29 Desember 2013

IMG_20131222_085804Tidak terasa, sudah satu semester saya lewati sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung, tepatnya di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan.

Apa sih kerennya kuliah di ITB? Apa itu Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan?

Saya awalnya bercita-cita masuk ITB.. sederhana saja. Saya ingin kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia. Lalu, setelah mengenal kemampuan diri, saya menetapkan cita-cita jadi engineer. Dulu sempat galau sih mau milih bidang engineering apa. Akhirnya, saya mantapkan di environmental engineering; teknik lingkungan. Buat kalian yang mengikuti cerita saya waktu ikut exchange, mungkin bisa mengerti kenapa saya bisa begitu jatuh hati sama masalah lingkungan. Ya, kelas Environmental Science di Pennridge High School yang membuat saya ingin berkarir di bidang ini. Selain itu, saya juga punya cita-cita sekolah atau kerja di Jerman. Saya pikir dengan kuliah di ITB, jalan saya ke sana in sya Allah dimudahkan.

Lewat jalur undangan (SNMPTN 2013), saya diterima di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL). Alhamdulillah.. Allah memudahkan segalanya. Berbeda dengan teman-teman di universitas lainnya, saya belum punya jurusan. Saya bersama empat ratusan teman-teman FTSL lainnya belum duduk di program studi tertentu. Kami harus menjalani Tahap Persiapan Bersama (TPB) di tahun pertama ini. Ada sekitar 10% dari kami memang yang sudah mengikuti peminatan, jadi mereka sudah punya jurusan, yaitu dua prodi baru; Rekayasa Infrastruktur Lingkungan dan Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air. Selain dua itu, FTSL memiliki tiga jurusan lainnya, yaitu Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, dan Teknik Kelautan.

TPB

Selama masa TPB, kami masih mempelajari mata kuliah dasar. Semester satu ini, saya punya 6 kelas (17 SKS) yaitu Matematika I A, Fisika I A Kimia I A, Pengantar Rekayasa dan Desain I, Pengenalan Informasi dan Teknologi B, dan Bahasa Inggris. Sedangkan semester dua (19 SKS), saya akan mempelajari Matematika II A, Fisika II A, Kimia II A, Pengantar Rekaya dan Desain II, Gambar Teknik, Olahraga, dan Tata Tulis Karya Ilmiah.

Banyak yang bilang kalau masa TPB itu “Tahap Paling Bahagia”. Ada juga yang bilang “Tahap Pembantaian Bersama”. Ya… Kalau menurut saya, TPB itu masanya saya beradaptasi dengan sistem perkuliahan melalui materi kuliah yang gak langsung seberat materi di jurusan entar. Mau dibantai atau mau bahagia, ya tergantung pilihan dan seberapa besar usaha. Pilihan? Ya, kita bisa milih. Mau sukses sejak di TPB atau mau “selow” dulu di masa ini. Usaha? Seperti konsep yang kita pelajari di Fisika.. Usaha itu bergantung sama gaya dan perpindahan. Gini, untuk lulus TPB, setiap mahasiswa mesti bisa melakukan usaha dengan jumlah tertentu. Ada orang yang emang udah pinter dari sononya dan orang-orang yang konsep berpikir saintisnya udah mantap sejak SMA. Alhasil, mereka yang memiliki gaya yang besar, gak perlu susah-susah “berpindah” jauh untuk melakukan usaha tertentu. Sedangkan untuk orang yang gaya mereka miliki lebih kecil, maka harus melakukan “perpindahan” yang cukup jauh untuk bisa melakukan usaha yang sama besarnya dengan mereka yang jenius itu. (baca: “gaya” bisa diartikan sebagai potensi yang udah dimiliki di dalam diri masing-masing mahasiswa, sedangkan “perpindahan” itu bisa diartikan sebagai merubah cara belajar, mengurangi jam tidur, ambis di perpus, dan berbagai peralihan lainnya dari style belajar anak SMA dulu)

AKTIVITAS

IMG_20131110_122239Saya tidak ingin melewati masa TPB hanya untuk sukses di akademik. Saya juga ingin memulai aktivitas di organisasi kampus sedini mungkin. Mengenali kemampuan dan minat saya, saya pun memilih untuk aktif di media kampus yaitu unit Pers Mahasiswa ITB. Selain itu, saya juga aktif di unit Masjid Salman ITB, yaitu Karisma (Keluarga Remaja Islam Salman) ITB. Saya juga sempat magang di Kantor Berita, bagian dari Unit Sumber Daya Informasi ITB.

Pers Mahasiswa (Persma) ITB adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergerak di bidang media. Persma memiliki beberapa produk seperti koran Ganeca Pos, twitter @ganecapos, dan website. Di Persma, saya bertemu banyak orang yang “setipe” dengan saya. Saya merasa sangat nyaman berada di unit ini. Setelah melewati masa kaderisasi, saya bersama 27 orang lainnya dilantik sebagai kerabat kerja Persma bulan lalu. Disini, saya belajar banyak tentang bagaimana menjadi jurnalis yang handal di lingkungan kampus. Saya pikir memang inilah tempat yang tepat bagi saya untuk belajar sekaligus berkarya dalam bidang jurnalistik.

Unit lain yang saya ikuti adalah Karisma ITB. Jujur, sejak pertama kali saya ke Masjid Salman ITB, saya jatuh cinta dengan masjid ini. Masjid ini tak pernah sepi, selalu saja ada kegiatan yang dilaksanakan di masjid ini, baik itu melibatkan mahasiswa ataupun masyarakat umum dari semua umur. Tak pernah saya menemukan masjid yang sehidup ini sebelumnya. Ada banyak unit yang diwadahi oleh Salman. Ada PAS (unit yang membina anak-anak hingga usia kelas 6 SD), Majelis Ta’lim (unit pendidikan Al-Qur’an untuk mahasiswa), Karisma (unit yang membina remaja yang duduk di bangku SMP dan SMA), Aksara (unit kegiatan mahasiswa di bidang karya sastra), dan Gamais (Keluarga Mahasiswa Islam) ITB. Karena sejak SMA saya sangat menikmati aktivitas di Rohis, saya tertarik mengikuti Karisma ITB yang memang salah satu kegiatannya adalah membina Rohis di Kota Bandung. Alhamdulillah, bulan November lalu saya juga sudah resmi menjadi Pembina di Karisma ITB.  Alasan lain yang membuat saya mantap mengikuti Karisma adalah banyaknya mahasiswa dari kampus lain yang ikut menjadi Pembina. Saya jadi punya kesempatan untuk menjalin silaturahim dengan teman-teman dari kampus lain di kota Bandung ini. jadi pergaulan saya tidak hanya sebatas Ganeca saja hehe

Nah, selanjutnya adalah aktivitas magang saya di Kantor Berita. Banyak teman-teman saya yang bingung membedakan kegiatan Persma dengan Kantor Berita. Memang sih, dua-duanya berbau jurnalistik, tapi sebenarnya mereka sangat berbeda. Persma adalah unit yang diasung oleh mahasiswa sendiri. Persma menjadi media kampus yang independen dan fokus isu-isu dalam kampus. Sedangkan, Kantor Berita berada di bawah naungan Rektorat ITB secara langsung. Redaksi Kantor Berita diisi oleh mahasiswa-mahasiswa ITB yang telah lulus seleksi terlebih dahulu. Mahasiswa tersebut bekerja secara profesional dan digaji secara profesional pula. Redaksi bertanggung jawab terhadap halaman berita dari website itb.ac.id.

Walaupun sama-sama jurnalistik, tapi fokus dari Persma dan Kantor Berita berbeda. Oleh karena itu, saya ingin tetap terus lanjut di kedua tempat ini. Masa magang di Kantor Berita berakhir Desember ini. Saya juga sudah melewati seleksi akhir, semoga saya bisa diterima menjadi salah satu tim redaksi.

Begitulah kesibukan semester satu saya. Akademik tetap prioritas pertama saya. Saya ingin semester satu ini menjadi awal yang baik dalam catatan akademik saya. Saya juga ingin memberi kabar baik kepada kedua orang tua saya, bagaimanapun bagi mereka, akademik adalah hal yang paling diperhatikan, bukan? Saya tidak ingin mengecewakan mereka.

KULIAH DAN DOSEN

Semakin sibuk, saya semakin terpacu untuk mendapatkan nilai yang maksimal di kelas. Sebelumnya, saya tidak bisa bangun tengah malam untuk belajar. Sekarang malah jadi kebiasaan. Kalau sudah capek, jam 9 saya pun langsung tidur, nanti tengah malam bangun. Saya, seperti biasa, selalu berusaha fokus di kelas, di saat dosen menerangkan. Disitulah saya berusaha menyerap ilmu sebanyak mungkin. Apalagi dosen di ITB keren-keren, rugi rasanya melewatkan tutur ilmu dari mereka. Dosen-dosen di ITB sepertinya sepakat kalau masa TPB ini adalah masa untuk membentuk pola pikir “mahasiswa”. Memang, saya sering merasa disentil, “disentrum”, dan disadarkan oleh wawasan baru yang disampaikan oleh dosen-dosen kami. Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan berguru kepada orang-orang yang luar biasa.

Pak Koko, dosen Matematika, selalu menyampaikan bahwa mata kuliah Matematika tujuannya adalah untuk melatih berpikir. Intinya sih, kehidupan engineer gak akan jauh-jauh dengan masalah matematis. Jadi, engineer harus mahir bermatematika. Pak Koko yang juga seorang penulis buku ini sering memotivasi kami untuk jadi sarjana yang tidak membebani bangsa. Selama kuliah, beliau tidak menuntut macam-macam. Ngasih tugas pun gak pernah. Beliau sering menggambarkan solusi suatu masalah lewat grafik. Beliau percaya, untuk hasil yang maksimal di akhir semester, maka usaha kami dalam belajar tidak perlu dari awal digenjot habis-habisan. Ntar capek pas udah di dekat masa ujian, katanya. Menuru beliau, semangat belajar mesti digenjot sejak dua minggu sebelum ujian saja. Yang sebelum-sebelumnya santai, tapi ngerti. Jangan langsung energinya dikuras habis di awal. Seharusnya di masa mendekati ujian itu, energi mahasiswa bisa maksimal.

Lain lagi Bu Enny, dosen Kimia. Bu Enny sering mengingatkan kami tentang komitmen 3 SKS di mata kuliah ini. Bu Enny selalu mengingatkan untuk membaca buku karangan Brady. Mungkin karena saya gak komit, nilai saya gak begitu bagus di kimia hehe. Ya, lumayan lah. Maaf Bu… Tapi, Bu Enny adalah salah satu dosen terkeren yang ada mungkin di ITB. Bu Enny selalu bisa mengaitkan materi kuliah dengan fenomena sehari-hari. Bu Enny juga sering membahas isu dan perkembangan teknologi terkini. Beliau menginspirasi saya untuk jadi up-to-date dan perhatian dengan lingkungan sekitar.

IMG_20131109_165833Kelas yang paling saya nikmati di semester satu ini adalah Pengantar Rekayasa dan Desain (PRD). Mungkin saya sangat menikmatinya karena kelas inilah yang menjurus kepada keilmuwan engineering, tidak hanya basic science. Mata kuliah ini lebih membahas tentang aplikasi dari basic science di bidang engineering, khususnya bidang FTSL (sipil dan lingkungan). Pak Agus adalah dosen yang mengajar kelas saya semester ini. Saya merasa sangat beruntung diajar oleh Pak Agus yang aslinya adalah dosen teknik lingkungan. Banyak sekali wawasan baru yang saya dapatkan di kelas ini. Kami diajarkan tentang prinsip-prinsip rekayasa dan desain yang mana tidak pernah kami dapatkan sebelumnya di bangku SMA. Pak Agus membuka kelas ini dengan kata-kata yang sangat menginspirasi saya. Pak Agus menyampaikan bahwa lulusan teknik sipil dan lingkungan lah yang pekerjaannya sangat dekat dengan masyarakat. Bidang teknik sipil dan lingkungan memang merekayasa infrastruktur yang berguna bagi kehidupan masyarakat yang lebih mapan dan ramah lingkungan. Saat itulah, saya bersyukur karena Allah memilihkan jalan ini untuk menjadi karir saya di masa depan in sya Allah, karena memang saya merasa inilah hal yang saya sukai, “berinteraksi langsung dengan masyarakat”. Tidak hanya duduk di kantor atau berkutat dengan mesin-mesin yang tak bisa bicara.

PERGAULAN

Merantau ke Bandung, saya mendapatkan kesempatan untuk mengenal berbagai suku bangsa dengan berbagai karakter. Alhamdulillah, disini pun ikatan keluarga muslimnya sangat erat. Saya pun merasa sangat beruntung bisa mengenal orang-orang keren, calon pemimpin bangsa. Ada saja pelajaran yang saya dapatkan dari setiap pribadi yang saya temui. Alhamdulillah, inilah hikmah dari merantau; bisa bertemu orang-orang yang luar biasa.

IMG_20131117_233521Banyak yang berpesan, hati-hati di Bandung karena pergaulannya sudah bebas. Ya, memang betul. Bagi kami orang-orang yang tumbuh di kampung halaman dengan adat masih terjaga, Bandung memang terasa sangat “bebas” aturan adat, terutama masalah pergaulan. Kalau saya sendiri, saya memilih untuk tetap memegang prinsip-prinsip yang sudah diajarkan oleh orang tua saya. Prinsip itu yang jadi landasan di manapun saya berada. Silahkan mengenal dan berteman dengan siapa saja. Tapi untuk bergaul, pilihlah lingkungan yang mencerdaskan dan men-shaleh-kan, yang saling mengingatkan kepada kebaikan dan kesabaran. Itulah prinsip saya. Dan Alhamdulillah, tidak sulit menemukan lingkungan seperti itu di ITB.

——————————————-

Selalu ada banyak cerita jika kau mau membuka.

Selalu ada banyak inspirasi jika kau mau mencari.

Selalu ada banyak jalan untuk kau yang ingin menemukan.

Sekian cerita dari anak rantau yang ditulis saat sedang menikmati masa libur di kampung halaman.

Mega

Muslim - Indonesian - Loves written words

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *