#1

Setipis bulan sabit malam ini
Jarak antara menunggu dan bertemu

Orang bilang yang mengawali adalah sayang,
nyatanya adalah keyakinan

Setipis garis batas gelap dan terang di ufuk tadi
Jarak antara diam dan pertanyaan

Diawali dengan diam yang tak berkabar
Ada yang ingin mengetuk namun tak bertemu daun pintu
Surut pun bisa sedari hati ingin berbalas
Namun memilih tegar untuk kembali menyusuri

Setipis lengkung sabit malam ini
Jarak antara tak mengenal yang akhirnya menemui

#2

Doa-doa entah sudah berapa sedari malam
Memeluknya hanya bisa lewat ingatan yang tak lepas

Di luar jendela, langit biru cerah tak berawan
Semoga sama halnya di sana saat mereka beriring menuju

Siapa yang tak ingin di sana turut sesak sekaligus menghirup bahagia?
Hari besar ini semoga ditemani hangat dan angin yang melegakan

Ini awal yang kesekian kalinya,
aku yakin ragu sudah berakhir

#3

Bahagia itu di mana-mana
Terlarut dalam tangis, erat dalam pelukan, tergantung di dinding rumah, dan juga menjadi air di mukanya hari itu

Sekali itu aku lihat cinta menjadi cahaya yang menjadikan hangat rumah yang dingin
Bukan hanya dua insan yang menyatu, tetapi dua keluarga yang bertemu

Tipis saja batas antara kesendirian dan keyakinan untuk menjadi sepasang
Namun berlari pun takkan sampai, hanya kerelaan dan kesiapan yang saling berjabat tangan

Doa tak henti,
tentang dua insan
semoga selalu menjalani yang diridhoi-Nya lalu selalu bergelimang rahmat-Nya

Mega Liani Putri, 2016

Puisi yang saya tuliskan selama menyaksikan perjalanan pertemuan Kak Lani dan Uda Zakiy

Berakhir indah dalam ijab kabul 23 Desember 2016

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *