Dalam struktur kurikulum Teknik Lingkungan ITB, mata kuliah di tingkat akhir adalah mata kuliah esensial yang akan membentuk kami agar pantas menjadi seorang engineer. Pada tingkat dua kami masih belajar sains dasar yang diperlukan dalam memahami bidang teknik lingkungan, tingkat tiga kami belajar proses fisika, kimia, maupun biologi sebagai chore dari upaya rekayasa lingkungan. Maka, pada semester tujuh lalu kami mempelajari lebih dalam tentang desain (menggambar teknik infrastruktur pendukung pengelolaan lingkungan).

Hanya tiga mata kuliah wajib yang harus saya tempuh semester lalu: Desain Teknik Lingkungan I (4 SKS), Desain Teknik Lingkungan II (4 SKS), dan Manajemen Teknik Lingkungan (3 SKS).

Desain Teknik Lingkungan I mencakup rekayasa infrastruktur pengolahan air minum dan air limbah domestik. Sebelum UTS, di kelas saya mempelajari desain bangunan instalasi pengolahan air minum. Mulai dari intake sampai pengolahan disinfeksi (penyaluran ke rumahrumah warga sudah belajar di Teknik Penyediaan Air Minum, mata kuliah semester 5). Setelah UTS, barulah saya belajar mendesain bangunan instalasi pengolahan air limbah domestik (instalasi pengolahan air limbah industri diajarkan di mata kuliah pilihan Pengolahan Limbah Industri yang saya telah ambil pada semester 6).

Pada dasarnya unit-unit pengolahan yang dibutuhkan hampir sama. Namun, karena karakteristik air baku untuk air minum dan air limbah domestik berbeda, maka hal ini mempengaruhi kebutuhan unit jenis apa (secara fisika, kimia, atau biologi). Air limbah domestik cenderung lebih berat beban organiknya. Air limbah domestik di Indonesia biasanya efektif bila diolah dengan pengolahan biologis karena pencemar tergolong biodegradable (mudah terurai oleh mikroorganisme).

Dalam mata kuliah ini saya mendapatkan wawasan bahwa tantangan pengolahan air baku menjadi air minum dewasa ini adalah masuknya penemar detergen dan keberadaan algae (terutama di waduk) ke badan air. Detergen yang beredar sekarang mengandung banyak mikroplastik yang sulit untuk diolah. Sedangkan keberadaan algae dapat menambah beban pengolahan unit terutama di bagian unit primer (menyisihkan padatan dengan proses fisik seperti sedimentasi).

Desain Teknik Lingkungan II mencakup dua topik besar: pengolahan limbah padat dan pengendalian pencemaran udara. Beban mata kuliah ini besar karena dua topik ini diajarkan beriringan membuat saya merasa seperti mengambil dua mata kuliah, bukannya satu. Di pengolahan limbah padat kami belajar mendesain unit pengolah seperti biodigester. Sedagkan di pengendalian pencemaran udara kami belajar mendesain unit pengendali pencemaran udara seperti cyclone dan electrostatic precipitator. Saya sendiri lebih menyukai pengolahan limbah padat (karena minat saya sudah menjurus ke sini hehe).

Berbeda dengan dua mata kuliah sebelumnya, mata kuliah ini memberikan kesempatan untuk bernapas lega karena tidak ada beban tugas besar berupa gambar teknik dengan Autocad. Manajemen Teknik Lingkungan adalah mata kuliah yang cukup saya nantikan karena, seperti saya jelaskan di tulisan tentang semester 6 lalu, saya ingin melanjutkan studi bukan di bidang engineering lagi melainkan ke policy yang biasanya akan bersandingan dengan ilmu manajemen (program yang ingin saya ikuti sendiri bernama Master of Environmental Science, Policy, and Mangement). Pengajar mata kuliah ini Bu Emenda, yang pada akhirnya menjadi dosen pembimbing saya dalam pengerjaan Tugas Akhir di semester delapan (saat saya menulis ini, saya sudah melewati hari kelima semester delapan).

Seru, awalnya kami belajar manajemen dasar (belum spesifik ke proses rekayasa lingkungan) seperti manajemen organisasi hingga ekonomi teknik. Di akhir semester, kami diajarkan tentang Sistem Manajemen Lingkungan yang mengacu pada ISO 14000. Di mata kuliah ini juga ada tugas besar yang menuntut kami untuk mengupas manajemen di sebuah perusahaan/proyek yang sedang berlangsung.

Nah, saya juga mengambil dua mata kuliah pilihan. Satu adalah mata kuliah di Teknik Lingkungan dan satu lagi mata kuliah di program studi Mikrobiologi.

Aspek Teknis Daur Ulang Limbah, inilah mata kuliah pilihan yang sudah saya incar sedari lama karena tidak banyak mata kuliah pilihan yang membahas limbah padat. Walaupun, pada akhirnya saya paham bahwa pada mata kuliah ini tidak hanya membahas daur ulang limbah padat, tetapi juga limbah cair. Well, sesuai ekspektasi saya. Dan… yang mengajar mata kuliah ini adalah Bu Emenda! ((senang)) Beban mata kuliah 2 SKS saja.

Nah, kenapa saya mengambil mata kuliah di program studi Mikrobiologi? Pada awalnya, karena saya ingin melanjutkan studi tentang kebijakan, saya ingin mengambil mata kuliah di program studi Planologi, yaitu Perencanaan dan Politik. Ternyata, mata kuliah ini bentrok dengan jadwal mata kuliah wajib sehingga saya harus mencari gantinya. Nah, saya memang tertarik bidang remediasi (saya mengambil mata kuliah Teknik Remediasi semester 6 lalu). Saya tahu bahwa di Mikrobiologi ada mata kuliah yang belajar remediasi khusus dengan proses biologi, yaitu Bioremediasi. Dan ya, saya akhirnya banting setir ke kelas tersebut.

Alhamdulillah tidak menyesal sama sekali. Saya diajar oleh dosen yang sangat berpengalaman di lapangan (memang praktisi Bioremediasi), Bu Reni panggilannya. Beliau tidak hanya mengajarkan teori tetapi langsung menceritakan pengalamannya saat mengerjakan proyek bioremediasi. Saya merasa mata kuliah ini sangat berbau teknik, cukup heran mata kuliah ini diajarkan di program studi yang berbasis sains.

Pemandangan dari cerobong asap Indarung IV

Ada satu mata kuliah lagi nih yang ketinggalan, Kerja Praktik! Kerja Praktik adalah mata kuliah wajib yang tidak ada tatap muka regulernya di saat berjalannya semester 7. Tetapi, kerja praktik ini kami jalankan di libur akhir semester 6.

Cerita di balik kerja praktik ini cukup menarik. Saya dari semester 5 sudah mengincar beberapa perusahaan, seperti IPC (Indonesia Port Corporation) dan PT Timah di Bangka Belitung. Kenapa saya ingin kerja praktik di dua perusahaan tersebut? Alasannya berbeda untuk masing-masing. Saya mendapat informasi tentang IPC dari koran Kompas yang saya baca di sekre Persma suatu hari. Melihat geliat pembangunan pelabuhan di banyak daerah, membuat saya tertarik untuk kerja praktik lapangan di sana. Untuk PT Timah, keberadaannya di kepulauan Bangka Belitung yang menarik saya. Ingin melihat langsung hamparan pasir putih di sana.

Tapi ternyata Allah menunjukkan jalan lain, salah satunya menurut orang tua saya. Papa dan Mama sangat mendorong saya untuk kerja praktik di PT Semen Padang. Alasan utamanya tentu karena dekat dari rumah. Apalagi periode kerja praktik pada tahun 2016 itu jatuh pada bulan Ramadhan. Selain itu, Papa bilang bahwa dia bisa bantu untuk mengurus administrasi selagi saya masih kuliah.

Pada akhir Januari, saya tetap mengirimkan proposal ke Timah. Sebulan lamanya saya menunggu balasan dari proposal tersebut, tetapi tak kunjung ada kabar. Akhirnya ketika saya menelepon Mama Papa, mereka membuatku yakin untuk mengirimkan proposal ke Semen Padang. Tidak hanya saya sendiri, tetapi juga sahabat saya Palupi yang mengambil topik Evaluasi Pengendalian Pencemaran Udara.

Di PT Semen Padang, saya melaksanakan kerja praktik dengan topik Evaluasi Pengelolaan Limbah B3. Ini adalah salah satu hikmah memang akhirnya saya menjalani kerja praktik di PT Semen Padang. Perusahaan semen tertua di Indonesia ini ternyata adalah penghasil dan pemanfaat berbagai jenis limbah B3 sebagai alternatif bahan baku dan bahan bakar. Bahkan, 10% dari keuntungan perusahaan berasal dari pemanfaatan limbah B3 seperti copper slag, fly ash, dan crude oil contaminated soil. Saat saya kerja praktik di sana, PT Semen Padang sedang membangun pabrik baru, Indarung VI. Dengan penambahan kapasitas produksi tersebut, PT Semen Padang memprediksi keuntungan yang bisa didapat pun meningkat. Yang membuat saya takjub, urusan yang menghasilkan keuntungan sampai milyaran ini hanya diurus oleh lebih kurang 5 orang di Biro Alternative Fuel and Raw Material (AFR). Wow!

Apa hikmah lain yang sangat, sangat, sangat saya syukuri? Jadi, selama kerja praktik, saya diantar-jemput Papa. Pada hari pertama saya hanya diantar pagi-pagi. Saya pulang naik angkot dari Indarung ke rumah saya di daerah Alai Parak Kopi. Angkotnya ngebut ma sya Allah dan membuat saya mabuk sampai di rumah. Kata orang-orang di rumah sih saya pucat pasi waktu pulang. Akhirnya, Papa bilang, “Yaudah biar Papa jemput aja besok.”

Papa memang sudah pensiun. Pensiun dari Semen Padang pada tahun 2014 tepatnya. Selama di area Semen Padang, Papa seringkali membuka jendela, menyapa karyawan-karyawan yang dulu adalah rekan kerjanya. Saya takjub juga melihat Papa kenal segitu banyak orang. Kalau pengakuan Papa, Papa bilang Beliau sudah bekerja di hampir semua area pabrik.

Saya sangat senang melihat Papa bisa bertemu dengan kawan-kawan lama. Mudah-mudahan itu pun menjadi hiburan tersendiri buat Papa yang saat itu sudah lebih dari satu tahun pensiun dan menghabiskan sebagian besar waktu di rumah saja.

Yap, lagi-lagi saya diajarkan bahwa tempat yang dipilihkan Allah adalah tempat yang terbaik. Walau bukan keinginan saya, walau saya sendiri tidak pernah memimpikannya, tapi jika memang takdir Allah, akan ada kebaikan yang menunggu saya di sana.

Saya selalu diingatkan oleh salah seorang teman ketika risau memikirkan tidak jadi kerja praktik di tempat yang saya inginkan. Dia bilang, “In sya Allah Ga, ridho orang tua itu ridho-Nya Allah.”

Yap, memang benar. Alhamdulillah. Syukur hanya kepada Allah!

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

One thought on “Semester 7 #2

  1. Baru beres baca semua cerita dari semester 4-7 dan rasanya… Truly Inspiring! Cerita yang jelas dan sangat menggambarkan apa yang mungkin akan saya hadapi 2 tahun yang akan datang.

    Semangat menyelesaikan Tugas Akhirnya kak! Semoga bisa menutup kehidupan kemahasiswaannya dengan baik. Tentunya, ditunggu juga cerita semester 8-nya hehe.

    PS: mungkin cerita ini bisa jadi bahan podcast kedepannya hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *