Ada kawan yang entah mengapa selalu menjadi yang pertama yang kau cari.

Mengawali semester 7, saat baru kembali dari Padang, saya membawa cerita bahwa Kak Lani (kakak kandung saya) hendak menikah (cerita tentang mungkin akan ada di sesi yang lain hehe). Entah kenapa hati saya begitu risau dan selalu meminta teman untuk saya ceritakan perasaan yang tidak bisa saya jelaskan mengapa ada. Air mata bisa jatuh begitu saja setiap bercerita tentangnya.

Apakah sejak saat itu? Seingat saya begitu. Sejak saat itu saya suka mengajak kawan untuk sekedar makan agar bisa ada waktu untuk bercerita. Mungkin lebih kurang dua-tiga minggu awal di Bandung saya masih merasakan “sesuatu” di hati sampai akhirnya semua bisa kembali seperti biasa.

instasize_0112181152
Dari muka bangun tidur sampai muka ngantuk bareng Beps

Kawan yang saya maksud adalah mereka yang saya panggil “Beps” sejak 2015 lalu. Kawan-kawan ini yang menemani saya di kepengurusan Pers Mahasiswa periode 2015. Kesibukan kami semester lalu tentu sudah berbeda-beda karena kami berasal dari jurusan yang berbeda-beda. Organisasi tempat kami mengabdi pun sudah tidak sama. Apalagi dengan beban dan kesibukan akademik masing-masing. Namun, despite all the things, mereka adalah orang-orang yang seringkali saya tanyai, “Ada yang mau makan?”

Seringkali hanya bertemu satu-dua orang untuk makan siang atau makan malam. Alhamdulillah. Saya yang biasanya tidak masalah makan sendiri menjadi “manja”, ingin punya teman yang menemani ngobrol di waktu luang yang ada.

Ada satu hal yang membuat ngumpul bareng Beps seru: UNO! Kartu ini punya salah seorang teman, dia beli waktu magang di libur panjang akhir tahun tiga. Kalau ada dia, dia takkan lupa membawa kartu itu untuk kita mainkan selagi menunggu makanan yang dipesan datang dan terus bermain sampai akhirnya kita bosan. Seringnya sih para cowok mainnya ga fair. Komplotan. Haha ga tau sih, mungkin sayanya saja yang kalau main tetap memegang integritas (sedaaaap haha). But believe me, beating orang-orang yang bahkan udah berkomplot begitu rasanya puas banget! (kalau gini-gini jiwa kompetisinya mega keluar haha).

Saya rasa juga ada hal lain yang membuat kami ga bosan buat ngumpul: untuk rehat sejenak dari rutinitas dan beban yang sedang ditanggung. Kadang ada yang secara terang-terangan bercerita tentang ke-riweuh-an terkini, ada juga yang sekedar berucap, “Jangan bahas itu dong.” Itu saja sudah cukup membuat saya mengerti bahwa saat kami bersama, kami bisa terlepas dari beban-beban di luar sana.

Ada kawan yang memberikan kesempatan untuk belajar.

Ini semua berawal dari diskusi random bulan Agustus-September. Ada kawan yang sering ngajak diskusi. Ya, saya senang saja diajak. “Merapikan pikiran” bagi saya.

Saya yang orangnya sangat pragmatis ini (kata kawan-kawa idealis), seringkali jadi pembuat diskusi-diskusi kemahasiswaan itu hilang semangat kali ya. Beda sama mereka yang udah punya mimpi besar dan idealisme tentang kemahasiswaan ini seharusnya gimana.

Tapi untungnya, di sini saya yang belajar. Saya yang belajar bahwa memang untuk jadi pengurus dalam suatu organisasi, ga bisa berekspektasi “disadari keberadaannya”. Mereka yang mau jadi pemimpin adalah yang siap menanggung masalah-masalah “umat” dan mendahulukannya dari tanggungan pribadi.

Kawan saya ini malah yakin buat maju dalam pencalonan calon ketua kabinet KM ITB. Saya yang juga kebetulan awal Oktober udah beres ngosjur, akhirnya dimintai tolong untuk merapikan diskusi-diskusi itu dan membuat platform ide besarnnya.

Beberapa kali saya mikir ulang juga, “Why do I even care about this stuff?” Tapi bareng tim, saya belajar untuk menepis ego dan membuka indera saya untuk orang lain. Bahkan “menjadi” orang lain agar memahami.

Saya jadi sadar.. Ini adalah miniatur kepemimpinan di masyarakat. Ada peran-peran yang mungkin orang ga sadar, ga butuh secara langsung, tapi peran itu yang bikin suatu masyarakat bisa hidup damai dan seperti yang mereka inginkan tanpa ada gangguan.

Begitu pula di KM ITB. Ada peran Kabinet ini. Saya bersyukur masih ada orang yang berniat meluangkan waktunya, menyiapkan tenaganya, untuk membantu memenuhi kebutuhan kawan-kawan mahasiswa.

Orang-orang seperti mereka ada.

Dan sampai hari ini, perjalanan kawan saya ini belum selesai. Tugas tim belum berakhir.

In sya Allah, Allah pada akhirnya akan menaruh amanah di pundak yang memang sanggup menanggungnya.

Bukan kau sadar bahwa kau tidak bisa sendiri maka mencari kawan, namun dengan adanya mereka kau sadar bahwa kau tidak bisa sendiri.

Pada satu titik saya sempat merasa sepi. Saya memilih untuk bergabung dengan tim yang sebelumnya tidak saya kenal baik orang-orang di dalamnya. Tim itu adalah tim pemenangan kawan yang saya ceritakan sebelumnya. Sering kali harus kajian dan berdiskusi dengan mereka. Menghabiskan malam dengan orang-orang yang baru saya tahu namanya. Tapi saya sadar bahwa saat seperti inilah saya harus bisa beradaptasi dengan cepat karena toh proses pemilihan umum raya (pemira) ini menuntut tim bergerak cepat.

Kadang permasalahan pribadi saya belum bisa saya ceritakan kepada mereka karena saya sendiri orang yang lama untuk terbuka untuk orang lain (MBTI bilang saya introvert). Oleh karena itu, saya seringkali meminta bantuan orang-orang yang sudah saya kenal lama dalam menyelesaikan tanggung jawab di dalam tim. Saya bersyukur kehadiran kawan-kawan yang banyak memberikan masukan, bahkan ikut kajian walau tidak mau secara resmi bergabung ke dalam perkumpulan berlabel “tim sukses”.

Ada kawan-kawan yang punya tanggung jawab penting di himpunan mereka. Saya sendiri sadar saya tentunya mengganggu mereka dengan pertanyaan, “Lagi kosong ga sekarang?”

Kadang saya lebih suka berpikir sendiri. Namun, pada satu titik saya sadar bahwa berada dalam tim ini bukanlah tentang ketangguhan diri sendiri. Tapi dengan adanya kawan-kawan ini, kami bisa menyelesaikan tanggung jawab bersama.

Tidak jarang saya kesal dengan pertanyaan terkait progres. Namun pada akhirnya saya sadar bahwa dengan begitu mereka tahu bagian mana yang bisa mereka bantu atau carikan bantuan.

Kawan-kawan itu selalu ada. Dengan pertanyaan seperti “Ega udah pulang?” “Tadi malam kajian?” “Kemarin gimana hearingnya?”

Saya yang dulu adalah orang yang tidak suka ditanyai hal-hal seperti itu. Yang saya lakukan, yang saya jalani, yasudah biarkan saja. Saya tidak suka bercerita. Namun, perjalanan semester lalu malah membuat pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang saya nanti.

Ada kawan yang dengan mereka kau bisa buka semua yang harus kau tutupi dari yang lainnya.

Ada hal-hal yang tak saya biarkan terbuka untuk siapa saja. Seperti emosi. Saya bersyukur kepada kawan yang tak keberatan untuk saya tunjukkan wajah amarah, tangisan, dan teriakan saya yang jelas saja adalah wajah terburuk saya. Namun sebagai manusia biasa, ada saatnya ledakan itu tak bisa saya tahan lagi.

Di meja luar Labtek Biru.

Terima kasih kawan… memang hanya kalian yang akan mengerti pedihnya hati waktu itu.

Dengan mereka, saya bisa membicarakan apa saja. Mereka mengerti apa saja. Mereka tahu apa saja. Ke manalah saya bisa mencari mereka yang mau datang untuk mendengarkan saya meledak sejadi-jadinya? Yang diam mendengarkan semua hal yang terucap. Malam itu, saya kembali yakin, yang kau cari kadang bukanlah apa-apa melainkan hadirnya kawan di sampingmu.

Ada kawan yang repot memastikan kau baik-baik saja.

Mungkin sampai sekarang kawan saya ini tidak ingin saya tahu bahwa dia memastikan semua akan baik-baik saja. Mungkin memang tak terlihat adalah tempat nyamannya. Namun kebaikan itu adalah hal yang bercahaya, kau harus tahu, kawan.

Karena dia memilih untuk bersembunyi, ada terima kasih yang terus tersimpan. Andai kawan ini membaca tulisan saya sekarang, saya harap dia akhirnya paham bahwa saya bisa melewati semester 7 adalah salah satunya dengan kebaikan hatinya.

Mungkin dosa seorang kawan adalah tidak hadir saat kawannya membutuhkan sehingga kawan itu larut dalam kesusahan.

1472103836571
Wariga Sangkara di Home Tournament HMTL ITB

Itu yang saya rasakan kepada kawan-kawan sejurusan. Mereka adalah orang-orang seperjuangan yang sangat jarang saya ketahui kabarnya. Bahkan untuk kawan-kawan yang terbilang sangat akrab, saya tidak tahu bahwa mereka sedang mengalami kesulitan. Tidak jarang saya terlambat mengetahui, bahkan baru tahu setelah semua selesai.

Semester kemarin memang tanggung jawab di beberapa tempat membuat saya sudah terpuruk dalam tanggungan sendiri. Hal ini yang sangat saya sesali. Andai saya meluangkan lebih waktu untuk duduk bersama kawan-kawan sekedar bercerita dan hadir untuk mereka.

Semester 7 bukanlah semester yang ringan walau secara angka SKS yang kami tanggung kebanyakan lebih ringan dari semester-semester sebelumnya. Namun, beban itu semakin berat dengan tanggungan laporan kerja praktik, persiapan tugas akhir, dan amanah di organisasi-organisasi kemahasiswaan. Belum lagi masalah-masalah pribadi.

Andai saya lebih meluangkan waktu luang untuk mereka, bukan hanya sekedar memilih beristirahat.

Seringkali kita lupa untuk berterima kasih pada kawan yang menemani hingga akhir perjalanan.

img_20161007_223945
Kawan-kawan panitia inti Pekka 2016… Semua emosi kayaknya keluar deh selama kepanitiaan ini udah!

Kepanitiaan PEKKA 2016, osjurnya HMTL ITB, mengingatkan saya kembali untuk belajar menyelesaikan amanah bersama, tidak hanya amanah diri sendiri. Bersama orang-orang luar biasa di dalam kepanitiaan, kami melewati tahap persiapan hingga eksekusi bersama.

Dengan tekanan dan proses yang menuntut durabilitas tinggi, saya paham mudah bagi kawan-kawan saya ini lelah secara fisik maupun emosional. Di sinilah saya kemudian diuji bagaimana bisa mempertahankan tim ini untuk terus menyelesaikan apa yang harus diselesaikan hingga HMTL menerima anggota baru dari TL angkatan 2015.

Selama kepanitiaan saya menghadapi berbagai karakter. Kalau dibandingkan dengan karakter para pengurus Pers Mahasiswa, kawan-kawan di kepanitiaan yang lebih-kurang berjalan enam bulan ini jauh lebih berwarna. Apalagi sebagian besar adalah junior, angkatan 2014. Perbedaan persepsi tentang kaderisasi karena proses yang kami jalani berbeda menjadi tantangan yang luar biasa.

Beruntunglah di himpunan saya ini diskusi bukanlah tempat untuk sekedar berdebat, namun untuk bermusyawarah. Saya yang bersyukur bahwa banyak orang telah bertahan selama enam bulan itu untuk menjadikan Pekka 2016. Dengan berbagai kekurangan, saya bersyukur mereka bertahan sampai tahap akhir.

Kata-kata dari seorang kawan tentulah tidak akan pernah saya lupakan…

“Gue bertahan ya karna Mega temen gue. Karena Mega minta tolong sama gue.”

Pelajaran tentang pengorbanan tidak hanya saya dapatkan dari pengalaman pribadi. Seorang kawan ada yang telah mengorbankan banyak hal untuk kawannya. Ia pilih bergabung di organisasi yang sebelumya tak pernah ia bayangkan. Karena pinta dari kawannya itu untuk membantu menjalankan amanah, akhirnya ia turut serta bergelimang masalah di tempat itu.

Saya melihat bagaimana kawan saya ini berusaha selalu ada untuk memang memenuhi pinta kawannya pada awal itu. Ia luangkan banyak waktunya, tenaganya untuk hal-hal baru dan bahkan tidak dia sukai. Saya yakin dia pun mendapatkan banyak hal baik dari hal-hal yang dia ikuti, saya lihat dia mendapatkan banyak kawan baru juga. Saya pun salut dengan dia yang masih bisa mempertahankan IP dengan sangat baik semester lalu.

Melihatnya… saya sadar bahwa seringkali seseorang tidak sadar banyaknya hal yang dikorbankan kawan yang mendampinginya selama ini. Bahwa ada kawan yang terus memberi tanpa harus kembali.

Ingatkah kita untuk bersyukur kepada Allah telah menghadirkan orang-orang itu di sekitar kita? Ingatkah kita untuk menyelipkan mereka di antara doa-doa kita? Ingatkah kita untuk sekedar mengucap terima kasih kepadanya? Ingatkah kita untuk berucap, istirahatlah…

Terima kasih, kawan-kawan. Dan maaf untuk semua kekurangan ega sebagai kawan. Maaf sudah banyak menyusahkan, banyak melupakan, banyak meminta daripada memberi.

Kawan adalah cahaya dari Allah yang semakin terang seiring gelapnya perjalanan yang hendak ditempuh.

Izinkan saya menuliskan, “Saya sayang kalian”, walau seringkali saya gagal mengekspresikannya.

(to be continued)

Mega

Muslim – Indonesian – Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *