[PROLOG]

Sebelum Pulang adalah cerita bersambung tentang perjalanan saya ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat melalui program KL-YES. Cerita ini bermula dari proses seleksi pada tahun 2010, hingga pada akhirnya saya menjalani program ini dari Agustus 2011 sampai dengan Juni 2012.

 

Amerika; benua terpanjang secara vertikal yang aku ketahui ada di belahan barat bumi. Itu yang aku pahami sejak SD. Setidaknya sedunia sepakat begitu: mereka barat, kita di Indonesia adalah timur.

Tidak pernah bermimpi untuk hidup satu tahun, apalagi memiliki keluarga di sana. Namun, masa depan itu tidak selalu tentang mimpi. Ia bisa saja hanyalah buah dari satu dari sekian pilihan yang tiba-tiba di sodorkan di masa kini. Tanpa ekspektasi, keputusan itu mengantarkan kita kepada momen yang tidak pernah digambarkan oleh harapan. Kadang, momen itulah yang menjadi kebahagiaan yang murni.

Saat duduk di bangku kelas 10 di SMAN 1 Padang, aku diperkenalkan dengan organisasi nirlaba bernama Bina Antarbudaya. Bina Antarbudaya telah berpengalaman menyelenggarakan berbagai program pertukaran pelajar. Bina Antarbudaya telah bekerja sama dengan AFS (banyak orang lebih mengenal organisasi ini) selama puluhan tahun. Sejak tahun 2004, ternyata ada program Youth Exchange and Study (YES), program beasiswa dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk pelajar dari negara-negara yang penduduknya mayoritas Muslim.

Informasi itu aku dapatkan di Open House Bina Antarbudaya Chapter Padang tahun 2010 yang saat itu bertempat di SMAN 2 Padang. Aku iseng ikut bersama teman-teman SMA. Sejak beberapa tahun sebelumnya, selalu ada siswa dari sekolahku yang lulus program pertukaran pelajar baik yang ke Amerika Serikat maupun Jepang.

Satu kelas sudah disiapkan panitia untuk kami, anak-anak kelas X hadir untuk mendengarkan cerita dari kakak-kakak yang sudah pernah menginjakkan kaki di belahan dunia lain. Ada lebih dari lima puluh orang yang memadati kelas yang sejatinya hanya menampung tiga puluhan anak itu. Sesak, panas, tapi kami tetap antusias mendengarkan keterangan dari kakak-kakak volunteer.

Niat awalku waktu menghadiri Open House itu untuk ikut pertukaran pelajar dua minggu (Jennesys short program) ke Jepang. Akan tetapi, setelah mengetahui lebih jauh tentang program YES dan mendengarkan pengalaman kakak-kakak telah pulang dari Amerika, hatiku luluh pengen ke Amerika juga. Sepulang dari sana, aku bingung, bagaimana caranya bilang ke orang tua?

Sampai di rumah, aku langsung mencari Kak Lani, kakakku satu-satunya. Hati ke hati, aku ceritakan keinginan yang muncul selepas Open House. Aku sampaikan pula keinginanku mengikuti YES, berarti aku harus menunda kelas 12 SMA selama satu tahun. Aku harus menjalani program selama satu tahun disana. Tidak boleh pulang. Aku tahu, orang tuaku tidak akan langsung setuju dengan keinginanku yang tiba-tiba ini.

Kak Lani ternyata punya cara sendiri untuk me-lobby orang tua kami. I can always count on her in this kind of situation. Kak Lani menceritakan ke mama-papa tentang orang-orang yang pernah ikut pertukaran pelajar sebelumnya. Kak Lani juga membujuk mama-papa untuk memberikan kesempatan kepadaku untuk setidaknya mencoba. Toh masih ada tahapan seleksi yang harus aku lewati, katanya.

Alhamdulillah, lobi Kak Lani berhasil. Aku diperbolehkan ikut seleksi!

Proses seleksi ternyata tidak se-simple yang aku bayangkan. Aku harus melengkapi formulir agar bisa mengikuti seleksi. Ada puluhan halaman yang harus aku isi: identitas diri, keluarga, daftar prestasi, riwayat pendidikan dan organisasi, dan lain lain. Aku juga harus melampirkan tiga surat rekomendasi dari sahabat dekat, pihak sekolah, dan tetangga. Untuk kategori sahabat dekat, Ica tentu menjadi pilihanku. Ica telah menjadi sahabatku sejak tahun pertama di SMPN 8 Padang. Kami berdua selalu duduk sebangku selama tiga tahun. Kami pun akhirnya masuk SMAN 1 Padang tapi sayang tidak satu kelas lagi. Guru Fisika di kelas 10, Bu Misnawati, aku minta untuk mengisi surat rekomendasi sebagai perwakilan dari pihak sekolah. Bu Mis, begitu panggilaan akrabnya, dengan senang hati membantuku. Terakhir, aku meminta guru mengaji di Masjid Al-Hikmah di dekat rumahku, Ustadz Satrio. Sejak SMP, aku sudah dibimbing oleh Beliau setiap mengikuti Pesantren Ramadhan di Masjid Al-Hikmah.

Ada tiga tahap yang harus aku lewati di tingkat Chapter Padang. Aku pun harus siap bersaing dengan teman-teman kelas X dari berbagai kota di Sumatera Barat dan Riau. Tahap pertama adalah tes pengetahuan umum. Tesnya tertulis, terdiri atas 100 soal pengetahuan umum, 50 soal Bahasa Inggris, dan penulisan esai yang topiknya dipilih dari tiga yang telah disediakan panitia. Alhamdulillah, aku lulus tahap pertama. Selanjutnya, aku harus mengikuti wawancara kepribadian dan bahasa Inggris. Yang pertama aku ikuti adalah wawancara bahasa Inggris bersama dua orang volunteer. Wawancaranya hanya berlangsung lebih kurang lima menit. Kedua pewawancara sangat fun dan friendly. Aku pun tidak merasa gugup sama sekali. Aku hanya diminta menceritakan kehidupanku sehari-hari, aktivitas, dan hobiku. Setelah menunggu lebih dari empat jam, akhirnya aku mendapatkan giliran untuk wawancara kepribadian. Aku diwawancarai oleh Tante Im, pemimpin Chapter Bandung, dan Kak Fara, yang saat itu masih menjadi kandidat program YES tahun 2010-2011. Ada satu pertanyaan yang sampai sekarang masih aku ingat,

“Bagaimana jika nanti saat kamu sudah di negara tujuan, lalu kamu mendapatkan kabar kalau orang tuamu sakit keras? Apakah kamu akan meminta untuk pulang?” tanya Tante Im.

Entah kenapa pertanyaan itu memancing emosiku. Air mata pun tidak terbendung keika membayangkan situasi itu. Namun, sebisa mungkin aku menjawab, “Saya akan mengontak keluarga terlebih dahulu. Kalau situasinya masih bisa ditangani oleh orang-orang di rumah, saya percayakan kepada mereka. Namun jika saya dibutuhkan atau situasi terburuknya ada yang meninggal, saya akan pulang setelah mendapatkan izin.”

Alhamdulillah, skorku tidak buruk walaupun sempat menangis (terlalu dramatis memang). Aku pun lulus ke tahap selanjutnya; Dinamika Kelompok. Kami yang lulus sampai ke tahap tiga dibagi menjadi beberapa kelompok. Per kelompok, kami diminta untuk membuat suatu alat peraga dari barang-barang sederhana seperti kertas, stick es, dan sedotan.

Pengumuman hasil akhir seleksi tingkat Chapter Padang diumumkan lewat Facebook. Waktu itu sore menuju maghrib. Aku hidupkan komputer di lantai 2 rumah setelah mendapat kabar bahwa pengumumannya sudah keluar. Aku pun seketika speechless saat melihat namaku ada dideretan atas garis merah. Sontak, aku pun segera berlari menuruni tangga dan mencari mama.

“Ma, ega lulus…” Aku memeluknya dan menangis di pangkuan Mama. Entahlah, aku masih belum yakin apakah itu kabar bahagia atau tidak bagi Mama saat itu.

Aku menjadi calon kandidat yang mengikuti program Kennedy Lugar – Youth Exchange and Study (KL-YES). Oleh karena itu, aku harus mengikuti seleksi selama tiga hari di tingkat nasional. Aku harus mengikuti seleksi wawancara bersama perwakilan Bina Antarbudaya dan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Ada tes Bahasa Inggris juga, namanya SLEP TEST. Selain itu, ada berbagai kegiatan seru seperti games dan diskusi. Selama berkegiatan, panitia pun menilai pribadi kami.

Pengumuman final kandidat peserta program KL-YES 2011-2012 diumumkan di akhir tahun 2010. Saat itu aku sudah duduk di kelas XI IPA 2. Ingat G 30 S? Gempa 30 September 2009 yang melanda Padang dan sekitarnya. Gempa itu memporak-porandakan sekolah kami yang berlokasi di Jalan Sudirman nomor 1. Akibatnya, sampai saat itu kami masih harus belajar di kelas darurat beratapkan terpal dan berdindingkan triplek.

Aku yang sempat nakal memakai headset di kelas memberanikan membuka laptop ditengah jam pelajaran untuk melihat pengumuman. “ALLAHU AKBAR!” Spontan aku mengucapkannya saat melihat ada namaku yang tertulis disana. Headset itu membuatku tidak dapat mengontrol volume suara teriakanku itu. Alhasil, seluruh mata tertuju kepadaku. Bahkan temanku di kelas sebelah pun berucap, “Itu pasti Mega.”

Ups. “Alhamdulillah, aku lulus, kawan!”

Menuju Bab I

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

One thought on “Sebelum Pulang (Prolog)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *