Dulu waktu kelas 3 SMP, ada lebih kurang 20-an siswa kelas 2 dan 3 yang ditunjuk untuk ikut lomba cerdas cermat di TVRI Sumbar. Saya salah satunya.

Tahap demi tahap saya lalui bersama tim. Saya sangat senang dengan kompetisi itu karena kami dituntut berpikir cepat dan tepat. Apalagi bisa tayang di TV.

Tim sekolah saya akhirnya lolos sampai ke tahap final! Yay! Betapa senangnya saya saat itu. Saya pun sangat berapi-api ketika bercerita di rumah kalau tim kami akan melaju ke final!

Saat hari H tiba, Bapak Guru pendamping kami memanggil saya. Waktu itu kami sudah berada di gedung TVRI. Bapak Guru memanggil saya ke tempat yang agak jauh dari gerombolan kawan-kawan yang lain. Ibu Guru yang juga ikut bersama kami pun turut serta dalam percakapan itu.

“Mega, hari ini kita yang berangkat lebih dari jumlah anggota tim yang dibutuhkan,” ucapnya.

“Ya Pak?” saya pun merasa akan ada sesuatu…

Berputar-putar… Mulai dari banyaknya anak yang hadir. Lalu untuk komposisi tim yang lebih baik. Kemudian tentang teman-teman saya yang juara kelas… Bapak pun akhirnya sampai pada satu pertanyaan, “Kamu tidak apa-apa kan hari ini jadi supporter saja?”

Deg. Saya hanya bisa menarik senyum, tak keluar kata-kata. Ini final… Haruskah saya yang tidak ikut tahap yang penting ini?

“Bapak rasa kamu orang yang berjiwa besar. Tidak apa-apa ya Mega?”

Saya tidak tahu apa maksud Bapak dengan kata-kata “jiwa besar” saat itu. Apalah yang saya pahami dari makna “jiwa besar” saat saya bahkan belum berusia 15 tahun. Yang saya pahami, saya adalah murid yang tidak akan protes bila diminta mengalah agar teman-teman yang lain bisa terus melaju ke babak final.

Duduk di bangku penonton, saya terus berpikir. Mungkin memang saya sebelumnya tidak pernah melakukan hal yang istimewa selama perlombaan. Kami melaju sampai babak final karena teman-teman yang jauh lebih pintar. Saya bahkan bukan juara 1 di kelas. Bukan anak terpintar. Wajar saja saya yang diminta tidak ikut serta…

Jiwa besar. Apa artinya, Pak? Apakah saat itu Bapak hanya sedang menghibur atau saya benar-benar seperti yang Bapak katakan?

Seringkali, ketika hal yang benar-benar yang saya harapkan tak jadi sampai dalam genggaman, saya kembali mengingat kata-kata Bapak.

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *