Notifikasi di LinkedIn mengingatkan bahwa sudah tiga tahun saya menjadi bagian dari Kantor Berita ITB. Tersenyum. Waktu selalu bisa membuatmu terkejut dengan jauhnya jarak hari ini dengan saat kau bisa menitipkan kata “lalu”.

Bekerja paruh waktu sebagai reporter web ITB (itb.ac.id) adalah salah satu keputusan terbaik yang saya ambil selama masa perkuliahan, sekaligus takdir termanis dari Allah. Keinginan sedari SMA bahwa saya ingin memiliki pekerjaan paruh waktu dan sekaligus menjadi wartawan kampus ternyata bisa menjadi satu. Bila Allah yang telah berkehendak, mimpi tak lagi sekedar mimpi…

Kembali teringat Oktober 2013 lalu, ketika saya menemukan poster “ITB Journalist Apprentice (IJA)” di salah satu group Facebook. Saya juga melihat poster cetaknya di mading-mading kampus. Seketika saya yakin, saya harus ikut! Dengan keluguan seorang mahasiswa TPB (Tahap Persiapan Bersama/tahun pertama di ITB), saya ikuti seleksi tertulis, kemudian melaju ke uji simulasi wawancara, dan terus ke seleksi wawancara pribadi.

Bulan Januari 2014, saya resmi menjadi reporter Kantor Berita ITB. Mengenakan kemeja hitam berlogo Kantor Berita ITB dan nama saya sendiri, saya penuh semangat menghadiri acara-acara di ITB. Alhamdulillah karena amanah baru ini, orang tua mengizinkan saya membeli kamera pribadi. Sejak saat itu, kamera adalah kawan terbaik saya dalam berkarir sebagai reporter.

Saat saya bergabung, Kantor Berita ITB masih berada di bawah Unit Sumber Daya Informasi di bawah kepemimpinan Rektor Akhmaloka. Kalau urusan tanda tangan kontrak (sekali dalam satu semester), saya harus pergi ke Gedung Annex lantai 3. Sejak tahun 2015, Kantor Berita ITB berpindah tangan ke Direktorat Humas dan Alumni. Urusan pekerjaan pun berpindah ke lantai 1.

Apa yang saya dapatkan setelah bergabung dengan Kantor Berita ITB?

Kesempatan.

Kesempatan untuk berkerja dengan tim super!

Tim 2013-3014 (GM: Kak Divie)
Tim 2014-2015 (GM: Kak Furqan)
Tim 2015-2016 (GM: Bang Teguh)

Kak Divie, Kak Neli, Kak Sabe, Kak Devi, Kak Furqan, Kak Najm, Kak Nida, Kak Akbar, Kak Bangkit, Kak Mae, Kak Wija, Bang Teguh, Ninik, Anto, Bayu, Tasya, Kak Yasmin, Kak Vinska, Kak Huda, Kak Adit, Kak Bayu, Laras, Ijo, Abdiel, Faan, GIR, Anin, Owen, Gilang, Holy, Aldy, Arief, Okta 

Rapat redaksi, ditatar Ibu Bos, bolak-balik koordinasi Humas-Tim IT Web, mengurus IJA dari tahun ke tahun, saling tag berita…

Kakak-kakak jahil tapi ngangenin… Semuanya yang tidak hanya untuk bekerja secara profesional tetapi juga jadi kawan selama menjalani pahit manis kampus hehe. Yang sering diteror tapi jarang sekali protes karena agenda peliputan dadakan. Kawan-kawan yang dengan sabar memberikan evaluasi dan mengingatkan untuk terus menjalankan tanggung jawab 🙂

Kesempatan untuk mengenal dosen dan staf ITB!

Karena bekerja Kantor Berita ITB langsung berada di bawah Direktorat, saya mendapatkan pengalaman untuk bekerja bersama Bapak/Ibu dosen dan staf. Rapat bersama mereka dan saling berdiskusi untuk pengembangan web ITB. Selain itu tentunya, saya mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai dosen-dosen ITB yang luar biasa,

Dosen pertama yang saya wawancarai adalah Dosen Arsitektur, Bapak Sutan Hidayatsyah. Saat itu saya masih menjadi peserta IJA. Hal yang mengesankan adalah ternyata Bapak Sutan berdarah Minang seperti saya. Maklum, mahasiswa rantau yang masih hijau ini selalu sangat senang bila bertemu saudara sedarah. (Baca beritanya di sini)

Suatu ketika, saya mengambil kesempatan untuk mewawancarai seorang profesor Sekolah Farmasi, Prof. Andreanus Andaja Soemardji. Cukup tegang pada awalnya karena saya awam akan istilah-istilah Farmasi. Namun, saya sendiri sudah menyiapkan batasan konten wawancara yaitu terkait konsumsi minuman isotonik. Alhamdulillah, ternyata Prof. Andre sangat paham keadaan saya yang berasal dari prodi non-farmasi sehingga Beliau dengan perlahan menjelaskan istilah-istilah yang tidak saya pahami. Tapi sejak saat itu saya pun belajar bahwa sebelum mewawancarai seorang ahli tentang sebuah topik, saya harus mencari informasi awal terlebih dahulu sehingga tidak kosong saja saat menemuinya. (Baca beritanya di sini)

Cita-cita untuk langsung mewawancarai Rektor belum kesampaian sampai saat ini. Cuma bisa mengutip perkataan Beliau dari podium acara-acara publik ITB. Semoga dalam beberapa bulan terakhir ini ada kesempatan!

Kesempatan untuk mewawancarai TOKOH IDOLA!

Kemeja hitam Kantor Berita ITB-lah yang menghantarkan saya menemui salah satu tokoh yang saya kagumi sedari tahun 2004, Bapak SBY!

Tepat satu hari setelah saya berusia 21 tahun, yaitu 25 Januari 2016, Bapak SBY dianugerahi gelar Doktor Kehormatan oleh ITB. Saya menyaksikan prosesi penobatan tersebut dari awal hingga akhir. Saya mendengarkan Beliau menyampaikan pidato ilmiahnya dengan begitu gagah. Tanpa teks, tapi sangat persis teks yang dibagikan kepada para hadirin. Mata Beliau yang tampak sayu berubah tajam ketika menatap hadirin saat berpidato. Bahasanya santun. Tuturnya pelan. Dan topik yang Beliau angkat adalah salah satu isu yang sedang saya gandrungi: pembangunan berkelanjutan.

Tentu saya tidak ingin hanya sekedar menyaksikan Beliau dari jauh. Saya ingin mewawancari Beliau langsung. Saya ikuti Beliau hingga ke lokasi makan siang. Saya tunggui Beliau berfoto dengan tamu undangan.

Hampir saja harapan itu sirna… Sampai akhirnya saya meminta saran kepada Ibu dari pihak Humas. Kata Ibu Humas, “Kamu tunggu saja, bilang kamu pers kampus.”

Alhamdulillah. Mimpi saya pun terwujud hari itu. (Berita dimuat di web ITB dan dokumentasi via Ganeca Pos).

Kesempatan untuk punya kamar Kos di kampus dan makan bergizi!

Dari sekian fasilitas yang didapat oleh reporter, favorit saya adalah sekre teradem di kampus ITB yang berada di gedung TVST lantai 2. Sekre yang kedap suara, bisa mengakses WiFi, dan kasur dengan dua bantal besarnya! Siapapun yang pernah saya ajak ke sekre Kantor Berita ITB tentunya menyetujui pernyataan saya ini. Ini adalah tempat persembunyian, tempat ngambis, dan tempat tidur terbaik di kampus!

Selain itu tentunya… Refreshment bulanan yang selalu ditunggu-tunggu! Seringnya memang tidak bulanan tetapi selalu di waktu yang tepat. Untuk perbaikan gizi dan tentunya team bonding!

Kantor Berita ITB adalah tempat pertama saya belajar bekerja secara profesional. Mulai dari reporter, menjadi editor (English News), kemudian menjadi pemimpin redaksi. Saya bersyukur kepada Allah atas segala kesempatan untuk belajar dan mengeksplor diri bersama tim.

Memang, tanggung jawab-lah yang mendewasakan kita. Kepercayaan-lah yang membuat kita bisa terus berani untuk belajar. Untuk semua hal yang menambah warna hidup saya sebagai mahasiswa, saya ucapkan syukur dan terima kasih untuk rekan-rekan tim reporter, narasumber yang pernah saya wawancarai, panitia acara yang mengundang kami, serta seluruh pihak yang mendukung Kantor Berita ITB!

 

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *