perempuan dan untuk laki-laki.

Kawan-kawan dan volunteer kami yang nonmuslim pun dengan sabar menunggu kami beribadah. Ada yang berfoto-foto dengan latar arsitektur yang indah dengan hiasan kaligrafi. Tampak para perempuan menggunakan head pieces atau selendang sederhana untuk menghormati masjid. Indahnya toleransi…

Aku juga sangat bersyukur bahwa selama orientasi, kami selalu diberikan waktu untuk salat. Mereka benar-benar menghormati jadwal salat dan menyesuaikannya dengan rangkaian kegiatan yang harus kami jalani. Di hotel, kami disediakan satu ruangan yang berukuran 10 m x 8 m untuk dijadikan musala.

Hari itu diakhiri dengan jamuan makan malam bersama Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Bapak Dino Pati Djalal, dan President CECF, Imam Bashar Arafat. Dua tamu spesial itu just made my night. Aku bisa berbincang dekat dengan kedua tokoh itu walau hanya beberapa menit dan juga sempat berfoto bersama. Malam itu, hatiku juga semakin teduh karena Imam Bashar Arafat sempat melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan irama yang begitu indah.

Pada hari kedua kami disibukkan dengan focus group discussion. Sesi-sesi itu membahas tentang being an ambassador, effective communication, dan culture and religion in America. Inti dari sesi-sesi itu adalah agar kami bisa beradaptasi dengan baik di “rumah baru” kami nantinya. Kami juga diharapkan bisa menjadi representative yang baik bagi negara kami. Senang rasanya bisa saling berdiskusi dengan teman-teman dari negara lain. Mereka semua kritis dan seperti tidak kenal lelah. Melihat mereka semangat, aku pun turut semangat. Ada pula sesi khusus dari Imam Bashar Arafat yang menyampaikan tentang practicing Islam in America. Alhamdulillah, kami diberi tips-tips yang sangat bermanfaat seperti bagaimana berwudhu di toilet kering (solusi: sediakan handuk/alas kaki), meminta host fam untuk tidak membiarkan peliharaan terutama anjing untuk masuk kamar agar kamar bisa menjadi tempat suci untuk sholat, dan mencari makanan halal.


 

Dag dig dug…… Siapa yang akan menjemputku?

Satu per satu teman-temanku dijemput oleh host fam mereka. Satu per satu mereka berangkat ke bandara menuju state[3] masing-masing…

GALAU.

Aku putuskan untuk membunuh waktu di pojok internet. Di sana ada beberapa komputer yang tersedia dan terkoneksi ke internet. Saat aku online itu, ternyata Kak Lani juga sedang online di Facebook.

Assalamu’alaikum Ega. Lah tibo di rumah?[4] Kak Lani lebih dulu menyapaku.

Belum sempat membalas, ia menulis lagi, “Egaaaaa ko mama ka chatting[5]

Aaaa… Rasanya itu seperti ingin teriak memanggil MAMA!

Wa’alaikumussalaam ww. Mamaaaaaaaaaa… Alun lai Ma, masih manunggu host fam,[6]” jawabku ditutup dengan emote sedih (T.T).

“Ega online pakai apa?” tulis Kak Lani.

“Pakai WiFi di hotel Kak.”

“Sekarang lagi sama siapa?”

“Masih ada beberapa  teman sih disini.”

“Jam berapa sekarang disana?

Sejenak aku lirik jam, “Jam 12.07 siang Kak.”

“Ooo.. Tadi sahur sama apa? Mama tanya.”

“Sama kentang gitu deh Ma. Enak pokoknya.”

Paragede tu ma hahaha[7],” celetuk Kak Lani.

“Ya gak lah hahaha.”

Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku. “Mega?”

Yes?”

Somebody is waiting for you at the front.”

ALHAMDULILLAH! Aku akhirnya dijemput!

Alright. Thank you. I’ll be there soon,” jawabku bersemangat.

Langsung saja kukabari kepada Kak Lani dan Mama lewat chatbox kalau host fam-ku sudah menjemput. Kak Lani dan Mama turut excited dan bilang kepadaku untuk menyampaikan salam kepada host fam nanti.

Setengah berlari, aku bergegas menuju lobby hotel. Seperti apa ya wajah host Mom dan host Dad? Pertanyaan itu terus berputar di benakku.

Hi Mega!

Wanita paruh baya menyapaku dengan ramah. Wanita itu memakai kacamata, rambut blonde sebahu, dan pipinya bersemu merah.

I am Mary, an AFS volunteer.”

Hi Mary! I am Mega from Indonesia,” aku balik memperkenalkan diri sambil menjabat tangannya.

I am here to pick you up and drive you to Delaware where all students in our area gathered before going with your own host families,” jelasnya.

Jadi dia bukan host Mom-ku? Sedih sih. Namun, aku tetap bersyukur telah dijemput oleh seorang wanita yang sangat ramah.

Koper, tas gunung, dan tas jinjing, semuanya kami angkut ke mobil Mary. Setelah berpamitan kepada teman-teman yang masih ada disana dan para volunteer, aku pun berangkat bersama Mary melintasi eastcoast Amerika.

Menuju Bab II

 

[1] Keluarga angkat

[2] Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat

[3] Negara bagian

[4] Sudah sampai di rumah?

[5] Egaaaaa ini mama mau chatting

[6] Belum Ma, masih menunggu host fam

[7] Pergedel itu mah hahaha

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

One thought on “Sebelum Pulang (Bab I)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *