Ada hari-hari untuk merasakan sepi. Bukan karena baru saja ditinggalkan, tetapi kembali mengingat bahwa ada yang telah meninggalkanmu namun tetap tinggal di dalam dirimu. Kau terus tumbuh bersamanya…

Inyiak (kakek) dan Nenek adalah dua sosok yang telah membentuk saya sampai saat ini. Walau kebersamaan kami tidak sampai hari ini, tetapi masa kecil saya bersama mereka masih membekas di memori. Inyiak meninggalkan kami saat saya duduk di kelas 2 SMP sedangkan nenek saat saya kelas 3 SMA.

Inyiak dan Nenek adalah guru sekaligus teman bermain. Porsinya berbeda, Inyiak mungkin lebih sering jadi teman bermain, sedangkan Nenek lebih sering menjadi sosok guru bagi saya. Inyiak dengan watak jenakanya, sedangkan Nenek dengan sosoknya yang penyayang.

Inyiak dan Nenek yang saya ceritakan ini adalah kedua orang tua Mama. Saya sendiri adalah cucu ke-20 bagi mereka. Maklum, Mama anak terakhir. Kalau dipikir-pikir, mungkin Inyiak dan Nenek sudah patut bosan menimang cucu saat kelahiran saya. Tapi Alhamdulillah, mereka di masa tuanya banyak menghabiskan waktu di rumah kami sehingga saya punya banyak memori bersama mereka.

Mari saya ceritakan Inyiak terlebih dahulu.

Inyiak dulu semasa mudanya bekerja di Maninjau, di Kantor Urusan Agama. Tapi yang menarik bagi saya waktu kecil dulu sosok Inyiak sebagai seorang veteran. Di masa perjuangan merebut kemerdekaan RI, Inyiak termasuk rakyat turut serta dalam peperangan. Saya selalu suka ketika Inyiak mengenakan kemeja batik kebanggaannya yang merupakan seragam veteran, menghadiri upacara 17 Agustus di Bukittinggi.

Saya sering mengganggu Inyiak ketika Almarhum selesai sholat. Saat Almarhum telah selesai berdoa, saya duduk di pangkuannya atau berbaring di sajadah dengan meletakkan kepala saya di pahanya. Di saat itu, saya seringkali meminta Inyiak mereka ulang kejadian-kejadian heroik yang telah Almarhum alami.

Yang masih saya ingat adalah bahwa Inyiak saya termasuk rakyat Bukittinggi yang berjuang menegakkan bendera Merah Putih di Jam Gadang yang berada di jantung kota. Dulu waktu kecil, saya membayangkan betapa gagahnya Inyiak saya melawan tentara-tentara Belanda hingga bisa menembus barisan mereka.

Inyiak bisa Bahasa Belanda sedikit-sedikit. Saya lupa kata-kata yang sering Inyiak saya ucapkan persisnya. Yang saya ingat, saya selalu kagum ketika Inyiak mengucapkan kata-kata aneh itu. Saya pun berpikir bahwa menguasai bahasa orang Barat itu sangat keren.

Tidak hanya cerita Beliau saat berjuang untuk Indonesia, saya juga suka mendengarkan cerita-cerita jenaka Beliau. Favorit saya adalah Kancil dan Buaya. Kisah Kancil yang ingin menyeberang sungai tetapi ada Buaya yang menunggu untuk memakannya. Berkat kecerdikan Kancil, Kancil meminta Buaya untuk memanggil teman-temannya dan mengantri dari tepian sungai ke tepian seberangnya. Buaya-Buaya yang berpikir akan segera mendapat giliran untuk memakan Kancil pun tercengang ketika Kancil dengan lincahnya melompati mereka satu per satu hingga kemudian berhasil mencapai seberang sungai. Buaya pun tidak jadi mendapat makan hari itu.

Cerdik. Dari dulu Inyiak mengajarkan saya agar Cerdik. Lewat sulap-sulapnya yang dulu memukau saya, lewat keterampilannya memperbaiki barang-barang rusak di rumah, dan lewat cerita jenaka sesederhana Kancil dan Buaya itu.

Inyiak-lah yang mengajarkan saya mengendarai sepeda. Inyiak akan menemani saya keluar rumah di sore hari. Almarhum senang jalan sore sambil mengawasi saya bermain sepeda. Suatu ketika, saya belajar mengendari sepeda tanpa roda bantu. Oleng, sepeda masuk parit hingga kepala saya membentur pagar tetangga. Saat itu Inyiak langsung mengejar dan membantu saya bangkit.

“Nah, kalau jatuh gini tanda udah besar. Gapapa gapapa, ga nangis ya..”

Kira-kira begitulah Inyiak menghibur sambil menatah saya kembali ke rumah.

Inyiak seringkali meminta tolong saya untuk membeli sesuatu ke toko dekat rumah. Dengan senang hati akan saya bantu. Waktu itu saya polos saja, kalau disuruh beli sesuatu, ya saya beli itu saja, walau masih ada kembalian. Inyiak-lah yang seringkali memuji saya, “Mega ini memang baik, ga banyak maunya ya. Disuruh beli itu, dia beli itu saja.” Sampai sekarang saya menganggap itu pujian dan kriteria Inyiak akan “anak baik”. Sampai sekarang saya berpikir, ya anak baik itu tidak boleh banyak mau dan banyak minta.

Kalau Nenek, Beliau yang mengajarkan banyak hal kepada saya terutama dalam hal agama. Nenek yang mengajarkan saya membaca iqro’ (Mama juga, tapi Nenek yang sering). Nenek yang selalu semangat mengantarkan saya ke bis antar-jemput waktu TK. Pernah suatu hari saya sangat malas bangun pagi dan bersiap untuk berangkat sekolah, saya pun bermalas-malasan dan tidak mau disuapi makan. Akhirnya bis pun datang ketika saya belum siap. Mama pun bilang ke supir bis agar saya ditinggal saja. Saya masih ingat rawut muka sedih Nenek saat itu. Setelah itu, saya bertekad tidak mengulangi sikap saya itu lagi.

Nenek yang mengajak saya ke Mesjid kemudian mendaftarkan saya mengaji di TPA. Setelah saya terdaftar sebagai murid di TPA, saya pun harus menghadiri kelas setiap selesai sholat maghrib hingga sholat isya. Dengan Nenek-lah saya berangkat ke Mesjid dan pulang. Nenek selalu menunggu saya selesai mengaji di barisan perempuan. Karena Nenek jalannya pelan, saya pun bisa menikmati pemandangan langit malam dengan cukup puas.

Di TPA saya itu, ada program Didikan Shubuh yang diadakan tiap Minggu pagi. Nenek-lah yang membangunkan saya kemudian bersama dengan Beliau berangkat ke Mesjid. Didikan Shubuh itu agenda setelah sholat shubuh di mana anak-anak diminta tampil untuk membawakan wawasan agama mereka di depan teman-teman yang lainnya, seperti bacaan sholat, hafalan ayat, dan mengaji. Nah, anak-anak membawakan ini di depan mik sehingga tersiar ke luar Mesjid. Saya akan sangat senang kalau orang-orang di rumah tahu saya tampil membawakan apa pagi itu, tandanya mereka memperhatikan Didikan Shubuh dan menunggu giliran saya.

Ketika kelas 4 SD, saya tiba-tiba bosan dengan pelajaran di tempat ngaji. Saya pun tidak mau ke TPA lagi. Mama kemudian menyiapkan guru privat yang datang langsung ke rumah untuk mengajarkan saya membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.

Ketika saya tumbuh jadi remaja, saya jadi sangat senang jika saat ikut sholat berjamaah di Mesjid, saya sudah bisa berdiri di sebelah Nenek. Biasanya di Mesjid di dekat rumah saya itu, anak-anak disuruh membuat saf sendiri di belakang orang dewasa atau berdiri di ujung saf. Bisa berdiri di sebelah Nenek langsung, membuat saya semakin pede dengan bacaan sholat saya dan harus khusyuk agar tidak membuat cacat saf.

Nenek selalu senang dengan pencapaian-pencapaian saya di sekolah. Nenek tidak banyak puji, seringkali hanya memeluk lalu mencium pipi dan kening saya sambil berbisik, “Santiang cucu Den – Pintar cucuku.” Ucapan itulah yang membuat saya bahagia, bisa membuat Almarhumah bahagia.

Nenek adalah teman tidur saya sampai saya SMA. Sejak kecil, Nenek suka mengelus-elus kepala saya ketika tidur. Mungkin karena itulah, sampai sekarang saya sangat suka jika kepala saya dielus lembut oleh siapa saja. Waktu saya SMA, Nenek sudah tidak bisa jalan, menghabiskan hari-harinya di tempat tidur saja. Karena Nenek harus dimandikan dan kegiatan lain harus dibantu termasuk makan, Nenek pun dibaringkan di kasur single sehingga saya tidak tidur tepat di sebelah Nenek lagi.

Sejak Nenek hanya bisa berbaring begitu, hal yang saya lakukan hingga akhirnya terlelap adalah memperhatikan kembang-kempis perut nenek, memastikan bahwa Nenek hanya sedang tertidur lelap dalam heningnya.

Kemudian, 1 tahun saya sempat meninggalkan rumah untuk berangkat program pertukaran pelajar. Selama itu pula Nenek menyimpan foto saya di samping bantalnya. Saya sangat senang mendengar kabar itu dari orang tua. Alhamdulillah Nenek baik-baik saja dan kabar itu membuat saya berpikir nenek tidak akan pernah melupakan saya.

1 tahun pun berlalu dan mustahil tidak ada yang berubah. Ketika saya pulang, saya memeluk Nenek erat. Menyaksikan bahwa foto saya benar berada di sampingnya, saya pun tahu mama tidak berbohong. Saya elus pipi nenek yang basah karena air matanya. Hari itu, hati saya teriris rasanya menyaksikan Nenek sudah tidak jelas lagi bicaranya. Almarhumah hanya bisa membuka tutup mulutnya tanpa suara, saya artikan itu sebagai caranya memanggil Mega berkali-kali.

Dua orang itulah yang senantiasa saya rindukan ketika proses pendewasaan mencapai titik lelah. Dalam perjuangan meraih sebuah pencapaian, saya bayangkan mereka menyaksikannya.

Siapa yang tidak ingin rasanya kembali mengulang masa kanak-kanak ketika dirinya dimanja, disayang, dan dibelai lembut agar bisa tertidur?

Inyiak dan Nenek membuat masa kanak-kanak saya begitu istimewa untuk dikenang. Pendidikan dan kasih sayang adalah hal utama yang membuat saya tumbuh hingga sekarang. Dari situlah saya temukan mereka di dalam diri saya.

Inyiak, maafkan Ega yang sering teriak-teriak agar Inyiak bisa mendengar Ega..

Nenek, maafkan Ega yang sering bertahan di ruang belajar dan tidak kembali ke kamar sebelum nenek memanggil-manggil mencari Ega..

Ah, apalah lagi gunanya menyatakan ini. Semoga kita berkumpul lagi ya Nyiak, Nek, di surga Allah bersama keluarga besar kita semua…

Hari ini cucu Inyiak dan Nenek sudah 22 tahun.

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *